Thursday, November 29, 2012

Koleksi Buku Mozaik

Aloha... Howdy my lovely pals? Still love to read? And love to write? Right? :D Semoga kita bisa menjadi manusia yang baik dari hari kehari. Amiin...

Nah, kali ini Cici mau nawarin beberapa buku terbitan/cetakan Mozaik Indie Pubisher nih, yang pastinya "recomended" banget buat dibaca pals semua... Jika ada yang berminat, silahkan hubungi Cici di Facebook/Email: cicipratama@gmail.com atau di Blog: momogeo atau readforthelife atau di Twitter: @ciciprat, atau SMS ke: +6285380112011. Be pleasure to serve all of you :D

Berikut sekilas tentang buku-buku yang bisa di order:

Anugerah diBulan Kelahiran


E-book
Dibagikan secara "GRATIS" sebagai sample buku pertama Mozaik Indie Publisher di sini...

Penulis adalah para blogger Multiply yang sudah pernah menerbitkan buku seperti: Ihwan Hariyanto (Xerografer,
GagasMedia, 2007), Lalu Abdul Fatah (peserta ACI 2011 dan Travelicious Lombok, B First 2011), Rifki Asmat Hasan (Jejak-Jejak yang Terserak, 2011), Dian Iskandar, dll.


Puasa Pertamax


Genre : Non Fiksi-Kumpulan kisah inspiratif
Tebal : 134 hlm ; 13 x 19 cm
Jenis Kertas: Book paper
Harga : Rp30.000,-

Penulis adalah para blogger Multiply yang sudah pernah menerbitkan buku seperti: Ihwan Hariyanto (Xerografer,
GagasMedia, 2007), Ivonie Zahra (Aura Biru Langit Hong Kong, 2010), dll. Penerbitan buku ini disponsori oleh Multiply, salah satu e-commerce di Indonesia.

Impian Tuk Kembali

Genre : Fiksi-Teenlit
Tebal : 102 hlm ; 13 x 19 cm
Jenis Kertas: HVS 70gr

Penulis: Nida Fadlilah Arif dan diterbitkan oleh Penerbit Sahabat Kata. Mozaik Indie Publisher hanya sebagai pencetak saja.

Rosalin’s Passion


Genre : Fiksi-Kumpulan puisi
Cover Design : Ezra Noviansyah
Tebal : 134 hlm ; 13 x 19 cm
Kertas: HVS 70gr
Harga : Rp39.000,-

Penulis: Ermet Natasuwarha Merupakan buku kedua dari penyair yang kini tinggal di Bandung.

Perempuan Berjilbab Kuning


Genre: Fiksi-Novel Islami
Desain sampul: Rifki Asmat Hasan
Tebal: 225 hlm, 13×19 cm
Kertas: HVS 70gr
Harga: Rp.43.000

Penulis: Rifki Asmat Hasan adalah seorang blogger Multiply yang sudah menerbitkan buku: Jejak-Jejak Yang Terserak.

Tren Kependudukan Sultra 1980-2010

Genre: Non Fiksi (Buku ajar kuliah)
Tebal: 119 hlm, 14x21 cm
Kertas: HVS 70gr

Penulis: Hartati Bahar, SKM, M.Kes. Beliau merupakan dosen
pengajar di Universitas Haluoleo, Kendari, jurusan Kesehatan
Masyarakat. Diterbitkan oleh Penerbit Mudhalifana, Mozaik Indie Publisher hanya sebagai pencetak saja.

Perempuan Kedua


Genre: Fiksi-Kumcer
Tebal: 120 hlm, 13×19 cm
Kertas: HVS 70gr
Harga: Rp.30.000

Penulis: Ivonie Zahra. Pernah aktif di FLP Hong Kong dan menerbitkan buku Aura Biru Langit Hong Kong.

Love Journey

Genre: Non Fiksi-Travelling
Tebal: 240 hlm, 13×19 cm
Kertas:Bookpaper

Penulis: Lalu Abdul Fatah (peserta ACI 2011 dan penulis Travelicious Lombok, B First 2011), Dee An (A Thousand Miles Journey Begin with The First Step, Leutika 2011).

Carok: Catatan Rombongan Kereta

Genre: Non Fiksi-Kisah Inspiratof
Desain sampul: Muhammad Nurul Islam
Tebal: 139 hlm, 14,8×21cm
Harga: Rp.36.000

Penulis: Ancha Anwar (blogger yang rajin menuliskan pengalamannya selama menggunakan KRL), DKK.

