Saturday, September 15, 2012

Belajar Psikiatri


Ilmu kedokteran jiwa juga biasa disebut “psikiatri”. Lah, trus apa beda nya? *kayak e cuma tulisan ajah :p* So, ilmu ini yang akan menangani sebab-musabab, diagnosis, pencegahan, pengobatan, dan rehabilitasi gangguan jiwa serta peningkatan/promosi kesehatan jiwa -> menurut catatan Ilmu Kedokteran Jiwa nya (duet) Maramis-Maramis edisi 2. Trus apa yang akan kita bahas sekarang? Mmmmm... Yah ada sedikit ilmu yang sempat tak garisbawahi yang lumayan guna deh buat kita, InsyaAllah. :D

Sebelum tersesat ke yang lainnya (lainnya apa sih? Baru aja mulai), mau tanya nih. Ada yang tau nggak apa itu “kesehatan jiwa”? Mungkin ada yang mau jawab? Anak ibu yang dibelakang? *emangnya lagi sekolah yak hahaha* Sehat + Jiwa = Jiwa Sehat. Artinya tidak sakit jiwa. Okeh okeh, coba kita buat agak detail yah. Kesehatan jiwa adalah perasaan sehat dan bahagia serta mampu menghadapi tantangan hidup serta dapat menerima orang lain sebagaimana adanya. Waaah, jiplak banget kata-kata dari dosen :0. Intinya seperti itu lah. Dah paham anak-anak? *udah buuuuu* -> si guru menyeringai :D

Raga yang sehat belum menentukan bahwa jiwa kita juga sehat. Hanya saja, ada beberapa pasien yang merasakan sakit di badannya padahal dari beberapa rangkaian pemeriksaan sebagai penegakan diagnosa dari keluhan pasien tersebut masih DBN (dalam batas normal).

Rangkaian pemeriksaan disini, mulai dari:
  • Anamnesa -> ada keluhan fisik dan atau ada beberapa keluhan yang out of the body alias nggak ada hubungannya dengan keluhan fisik si pasien. Sebisa mungkin, digali apa yang menjadi penyebab pasien merasakan keluhan tersebut. Fisik kah ato psikis kah!
  • Lalu ada juga pemeriksaan vital sign ato tanda-tanda vital seperti tekanan darah, denyut nadi, frekuensi perfasan nya DBN.
  • Lalu dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik dengan inspeksi (melihat), palpasi (meraba bagian superfisial/permukaan tubuh pasien), perkusi (mengetuk), dan auskultasi (mendengar dengan bantuan stetoskop) -> *nggak harus berurutan di beberapa tempat pemeriksaan.* Dan hasilnya juga tetep DBN.
  • Jika perlu, ditambah dengan pemeriksaan tambahan yang bersangkutan dengan keluhan pasien. Kalo keluhannya sesak nafas, maka di rongent. Kalo keluhannya jantung berdebar-debar, di EKG (elektro-kardio-gram). Dan lain sebagainya.

Lha, kalo rata-rata dalam pemeriksaan nya DBN, trus si pasien kenapa bisa merasakan keluhan tersebut secara nyata sehingga ia merasa terganggu dan ingin mengobati penyakitnya tersebut? Mmmmm, masih ngambang yak? Coba deh, tak kasih skenario.

Misalnya: Ada seorang wanita, 30 tahun, mengeluh sesak nafas sejak 3 bulan yang lalu dan dalam 1 minggu bisa 3 kali serangan berulang. Pasien nggak ada melakukan aktivitas fisik berat dan tidak batuk. Pasien juga merasakan jantung berdebar-debar (palpitasi), sulit tidur, mudah lelah, dan tak berdaya. Dia sering merasakan takut mati dan takut ditinggal suami. Keluhan ini mengganggu aktivitas nya sebagai IRT.

Nah, dari awal pemeriksaan hingga akhir dengan keluhan fisik pasien seperti itu, hanya didapatkan hasilnya masih DBN. Tapi tentu kita tidak bisa dipisahkan dengan jiwa. Kan tanda orang hidup itu ada jiwa dan raga yang menyatu, ya nggak? *jadi keinget akhiran lagu ‘Padamu Negeri’* Dengan kita menggali informasi lainnya, eeeeeeeh ternyata si pasien sering merasa ketakutan yang berlebihan karena sang suami sering tugas kerja keluar kota, ditambah si anak mau ujian nasional, trus tak pernah bersosialisasi dengan ibu-ibu/lingkungannya karena takut tidak diterima, dsb. So, dah mulai ada titik temu dan baru lah ditindaklanjuti lagi (dengan terapi/dukungan sosial/mengedukasi keluarga pasien/dsb).

Itulah fungsinya psikiatri dalam dunia kesehatan. :D Untuk mendeteksi yang tidak tampak, untuk menggali informasi yang dibutuhkan, dan pengarahan yang memulihkan kondisi pasien.

