Wednesday, November 7, 2012

Mengambil Pelajaran


Semasa kecil dulu, aku sering bertanya pada Ayah. “Ayah, anak yatim itu apa?” Tangan Ayah langsung mengelus kepala anak nya yang paling suka bertanya hal apapun, walaupun terkadang tak masuk akal. “Jika ayah dari seorang anak meninggal, anak itu disebut anak yatim,” sahut Ayah. “O... Berarti kalo Cici nggak punya Ayah lagi, Cici dipanggil anak yatim dong yah...” Ayah tersenyum dan langsung mencium keningku lalu pergi. :D Sejak masih kanak-kanak, aku sering mendengar kata-kata anak yatim plus yatim piatu. Hanya saja belum jelas bagiku apa makna dari semua itu dan mengapa harus ada sebutan tersebut?

Hari berganti hari, ada saja pelajaran baru yang ku dapat. Baik pelajaranku sewaktu di TPA maupun pelajaran agama disekolah. Sejak itu mulailah sedikit demi sedikit aku mulai tahu apa itu anak yatim / yatim-piatu. Tak terlalu mendalam. Hanya saja aku selalu diajarkan untuk menyantuni dan menyayangi anak yatim. Yap... Ternyata Allah telah menjelaskan dan menegaskan akan hal itu didalam Al-Qur’an.

Jujur, di kampungku tidak ada yang namanya panti asuhan. Hingga aku bersekolah ke daerah Sumatera Barat sebagai santriwati di sebuah pondok pesantren, dan saat itu pula aku baru pertama kali melihat panti asuhan *meski hanya melihat dari luar*. Semasa SMA, aku cukup aktif di kegiatan pramuka, nah kami *penggurus pramuka* minimal tiap tahunnya melaksanakan bakti sosial dan kegiatan sosial lainnya yang bisa menambah wawasan pengetahuan dan sekaligus bisa belajar dari masyarakat setempat. Saat ada kesempatan itu, aku pun tak sekedar melewatinya begitu saja. Kami waktu itu memilih  sekitar 2 panti asuhan untuk dikunjungi setelah sebelumnya mencari dana dan sumbangan untuk memberikan kado kecil-kecilan buat adik-adik disana. :)) Dari kedua panti asuhan yang kami kunjungi, banyak hal yang dapat dipelajari dan semuanya beda cerita, beda pengalaman.

Panti asuhan A
Panti asuhan ini lumayan besar. Sangat besar sekali malahan. Sewaktu masuk ke ruang informasi nya, kami disambut oleh ibu yang sangat keibuan dan murah senyum. Kami tidak bisa bertemu adik-adik disana karena tenyata siang menuju sore itu mereka sedang ada kegiatan di sekolah mereka. Mereka sekolah di satu tempat, dekat panti asuhan mereka. Yaaaah, sedih banget nggak bisa ngobrol langsung sama adik-adiknya. Tak apa lah. Selanjutnya kami diajak berkeliling panti dipandu oleh ibu pembimbing disana. Pas ngelihat kamar mereka satu per satu, rasanya hidup di asrama ponpes itu jauh lebih menyenangkan ---lalu mengapa aku sering sekali mengeluh inilah itulah -> aku tertegur---. Lalu melihat tempat makan mereka yang sangat sederhana ---aku sempat berdiskusi dengan diriku sendiri dalam hati, subhanallah aku masih belum bisa bersyukur lebih seperti yang mereka punya sekarang -> mereka punya syukur sedangkan aku penuh dengan keluh---. Setelah berkeliling asrama panti, lalu diajak ke kantor panti asuhan tersebut. Hanya “WOW” yang bisa ku ucapkan kala melihat piala-piala dan piagam penghargaan yang berjejer serta tersusun rapi pada tempatnya ---sesi ngobrol dengan diri sendiripun terjadi lagi, ya Allah aku malu pada mereka, aku musti belajar dari mereka, ku yakin pasti mereka adalah orang-orang yang gigih yang tidak selalu menunggu kasihani dari orang lain tapi mereka butuh pengakuan dari orang banyak bahwa anak yatim / anak piatu / yatim-piatu pun bisa dan berhak untuk berhasil dan sukses dunia akhirat---.