Pertamax Moment

Dalam tahap produksi

Penulis: Agung ‘Si Mbot’ Nugroho (Ocehan Si Mbot, GPU), DKK.

Book Junkies: Catatan Para Pecandu Buku

Dalam tahap produksi

20 Peserta Terbaik lomba Mozaik Blog Competition 2012: Arti Buku Buatku.

Monggo, silakan di order yak! Riphenote: Bagi yang beli 3 buku (sekali pembelian), bakal dapet "handmade" dari aku pribadi... Dan kalo mesannya 6 buku atau lebih, maka dibebaskan ongkir (ongkos kirim 1 kg pertama) nya selama masih di dalam negeri saja lo ya,,, :D

Jl. Terusan Mergan Raya 19 No.35 RT 04 RW 11 Malang 65147 Jawa Timur

Mozaik Indie Publisher


Mozaik Indie Publisher adalah salah satu penerbitan dan percetakan secara mandiri yang biasa dikenal dengan "Self publishing" atau "Indie publisher" dengan tagline "Berjiwa muda dan dinamis dalam berkarya." Mari bergabung dengan kami... :D

Prosedur Penerbitan Buku di Mozaik Indie Publisher:

  • Silahkan berteman dengan kami di Multiply atau gabung grup di Facebook atau follow Twitter kami.
  • Kirimkan naskah ke alamat email kami. Attach file dalam Ms. Word format RTF (Rich Text Format) diketik rapi pada kertas A4, Times New Roman 1 spasi. Jangan lupa sertakan foto, biodata penulis, alamat lengkap dan kontak yang bisa kami hubungi.
  • Kami akan  mengontak Anda dan mempersiapkan penerbitan naskah tersebut.
  • Setelah segala proses selesai, kami akan mencetak naskah tersebut
  • Kami akan membantu proses untuk penerbitan buku tersebut, mulai dari cover, editing,  proof, layout, sampai proses cetaknya.
  • Biaya untuk edit, layout dan cover sebesar Rp.450.000,- dengan rincian sebagai berikut: Biaya Edit: Rp.200.000,- | Biaya Layout: Rp.100.000,- | Biaya Cover: Rp.150.000|
  • Adapun jumlah yang akan kami cetak minimal 50 eksemplar. Jumlah ini bisa bertambah sesuai kesepakatan.
  • Pembiayaan cetak buku sepenuhnya berada di tangan penulis.
  • Jika penerbit konvensional memberi royalti hanya sebesar 7-10% kepada penulis, maka Mozaik Indie Publisher tidak memberikan royalti untuk semua penulis yang bukunya kami terbitkan. Penulis menentukan sendiri jumlah royaltinya saat menjual bukunya (royalti = keuntungan penjualan)
  • Kami akan membantu memasarkan dan mempublikasikan semaksimal mungkin buku yang telah terbit di media kami. Kontrol penjualan sepenuhnya ada pada penulis, kami hanya fasilitator.
  • Untuk cetak ulang buku yang telah diterbitkan, semua ditentukan berdasarkan jumlah yang diinginkan penulis.
  • Kami juga bisa membantu penerbitan buku Anda sesuai jumlah yang diinginkan, atau sesuai budget yang tersedia.

Oh ya, hampir lupa... Di Mozaik Indie Publisher juga menyediakan layanan POD (Print On Demand) -> tergantung pemesanan dari konsumen. Nah, kalau mau sudah punya naskah atau sudah diterbitkan, bisa juga pake jasa POD nya Mozaik. Ok? :D

So, tunggu apa lagi? Segera terbitin bukumu hanya di Mozaik Publishing!

Jika ada pertanyaan atau usulan, atau ingin konsultasi naskah, jangan segan untuk kontak kami di: | Email: cicipratama@gmail.com | HP 085380112011 | Twitter: @ciciprat | Facebook: Cici Pratama | Blog: momogeo atau readforthelife |

Kami ada buat kamu. Salam Mozaik..!!!

