Sunday, October 7, 2012

Komuda di RSJ Grhasia


Komuda kali ini berbeda dengan komuda sebelumnya. Kalo sebelum nya dilaksanakan di Rumah Sakit Umum, pada kesempatan ini di Rumah Sakit Jiwa. Yap, seperti judul diatas, kami (1 kelompok: 31 orang) berangkat menuju RSJ Grhasia di daerah Pakem, Kaliurang KM. 20-an *maap lupa KM berapa pastinya*. Dengan nebeng dengan beberapa teman yang memiliki mobil, akhirnya Cici sampai di tempat tujuan dengan selamat bersama teman-teman yang lainnya. Sebelum nyampe di TKP, ternyata RSJ tersebut sudah sering tak lewati kalo sedang jalan ke daerah Kaliurang atas. Sumpah! Nggak pernah kebaca ato nampak selama ini. Yaaa Salaaam... Pas sampe di TKP, Cici sempat kaget. “Subhanallah, Rumah Sakitnya buangus rek! Semoga pasien nya pada nyaman ya, biar bisa sehat seperti biasanya,” bisik hati kecilku.


Selang beberapa waktu, sambil menunggu kawan-kawan yang sedang sarapan snack, kami pun menuju ruang diklat guna memberikan surat pengantar dari fakultas. And then, kami di perkenalkan oleh petugas diklat tentang sejarah Rumah Sakit Grhasia dari pertama berdiri hingga sekarang. So gratify! Udara pagi nan sejuk di daerah pegunungan merapi, membuat nafas menjadi lega dan rileks. Pagi nan ceria deh pokok e! Setelah perkenalan RSJ, dilanjutkan pengarahan dari dokter spesialis jiwa disana. Ibunya keibuan banget. Ramah. Dan sangat lembut. Secara yah, kan menangani kejiwaan manusia. Mustinya ya gitu, she can be a public figure. :D

Selang beberapa kata pengantar, dokter memanggil salah seorang pasien dari bangsal dikawal oleh 2 mbak-mbak yang manis alias perawat. Pesan dosen-dosen, “Perhatikan penampilan, gerak-gerik dan tingkah pasien sejak memasuki ruang praktek kalian. Apakah ada sesuatu yang aneh dan mengganjal? Karena dengan memperhatikan dari awal saja, udah bisa terbayang Differential Diagnosis nya.” Stay tune! :D

Melihat cara dokter menanyakan kabar dan meminta pasien memperkenalkan diri, rasa nya nyantai banget. Nggak kaku dan pastinya, lembut. :D Subhanallah yah... Dokter memang seharusnya seperti itu. Sebagai tempat pasien bercermin, yang biasa kita sebut konselor. Sebagai tempat menuangkan rahasia dan dapat dipercaya. Sebagai penolong untuk problem solving jika pasien membutuhkan. Sebagai care giver. Nah, patut banget ditiru ni dokter. Tak seperti beberapa dokter yang hanya menganamnesis pasien dengan singkat dan pasien kadang tak merasa nyaman. *Maap ya, Cici bukan bermaksud untuk mendahului yang sudah pinter dan hebat. Hanya saja, jika pasien sudah merasa tidak nyaman atas tindakan dan perkataan sang dokter, mereka bisa-bisa tidak punya rasa percaya pada dokter sehingga mungkin pasien takut menceritakan dan mengadukan keluhannya dengan jujur dan pastinya itu akan berpengaruh terhadap pengobatan pasien kelaknya dan siapa yang dirugikan? Pasien juga. Ini hanya catatan kecil Cici yang sekaligus tak jadiin pedoman dan pelajaran jika telah menjadi dokter kelak. Aamiin...*

Kembali ke laptop! *kok suka banget ngelantur kemana-mana* Data pasien -> ia yang mengutarakannya sendiri: Seorang wanita, 33 tahun, pendidikan terakhir S1 teknik kimia UPN, sudah menikah setahun yll, dibawa ke RSJ oleh suami dan ibunya. Saat di anamnesa oleh dokter, “Mbak keluhannya apa?” Pasien menjawab, “Saya mendengar suara-suara yang sepertinya mengadu domba dirinya dengan keluarganya. Contohnya ada suara pertengkaran antara ibunya dengan seorang tante-tante yang berulang-ulang dan membuat pasien tertekan. Dan suara yang mengatakan bahwa suaminya selingkuh dengan wanita lain dan pasien menyangkal, karena suaminya sangat menyayangi pasien sehingga pasien sangat terganggu dengan bisikan/suara-suara tersebut.” Itulah jawaban dari pasien sendiri. Sebenarnya dari penjelasan singkat dari pasien tadi, ia telah menyadari bukan? Ia telah mengetahui bahwa diri nya sedang tidak sehat. Itu artinya pasien punya insight sedang. Dan saat ditanyakan kabar keluarga, pasien mengatakan bahwa keluarga nya baik-baik saja sambil tersenyum. Itu tandanya mood pasien eutimik dan afek pasien normal. Oya, sewaktu pasien masuk, kita lihat rawat dirinya cukup baik dan masih mau diajak bicara dengan kuantitas dan kualitas yang masih baik, masih nyambung. Perilaku dan aktivitas psikomotornya agak hipoaktif. Mungkin lemas baru bangun tidur kali ya. Ato grogi melihat kami yang rame tiba-tiba dia jadi pembicara didepan. :D Nah, karena pasien mengeluh ada suara-suara yang mengadudombakan dia dengan keluarganya, artinya pasien mempunyai halusinasi auditorik. Bentuk pikir pasien juga masih realistik/normal. Hanya percakan singkat saja yang bisa dilakukan, karena takutnya pasien merasa tidak nyaman jika berlama-lama.