Panti asuhan B
Kali ini panti asuhannya kecil sekali. Tak seperti yang sebelumnya kami kunjungi. Pas masuk, ternyata mereka sedang istirahat karena baru pulang dari sekolah. Karena ruangan yang sempit, tampak sekali ruangan tersebut sesak dan sedikit gelap *mungkin efek sudah sore kali ya*. Mereka kaget pas kami datang dan langsung be-beres dengan baju ala kadarnya. Yap, itu yang pertama ku lihat, baju mereka terlihat sudah sangat lusuh ---onde mande, semoga aku lebih bisa mensyukuri terhadap apa yang aku punya---. Setelah berbincang-bincang tentang kegiatan mereka sehari-hari, ternyata tidak jauh berbeda dengan kehidupanku di pondok pesantren. Hanya saja aku tidak habis pikir, mereka tegar ya... :D *pingin tiru* Ada diantara mereka yang sempat bilang, “Kak, rindu Apa jo Ama ---bahasa Minang Kabau: Ayah dan Ibu---.” Hiks, sempat mau nangis waktu tu, jadi keinget Ayah sama Ibuk dirumah. Lha kalo aku, masih bisa ketemu pas liburan nanti, sedangkan mereka? :’( Trus aku sempat nanya sama salah seorang dari mereka, “Dek, disini kalo makan gimana?” Ia menjawab, “Ya, seperti biasa. Pake nasi dan lauk seadanya dengan porsi yang sudah ditentukan.” Yap... Ini dia nih pelajaran terakhir buat kita *terutama aku sendiri* agar dapat menyisihkan sedikit harta benda kita untuk membantu mereka. Bukan karena iba, tapi karena kita bangga punya mereka. Mereka adalah saudara kita. Disinilah peran kita sebagai saudara. Saling memahami, saling melangkapi, saling menyanyangi, saling berbagi, dan berbagi kebaikan :’). Mari lebih menyadarkan diri agar dapat mencintai anak yatim dengan ketulusan dan keceriaan. They need us as well.

Kita bisa belajar dimanapun dan kapanpun selagi hati ini masih berniat untuk belajar :D Belajarlah untuk menyantuni dan mencintai anak yatim agar Allah memberikan cinta-Nya untuk kita kelak. Amin...



Artikel  ini diikutsertakan pada Gaveaway:
Cinta untuk Anak Yatim

14 comments:

  1. memang sebaiknya kita melihat kebawah ya untuk selalu bersyukur

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seharusnya seperti itu bun. Tapi kadang kita lupa. Alasannnya cuma 1: Namanya juga manusia, suka lupa *including me*

      Delete
  2. kita menyantuni mereka, lalu doa terpanjatkan dari mulut mereka. bergandengan tangan dengan mereka. maka hidup kita pun menjadi damai selalu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. subhanallah mas Zach... kata-katanya merdu sekali :D terimakasih mas...

      Delete
    2. Saya kira cuma SUARA aja yang merdu. Ternyata Kata Kata juga bisa MERDU

      Delete
  3. Lembut hatimu
    Semoga tulisan ini menginspirasi lebih banyak orang tuk mencintai anak yatim

    Tercatat sebagai peserta GA Cinta untuk Anak Yatim di http://romantisan.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih kang haris... :D semoga kita bs saling mengingatkan satu sama lain...

      Delete
  4. semoga anda dapat menang kontes yah kalau ada share tak share deh mungkin blom ada share jadi ndak ngeshare dulu ah

    ReplyDelete
  5. dan setiap hal baik yang kita lakukan,entah cepat atau lambat akan diberikan ganjaran yang baik pula oleh Sang Pecipta

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju mas andi... Kan Tuhan sudah berjanji juga akan membalas apa yg hamba nya lakukan setimpal dgn apa yg diperbuat.

      Delete