Lebay


Siapa sih hari gini nggak paham sama kata "LEBAY"? Sepertinya pada paham deh. Yaaa, walaupun tak terlalu ngerti sama artinya, yang penting paham sama maksudnya. (Loh, kok malah ceramah gini :p)

Beberapa waktu yang lalu, aku buka facebook. Seperti biasa. Melihat beberapa update-an status 'friends' yang  di-'show in news feed'-in di wall ku. Melirik kalau-kalau ada notifikasi baru. Menjenguk jika ada pesan-pesan penting yang harus dibaca. Ya, sama seperti orang-orang kebayakan sih kegiatan ku di FB.

Nah, hari itu juga entah kenapa aku bisa nyasar ke FB orang 'yang tak dikenal, pastinya'. Dan awalnya sempat bingung juga. Ini nama orang atau nama group atau status terbaru atau bahasa baru? Entahlah, monggo dilihat namanya:


Doa ku saat itu adalah semoga si Mbak nya mau segera menggantikan nama FB nya yang super-lebay alias alay. :D

Oh ya, sebelum alay muncul, lebay sudah merajalela terlebih dahulu. Sebenarnya mereka itu saudaraan. Sepupuan. Sekeluarga. Intinya mengandung arti "berlebihan". Aneh nya, kata ini tidak/belum ditemukan di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) jadi agak susah juga sih menjelaskan secara istilahnya, harfiah aja sudah cukup kali ya...

Nah, sempat suatu saat baca artikel tentang lebay ini. Katanya, lebay bisa menyebabkan gangguan kepribadian/jiwa. Bener atau tidak, yang namanya berlebihan kan nggak baik juga. Ya nggak? Yang sedang-sedang saja... :D

Semoga kita bisa jadi orang beriman/sederhana...
Dan tidak menjadi orang berlebihan/lebay...
Amiin...

Saturday, November 17, 2012

ILIL (Ini Lagi Ini Lagi...)

Beberapa hari yang lalu aku chatting dengan seorang adik kelas semasa sekolah dulu. Begini kira-kira percakapannya (Me: aku. X: dia):

X: Menurut kakak, perlu nggak beli sobotta???

(Rhipenote: Sobotta adalah kamus anatomi yang berisi peta tentang seluruh tubuh manusia, gunanya untuk mempelajari anggota tubuh manusia dari yang terkecil sampe yang tampak oleh mata, misalnya tentang otot-otot yang melapisi paha -> ada otot a, b, c, dst dan pastinya ini untuk membantu anak kesehatan/kedokteran dalam mempelajari dunia klinis nantinya)

Me: Perlu banget. Hehehe...

X: Rekomendasiin tempat yang murah buat belinya kak...

Me: Hm, di Sagung Setto, deket RS. Sardjito atau di Shopping.

(Sebelum dia tanya harganya, tak kasih tau langsung)

Me: Harganya sekitar 1,2juta.
X: Asli tuh kak???

Me: Iya laaah, kalo sobotta baiknya yang asli saja -> *ketahuan deh, ada pake buku b-j-k-n*

(Trus dia tanya lagi. Kali ini ntah bercanda ntah serius tapi aku tanggapi dengan candaan ngeyel dan geje)

X: Kakak ada lebih sobotta nggak? :D Bagi-bagi lah...

Me: Hahaha, dasar!

X: Miskin aku kuliah nih...

Me: Kenapa pula?

X: Beli buku macam beli hape aja mahalnya...

(Bingung tanggapin apa, eh keceplosan)

Me: Ya udah, beli hape aja sono.

Eng ing ong... Mungkin informasi yang dia perlukan sudah cukup lantas tak membalas chat terkahirku. Hm, apa ya yang mau dibahas? Ini lagi ini lagi... Hanya itu yang bisa terbisik oleh hatiku. Bukan mau bermaksud sombong atau niat jahat lainnya, cuma masih sering bingung sama orang yang bilang *secara nggak langsung ato langsung* mereka miskin lah, yang pastinya nggak seharusnya bilang gitu. Misalnya saja, we are as a student. Pasti kita butuh buku dan peralatan lainnya yang menunjang belajar kita. Caranya bagaimana? Kalo nggak pinjem, ya beli, ato melakukan usaha lainnya. Mungkin ada yang terkaget-kaget, “Masa 1 buku aja jutaan belinya?” Aku dulu juga kaget SEKALI kok. Wajar. Tapi tak serta merta sampai ngomong yang gimanaaa gituh!