Intinya pasien sudah bisa menyadari dirinya jika ada suara-suara yang menggagunya, dia meminta untuk mondok di Rumah Sakit untuk dirawat inap. Dan ternyata pasien sudah mengalami hal ini sejak 10 tahun yang lalu sejak ia berumur 21 tahun. Dan sudah 5 kali lebih keluar masuk RSJ. Bagaimana tidak mengganggu? Sejak 10 tahun pasien diserang gangguan yang tak berwujud itu. Kenapa bisa seperti itu, banyak sekali penyebabnya. Bisa karena genetik. Bisa karena lingkungan dan sosial. Bisa gegara defence mechanism yang dipakai saat menghadapi masalah/kejadian. Bisa karena lesi/kerusakan otak, misalnya terjadi pelebaran ventrikel di otak yang menekan otak lobus temporalis yang berfungsi untuk mengatur pendengaran manusia sehingga jika lobus tersebut tertekan, timbul lah suara-suara yang tidak nyata tadi dan pastinya menggangggu pasien.

Ya allah, terkadang Cici suka malu sama mereka yang dirwat di RSJ... Jujur, mau banget meneteskan air mata melihat mereka yang dirawat disana. Malu jika Cici masih sering nggak bersyukur dengan hidup yang sedang Cici jalani sekarang. Malu karena tak bisa melakukan hal-hal yang bermanfaat. Malu dengan mereka yang menjalani kehidupan yang pastinya tak mereka inginkan karena tak ada seorangpun yang ingin memiliki gangguan jiwa, but they had. Oleh karena itu, dukungan sosial sangat dibutuhkan pasien-pasien disamping farmakoterapi yang telah diberikan.

Curhat sebenarnya juga merupakan salah satu terapi gangguan jiwa. Rekreasi. Memainkan permainan yang melibatkan tim. So, dukungan sosial sangatlah penting dalam memperbaiki kualitas kejiwaan seseorang.  Karena apa? Karena setiap orang pasti pernah merasakan gangguan jiwa. Dan edukasi serta penyuluhan juga sangat berguna untuk menyadarkan setiap orang bahwa jika terdapat gejala-gejala tertentu, mereka bisa tahu dan sadar bahwa mereka sedang tidak sehat sehingga bia ditangani dengan segera. Karena, semakin terlambat seseorang mengetahui/menyadari bahwa dirinya sedang mengalami gangguan jiwa, semakin sulit pula untuk dipulihkan.

Yang diharapkan adalah, tolong orang sekitar dan orang terdekat PEKA terhadap lingkungannya. Empati juga sangat dibutuhkan oleh penderita gangguan jiwa, sehingga mereka tidak akan merasa bahwa mereka tidak berguna dan ingin mengakiri dirinya. Dan yang lebih penting lagi, doakan mereka yang sedang mengalami gangguan jiwa agar Tuhan senantiasa memudahkan mereka untuk sehat kembali. :D

Eits, cerita kita belum berakhir loh... Setelah didatangkan seorang pasien, kami diajak petugas diklat untuk mengelilingi RSJ tersebut sambil menentukan tempat kami akan bertemu pasien secara langsung nantinya. Ada tempat untuk terapi wicara dan psikomotor untuk pasien. Ada IGD. Ada tempat rehabilitasi penyalahgunaan napza. Ada tempat pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Dan pastinya ada tempat pasien akan dirawat. Eh, ternyata di RSJ juga ada kamar yang VIP loh. Ato jangan-jangan Cici aja yang baru tau yak? @_@ Kalo VIP, kamr mandinya didalam kamar. 1 kamar 2 pasien. Di satu bangunan itu pula ada ruang makan bersamanya dan TiVi. Ada bangsal (biasanya) tempat pasien yang pertama kali masuk SRJ. Biasanya untuk pasien yang sedang kambuh-kambuhnya. Ada yang di sel sendiri untuk pasien yang suka ngamuk/agresif dengan sebuah dipan dan disebelahnya ada wc terbuka saja karena biasanya rawat diri nya jelek sekali, pup disana, pipis disana, semua bercapur. :’( Oya, pasien laki-laki dan perempuan dipisah juga. Selain itu, bangsal yang banyak penghuni nya ada beberapa bangsal, mereka biasanya 1 kamar beberapa orang dengan wc bersama, dan ruang makan bersama. Ternyata lagi, para pasien tidak dipisah-pisahkan berdasarkan penyakitnya. Mereka digabungkan, hanya beberapa pasien saja yang dipisah yang mungkin sering melakukan hal-hal yang membahayakan dan ingin kabur. :’(