Orang tua (ortu) ku pernah bilang begini, “Kalo ada kebutuhan buat penunjang belajar, bilang ayah ibuk ya...” Nah loh? Pasti orang pada bilang ke aku, “Kamu enak lah dibilangin kayak gitu, jadi nggak perlu pikir-pikir dulu sebelum minta ke ortu.” Ato bilang gini, “Wajarlah kamu bisa beli ci, kan kamu orang kaya.” Malah ada yang bilang ke aku gini, “Kenapa sih ci, kamu beli buku yang asli? Kan ada yang palsu dan harga nya jauuuuuuuh *bibirnya sampe monyong 10 senti* lebih murah!” Dan parahnya lagi sampe seperti mengejek, “Yak ampun ci *matanya sambil merem-kedip-merep-kedip-merem dan menelan ludah* buku mu banyak banget. Aku aja tak pernah beli buku/tak sebanyak gini. Emangnya kebaca ci sama kamu? Eh iya ding, kan kamu rajin baca/pinter.” Huh! Rasa mau tak gaplok itu mukanya pake highhills yang paling tajam sedunia, tapi cuma imajinasi saja sih. Lagipula ngapain juga ditanggapin. Ya nggak?

Mereka bilang aku kaya, ya alhamdulillah, kan itu berkat jerih payah ayah ibu ku buat nabung dan menyekolahkan kami. Anggap saja itu doa yang waktu itu berjejer bahkan ber-shaf-shaf malaikat yang meng-amin-i. :D Kalo dibilang aku nggak mikir-mikir sebelum minta sesuatu/buku. Ya nggak mungkin lah, emang nya aku dah bisa ngasih yang WOW buat kedua ortu ku? Orang tua berkata seperti itu justru buat aku berpikir beratus bahkan beribu kali buat minta sesuatu. Karena apa? Aku disuruh untuk berfikir dulu apakah itu penting ato tidak. Menunjang ato malah sebaliknya. Lebih mantap kan? Hehehe. Ortu seperti itu karena mereka menampakkan bahwa mereka peduli terhadap kita. Bukan malah seenaknya saja seperti tanggapan diatas.

Kalo masalah buku asli dan palsu, itukan selera masing-masing dan termasuk keputusan dari yang membiayai kita, ortu. Ya, pesan aku... Jangan lah sampai bilang gini gitu yang tak enak didengar. Berpendapat tidak apa-apa, tapi tetaplah berkata dan bersikap dengan baik. :D Dan masalah terbaca atau tidaknya, ya itu terserah yang punya dung. :p Mau baca kek. Mau nggak. Nggak usah usil mau ngurusin orang lain deh. *sebel*

Aku berani jamin, orang tua bakal penuhin apa permintaan kita yang masih masuk akal dan bermanfaat. Mereka bakal perjuangin apapun untuk kita. Lantas kenapa kita sering mengatakan miskin dan cercaan lainnya buat diri kita dan ortu? Intinya gini ajah, kalo ortu malas atau tidak menanggapi permintaan kita, coba koreksi dulu diri sendiri. Mungkin kita yang selama ini nggak pernah mikirin sulitnya orang tua mencari uang lalu suka bersi-sia dengan yang telah mereka berikan. Bagaimana orang tua bakal percaya sama kita? Toh kitanya juga yang budeg nggak ikutin kata mereka.

Trus kalo mau beli buku atau tidak. Itupun terserah yang bersangkutan. Monggo dipilih saja mana baiknya. Monggo dipikir lagi gimana enaknya. :D Everything depends on your choise. Everything on your hands. Don't judge enyone else.

Astaghfirullah hal’adziim... Maap kalo ada salah kata...

Friday, November 16, 2012

Solo Tracking

Surakarta yang lebih dikenal dengan Solo adalah suatu kota yang terletak di provinsi Jawa Tengah, Indonesia, pastinya. Memiliki luas sekitar 44 km2 dan kepadatan penduduk 13.636/km2 nya. Ehem, rame juga ya. Tapi mungkin bukan penduduk aseli nya aja. Ini mah sudah kontaminasi dari para perantau dari seluruh belahan Indonesia bahkan dunia. Mau sedikit mengulang ato belajar lagi tentang Solo -> nama Solo atau Sala merupakan nama yang dipilih oleh Sunan Pakubuwana II ketika akan mendirikan istana baru setelah perang Mataram  yang terjadi di Kartasura, sedangkan nama Surakarta sebgai nama administrasi yang mulai dipakai sejak Kasunanan didirikan sebagai kelanjutan monarki Kartasura.

Ngomong-ngomong tentang Solo, aku teringat pada lagunya pak Didi Kempot – Stasiun Balapan. Yeay, kemarin juga sempat kesana buat nyari tiket pulang ke Jogja, tapi Tuhan tidak mengizinkan untuk pulang plus pergi dengan KA. Tapi tidak apa-apa. Kan niatnya ngebolang alias nge-bonex (bonex amatiran aja sih), jadi dengan kendaraan apapun it’s okey lah ya... Kita mulai dari kendaraan nya ya *graounded on my experience and a lil’knowledge about Solo*. Berangkat ke Solo menggunakan kereta adalah hal yang sia-sia kalo kita nya nggak mau datang cepat ke stasiun untuk mengantri tiket kereta api tujuan lokal *manapun*. Karena bisa kehabisan tiket, ntar. Nah, apalagi kalo penegn naik komuter atau kereta ekonomic class. So, be on time than the official train for getting first shift. Akhirnya, berangkat dengan bus dari terminal Giwangan. Wah, ternyata dari stasiun Lempuyangan ke terminal Giwangan itu lumayan jauh juga. Walaupun *kata orang* Jogja itu kecil, tapi tetep aja bakal cape kalo mau kemana-mana, mungkin karna banyak lampu merah dan pastinya banyak belokan kali ya?

Stasiun Balapan *bagian dalamnya*... :D
Sesampai di Solo, mendaratlah di terminal Tirtodadi. Lumayan sering mampir di terminal ini waktu sering ke Surabaya dulu. Tapi kali ini bener-bener nginjakin kaki ke tanahnya. :p Oh ya, pesanku untuk yang ingin berpergian dengan kereta akonomi atau bus, monggo bawa uang receh nya ya karna bakal banyak pengamen dan manusia lainnya yang sedang mengais rejeki disana. Selain itu, biasanya kalo mau masuk ke terminal bakal dimintain tarif ruang tunggu gitu, kalo nggak salah dan pastinya butuh recehan. Nah, satu lagi! Kalo jalannya rame-rame bareng temen yang kita *pasti* bakal BSS *bayar sendiri-sendiri*, jangan terlalu banyak bawa uang besar ya! Bawa uang banyak sih boleh aja, tapi jangan besar-besar *agar kecilan dikitlah* agar memudahkan diri sendiri dan orang lain. :D

Tikat Tiket Tikut :p
Keluar dari terminal, tak jelas mau kemana. Kalo ditanyain sama orang lokal, pasti pada jawab “pasar Klewer”. Cap cus ciiiiin... Tancap gas! Sikat! Berangkat ke pasar tersebut pake angkot warna oren dengan tarif lumayan mahal *menurutku*. Pas nyampe, mampir dulu ke mesjid Ageng *kok nggak agung ya? #masihbingung* buat solat dan waktu siap solat mau ke pasar, malah hujan deras dengan sederas-derasnya diiringi petir dor dor dor... Me and third of my friends malah main tebak-tebak-an buat ngilangin suntuk di teras mesjid. Eits, hanya suara kami yang bisa melawan suara hujan ditengah keheningan orang ramai disana, #BANGGA dan #NGGAKPUNYAMALU. :D Hujan berhenti. Giliran perut berontak minta diisi bensin *bergizi* deket pasar. Makan itu nomor 1 dimanapun dan kapanpun. Ya nggak? :p