Sewaktu kami memasuki salah satu bangsal. Tiba-tiba kami disapa oleh seorang pasien, “Loh? Kok mbak-mbak dan mas-mas nya nggak mampir dulu ngombrol sama saya?” Kami kaget dan malah kami yang senyum-senyum nggak jelas. Hahahaha. Jujur, beberapa dari kami ketakutan banget. Hahaha, kok orang yang mengalami gangguan jiwa berat selalu ditakuti yak? Ndak tau juga sih, emang dari dulu Cici dengan teman-teman waktu kecil suka ngeri aja. Ada cerita lucu... Waktu masuk ke bangsal lainnya, ada pasien wanita rambutnya dikepang dua dan dijalin. Dia senang banget pas kami datang. Trus bilang, “Hello, my name is bla bla bla.” Lha, kami kaget... Pas ditanya asal nya dari mana pake bahasa Inggris. Dikirain dia emang bisa bahasa Inggris. Eh, taunya Cuma itu saja kosa kata yang sering dipakainya. Jangan dikira semua orang yangmasuk di RSJ itu orang-orang bodoh. Banyak kok yang terpelajar. Makanya kami sangka ntu pasien bisa bahasa Inggris. Ada pula yang megang mukenah kemana-mana, dengan gerakan bolak-balik sambil natapin kami. Ada juga anak cewek remaja, yang tiba-tiba dia nangis pas kami masuk bangsalnya. Tak kirain, dia nggak suka kami datang, eh taunya tiba-tiba dia diam. Selang beberapa menit, nangis lagi. Diem lagi. Tenyata pasiennya emang gitu, kata perawatnya. Hm, kasihan... :’( Nah, yang kami kira bisa bahasa Inggris tadi, bilang ke kami, “Wah, mbak-mbak nya kok cantik-cantik banget eee? Mas-mas nya juga tampan banget...” Trus tiba-tiba bilang, “Aku mau mbak yang itu...” sambil nunjukin salah satu teman Cici. Trus pasiennya curhat, “Mbak, aku mau pulang ke rumah mbak. Nggak mau disini. Aku mau dandanan kayak mbak-mbaknya biar cantik juga,” dengan wajah sedih. :’( Ya Tuhan, help them... :D

Trus mereka juga ada tempat rehabilitasinya, bagi yang bisa kesenian (jahit bantal, boneka, nyulam, buat alas bantal, alas meja -> bagus-bagus loh, nah kalo mau mesan juga boleh :p) maka akan dikembangkan. Kalo ada bakat-bakat yang lain, juga disalurkan. Semoga cepet sehat ya... :D Setelah beputar-putar, barulah kami menuju bangsal sesuai dengan pembagian kelompok kecil yang sebelumnya sudah dibagikan. Ok, sekian dulu ya, nanti disambung lagi... :D Pokok e, nice komuda! Banyak pelajaran yang bisa diambil trus harusnya juga bisa digunakan...

Komuda: Coass muda
Dokter spesialis jiwa: Psikiater
Differential diagnosis: Diagnosis banding -> beberapa diagnosis yang mungkin untuk menegakkan diagnosis
Insight: Tilikan diri atau pemahaman pasien terhadap sakitnya (baik, sedang, jelek)
Mood: Suatu emosi yang meresap dan dipertahankan yang dialami secara subjektif dan dilapporkan oleh pasien serta terlihat orang lain (disforik, eutimik, iritabel, euphori, dll)
Afek: Ekspresi emosi yang terlihat, ada kemungkinan, kadang tidak konsisten dengan emosi yang dikatakan pasien (apropiate, inapropiate, menyempit, tumpul, datar)
Anamnesis: Suatu wawancara yang dilakukan dokter dengan pasien untuk menggali keluhan pasien
Halusinasi: Gangguan persepsi dimana tidak adanya objek/stimulus eksternal dipersepsikan/dianggap ada oleh seseorang (auditorik, taktil, visual, olfaktorik)

3 comments:

  1. Replies
    1. Itu ada diatas bun. Coass muda... Intinya praktik ke Rumah Sakit/ t4 pelayanan kesehatan untuk mengenali dunia medis lebih awal...

      Delete
  2. assalamu'alaikum..

    saya sudah follow blognya..
    kalau berkenan follow balik ya..
    http://garagaraguru.blogspot.com/

    makasih

    ReplyDelete