Narsis dulu yak -> Jadi tukuang foto itu menyenangkan!
Gerbang mau masuk mesjid. Nice, huh?
Samakah Ageng dengan Agung? LOL
Depan mesjid Ageng :D
Fufufu... Hujan deras rek! See?
Di teras /serambi depan mesjid lah kami berteduh. Serambi nya luas sekali. Bangunan zaman dulu yang tiang nya tinggi dan keramik lantainya uniksssss..
Our stuff. Sampe-sampe koran aja dibawain sama Al, sapa tau butuh, katanya..
Brown one is Putri and orange one is Tia
Blue is Almas and beside her is me! Peace!
Belum sreg dan bekum paham apa itu pasar Klewer, kami malah pake sepaang becak buat ngantarin beli tiket kereta *dan ternyata nggak bisa/dapet*, trus ke Kraton Solo, trus balik lagi ke Klewer. Ada 1 kajadian yang bikin aku malessssss banget! Aku lebih suka sama tukang becak (TuBe) yang nggak sok-sok-an, nggak ngejek, nggak gunjingin pelanggan dengan tukang becak lainnya, nggak males-males-an, dan mau jawab kalo ditanyain “berapaan kalo kesana/kesini pak?” Kemarin sempat ketemu TuBe yang pas ditanyain “berapa pak?” malah jawab “terserah mbak-mbak nya”. Haish! Ada yang nggak enak dengan kata-kata terserah itu! Dan tau nggak apa yang terjadi, pas kami mau bayar diakhir, kami minta nya 30ribu/2 becak nya *sesuai dengan rute dan seperti biasa tarif becak*. Si bapak dengan santai bilang, “seikhlasnya saja mbak” sambil diskusi sama temannya yang dengan enteng bilang “60ribu saja mbak...” Deg! Tadi bilang terserah. Ini karena efek ketundukan orang Jawa ato memang bapaknya suka gini ya? Seperti nipu dong jadinya. Bukan bermaksud buat mencela ato menjelekkan. Hanya saja, tolong lah jadi pelayan yang tegas tapi tetap ramah. Dari pada tidak tegas tapi *sok* ramah dan si kostumer nya malah kaget dan *pastinya* bikin dosa gegara ada rasa dongkol dihati. :D Tak apa-apalah. Ini dijadiin pelajaran aja deh. Kalo mau enaknya, ya pake kendaraan sendiri...

Klewer's market :D
Like Malioboro too...
Tiba di pasar Klewer, menatap beragam pakaian dan jilbab model sekarang, temen-temen pada ngiler nih sama patung yang dipakaikan baju *unyu-unyu* yang mereka taksir berjejeran di toko pinggir jalan. Pas ditanyain, alhasil rerata semuanya grosiran dan minimal beli nya 1 kodi alias 20 biji! Gila rek! Emang mau dagang. Kami pun hanya cengar-cengir pasang gigi yang rada kuning karena *kata orang* gigi kuat. Gagal diluar pasar. Kami pun masuk. Wohoho, ternyata hawa panas dan sesak menyelimuti badan dan pernafasanku. Namanya juga pasar, buat grosiran lagi. :D Eh eh, ternyata *lagi* pasar Klewer itu kayak Tanah Abang nya Jakarta ato Aur Kuning nya Bukittinggi. Padat. Sesak. Rame. Ribut. Dll. But, sometimes I like it. Hahaha... Rata-rata sih isinya didominasi sama batik. Mulai batik ter-elek sampai batik ter-apik. :D Masih belum ada yang tertarik. Hanya jalan-jalan ditengah pasar trus keluar. Bener deh, nggak bakal ada bawa oleh-oleh (O2) *yang ditenteng* dari jalan-jalan kali ini. Mau makanan, mirip sama di Jogja. Batik pun juga. Alhasil, pilihan O2 ku jatuh pada jejeran pisang dipinggir jalan yang dijual sama mbah-mbah dan harganya muyah cuy! Yes! Akhirnya...

Lampu merah kuning hijau jadul... :D *btw, ini aseli nggak sih? ato ascesories doang???*
Gerbang masuk kraton Solo
Ini dia penampakan dari depan kratonnya...
Serambi keraton...
Becak tumpangan kami...
Peace semua :*
Huhuy, azeeeek!
Banyak pengalaman yang lucu, aneh, njengkelin, senang, kagum, sedih, dsb yang bisa diambil dari perjalanan ke Solo ini. Selain yang tadi, ada lagi di kraton nya Solo, pas lagi foto-foto aku melihat sekitanya pasti ada bangunan tua dan tembok-tembok serta pintu-pintu besar ala zaman dahulu dan ada lampu merahnya orang dulu juga. It’s so unique. Yang malesnya ngelihat sampah bertebaran sana sini di beberapa spot yang lumayan mengganggu pemandangan. Inilah kebiasaan manusia yang tidak bisa bertanggungjawab atas perbuatannya. *khusus buat aku juga* Kadang kita suka nyepelein hal-hal kecil yang kita lakukan, padahal tak semestinya itu baik menurut orang lain. So, keep our tongue and our behavior on good way! :D

Sepertinya bukan ring basket aja yang harus tepat dimasukin bola. Tapi tong sampah pun harus tepat dimasukin sampah. Kalo perlu harus diadakan latihan main sampah nih. :D
Doeng, di depan kraton rek!
So tired when would go home back :D but I was happy enough!

Wednesday, November 7, 2012

Mengambil Pelajaran


Semasa kecil dulu, aku sering bertanya pada Ayah. “Ayah, anak yatim itu apa?” Tangan Ayah langsung mengelus kepala anak nya yang paling suka bertanya hal apapun, walaupun terkadang tak masuk akal. “Jika ayah dari seorang anak meninggal, anak itu disebut anak yatim,” sahut Ayah. “O... Berarti kalo Cici nggak punya Ayah lagi, Cici dipanggil anak yatim dong yah...” Ayah tersenyum dan langsung mencium keningku lalu pergi. :D Sejak masih kanak-kanak, aku sering mendengar kata-kata anak yatim plus yatim piatu. Hanya saja belum jelas bagiku apa makna dari semua itu dan mengapa harus ada sebutan tersebut?

Hari berganti hari, ada saja pelajaran baru yang ku dapat. Baik pelajaranku sewaktu di TPA maupun pelajaran agama disekolah. Sejak itu mulailah sedikit demi sedikit aku mulai tahu apa itu anak yatim / yatim-piatu. Tak terlalu mendalam. Hanya saja aku selalu diajarkan untuk menyantuni dan menyayangi anak yatim. Yap... Ternyata Allah telah menjelaskan dan menegaskan akan hal itu didalam Al-Qur’an.

Jujur, di kampungku tidak ada yang namanya panti asuhan. Hingga aku bersekolah ke daerah Sumatera Barat sebagai santriwati di sebuah pondok pesantren, dan saat itu pula aku baru pertama kali melihat panti asuhan *meski hanya melihat dari luar*. Semasa SMA, aku cukup aktif di kegiatan pramuka, nah kami *penggurus pramuka* minimal tiap tahunnya melaksanakan bakti sosial dan kegiatan sosial lainnya yang bisa menambah wawasan pengetahuan dan sekaligus bisa belajar dari masyarakat setempat. Saat ada kesempatan itu, aku pun tak sekedar melewatinya begitu saja. Kami waktu itu memilih  sekitar 2 panti asuhan untuk dikunjungi setelah sebelumnya mencari dana dan sumbangan untuk memberikan kado kecil-kecilan buat adik-adik disana. :)) Dari kedua panti asuhan yang kami kunjungi, banyak hal yang dapat dipelajari dan semuanya beda cerita, beda pengalaman.

Panti asuhan A
Panti asuhan ini lumayan besar. Sangat besar sekali malahan. Sewaktu masuk ke ruang informasi nya, kami disambut oleh ibu yang sangat keibuan dan murah senyum. Kami tidak bisa bertemu adik-adik disana karena tenyata siang menuju sore itu mereka sedang ada kegiatan di sekolah mereka. Mereka sekolah di satu tempat, dekat panti asuhan mereka. Yaaaah, sedih banget nggak bisa ngobrol langsung sama adik-adiknya. Tak apa lah. Selanjutnya kami diajak berkeliling panti dipandu oleh ibu pembimbing disana. Pas ngelihat kamar mereka satu per satu, rasanya hidup di asrama ponpes itu jauh lebih menyenangkan ---lalu mengapa aku sering sekali mengeluh inilah itulah -> aku tertegur---. Lalu melihat tempat makan mereka yang sangat sederhana ---aku sempat berdiskusi dengan diriku sendiri dalam hati, subhanallah aku masih belum bisa bersyukur lebih seperti yang mereka punya sekarang -> mereka punya syukur sedangkan aku penuh dengan keluh---. Setelah berkeliling asrama panti, lalu diajak ke kantor panti asuhan tersebut. Hanya “WOW” yang bisa ku ucapkan kala melihat piala-piala dan piagam penghargaan yang berjejer serta tersusun rapi pada tempatnya ---sesi ngobrol dengan diri sendiripun terjadi lagi, ya Allah aku malu pada mereka, aku musti belajar dari mereka, ku yakin pasti mereka adalah orang-orang yang gigih yang tidak selalu menunggu kasihani dari orang lain tapi mereka butuh pengakuan dari orang banyak bahwa anak yatim / anak piatu / yatim-piatu pun bisa dan berhak untuk berhasil dan sukses dunia akhirat---.

Panti asuhan B
Kali ini panti asuhannya kecil sekali. Tak seperti yang sebelumnya kami kunjungi. Pas masuk, ternyata mereka sedang istirahat karena baru pulang dari sekolah. Karena ruangan yang sempit, tampak sekali ruangan tersebut sesak dan sedikit gelap *mungkin efek sudah sore kali ya*. Mereka kaget pas kami datang dan langsung be-beres dengan baju ala kadarnya. Yap, itu yang pertama ku lihat, baju mereka terlihat sudah sangat lusuh ---onde mande, semoga aku lebih bisa mensyukuri terhadap apa yang aku punya---. Setelah berbincang-bincang tentang kegiatan mereka sehari-hari, ternyata tidak jauh berbeda dengan kehidupanku di pondok pesantren. Hanya saja aku tidak habis pikir, mereka tegar ya... :D *pingin tiru* Ada diantara mereka yang sempat bilang, “Kak, rindu Apa jo Ama ---bahasa Minang Kabau: Ayah dan Ibu---.” Hiks, sempat mau nangis waktu tu, jadi keinget Ayah sama Ibuk dirumah. Lha kalo aku, masih bisa ketemu pas liburan nanti, sedangkan mereka? :’( Trus aku sempat nanya sama salah seorang dari mereka, “Dek, disini kalo makan gimana?” Ia menjawab, “Ya, seperti biasa. Pake nasi dan lauk seadanya dengan porsi yang sudah ditentukan.” Yap... Ini dia nih pelajaran terakhir buat kita *terutama aku sendiri* agar dapat menyisihkan sedikit harta benda kita untuk membantu mereka. Bukan karena iba, tapi karena kita bangga punya mereka. Mereka adalah saudara kita. Disinilah peran kita sebagai saudara. Saling memahami, saling melangkapi, saling menyanyangi, saling berbagi, dan berbagi kebaikan :’). Mari lebih menyadarkan diri agar dapat mencintai anak yatim dengan ketulusan dan keceriaan. They need us as well.

Kita bisa belajar dimanapun dan kapanpun selagi hati ini masih berniat untuk belajar :D Belajarlah untuk menyantuni dan mencintai anak yatim agar Allah memberikan cinta-Nya untuk kita kelak. Amin...



Artikel  ini diikutsertakan pada Gaveaway:
Cinta untuk Anak Yatim

Friday, November 2, 2012

Surprise!!! ^_^

I was surprised by a sms (texting) from the number that I don’t save the name contact. And then, I read the messege and surprised. “Mbak, ini ada paket utk anda di counter JNE 38 Jln. Gatak, Rukeman, Timur Indomaret, selatan UMY. Silahkan diambil, tadi kurir sudah coba cari rmh anda tp ga ketemu. Mksh.” That’s the content of message. Yap, I realize my home is not easy to find, so hard to reach. :D And I went to the JNE office there. I took the package. It’s from my lovely friend, mb Fifil... Oh, idk why was she sending the package to me. When I touched that package, it maked me so “grogi” to hold it. Don’t realize deh! Anw, thank you mb ku for the beautiful bag. :D I like it so much. But I am still confusing “why she send me this .” Once again, thank you mb... :D

The package veiwing
Cool bag :*
I always like a surprise, actually good surprise tho... When I was at third class of senior high school, my mentor bu Mimi Hidayah often gave us *mentoring members* suprises. In every single mentoring time, she made a surprise that would be different from meeting before. From making us seaweed, nice knowledge, new game, invited us for eating until the day we wanted to separate, she gave us a precious orange pen. :D Yeay!!!

Orange pen!
Another surprise from my beloved sister, Ainun. She always knows what I like. Formerly, she often send me packages and it was so touching me until now when I am looking at the something she gave. From some color papers, pen, pencil, case *multi-functions*, and many more. And don’t forget, she has gave me anything that there is monkey. Oh sweet, you always can making me smile and falling my tears for nice reason. :D

Lovely monkey :*
There was a surprise else when I could answering one question from committee in a contest. Just like both of my friends Srok and Aming. They got the gift too when they could answering  the question while in Scalenus Event. Yeay!!! It was so impressive!


Book that I got
Moa: pink dress. Aming: violet-box dress. Srok: white dress.
And also many more gifts that make me so surprise :D