Lalu kenapa bisa ada keluhan sesak nafas, jantung berdebar-debar (palpitasi), sulit tidur, mudah lelah, dan tak berdaya, padahal nggak ada riwayat dahulu seperti alergi/riwayat keluarga nya serta tidak melakukan aktivitas fisik berat. Ini lah hebatnya ciptaan Sang Khalik yang Maha Pencipta. Dia telah menciptakan segala sesuatu sedemikian rupa agar apa? Agar manusia dapat terus berfikir dan bersyukur padaNya. Ternyata symptoms yang diadukan oleh pasien menjadi salah satu acuan bahwa ada hubungan antara keluhan dengan psikis nya. Karena kemungkinan si pasien mengalami cemas yang berlebihan dikarenakan rasa sakitnya tadi dan keluhan lainnya, maka didalam tubuh kita ada yang namanya reseptor alfa dan beta yang akan saling berkolaborasi. Karena cemas berlebihan -> reseptor beta menurun -> reseptor alfa meningkat -> menyebabkan bronchoconstrictor (penyempitan pada bronkus/paru-paru) terjadi sesak nafas -> lalu vasoconstrictor (penyempitan pembuluh darah) terjadi jantung berdebar-debar karena sistem di pembuluh darah menyempit -> cepat merasa lelah -> tak berdaya -> takut mati karena keluhannya sangat mengganggu.

Yeaaah, malah celoteh masalah skenario ini yak. Maap maap dan maap sekali. Semoga tersampaikan apa yang rasanya Cici ingin sampaikan. Maka dari itu, mari berfikir positif dan atur pola hidup yang sehat. :D

Nb: Cici pernah ngerasain hal ini. Sesak nafas nggak karuan. Padahal sebelumnya nggak pernah seperti ini. Riwayat keluarga juga nggak ada. Sampe 2 hari seperti ini. Nggak bisa bobok :( dsb. Sampe-sampe kebingungan lalu ke dokter. Katanya baik-baik aja. Lalu di nebulizer saja dengan derivat sambutamol. Alhamdulillah berkurang. Yang paling tak inget pesen dokter -> istirahat yang cukup dan jangan terlalu banyak pikiran. Eh, baru inget sekarang. Kalo kemarin itu lagi (sok-sok) sibuknya dengan tugas, hapalan, dan bla bla bla. *Haik*

Makanya lagu kebangsaan kita, "Indonesia Raya" karya WR Soepratman ada lirik:

Bangunlah jiwanya
Bangunlah badannya
Untuk Indonesia raya

Betul banget pak Soepratman! Bangun jiwa. Bangun raga. Agar menjadi merdeka... :D Salam Nusantara! :*

13 comments:

  1. jadi yang sebenarnya guru besar ilmu kedokteran jiwa adalah pak soepratman.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yaaaaaah, bisa jadi juga sih mas. Karena lirik lagu2 kebangsaan Indonesia tu bagus2 dan sepertinya dibuat dgn sepenuh hati. Spt kata pak soepratman, bangun jiwa bangun raga bisa merdeka. Hehehe

      Delete
    2. mungkin Soepratboy (pak Soepratman sewaktu kecil) pernah menjadi dokter jiwa...

      oh ya cin, liebsternya udah aku jawab
      http://cerita-ocha.blogspot.com/2012/09/nglembur-liebster-award.html

      Delete
    3. hahaha, mungkin juga kali Cha... :D

      Hm, makasih ya sudah mengerjakan. :*

      Delete
  2. Replies
    1. terima kasih Ulan.

      *emang yang seperti ini artikel kah namanya?*
      *perasaan cuma bahasan singkat ajah*

      Delete
  3. Wah sangat bagus neh Belajar Psikiatri ..

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, sepertinya setiap orang harus belajar dasar-dasar psikiatri :D

      Delete
  4. Terima Kasih sudah menepati janji dengan postingan ini. Saya jadi sedikit memahami antara Psikolog dengan Psikiater. Dalam konteks hubungan industrial atau dunia kerja jasa para psikolog atau lembaga psikologi (kalaw nda salah saya sebut ya) sangat diperlukan dalam menyeleksi para calon karyawan.

    Sebutan lazimnya tes Psikotes. Tes ini banyak diujikan buat para karyawan yang akan diterima oleh sebuah perusahaan. Negara juga banyak pake jasa ini, buktinya salah satu item yang diujikan dalam seleksi CPNS ada soal soal yang mengandur unsur dan muatan tes seperti ini. :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. eh mas Asep, belum tak jelasin loh bedanya. maap banget mas. ini tak tulisin sek yooooo... :D

      Delete
  5. Replies
    1. amiiiiiiin, amin, amin... Doakan ya bunda... :*

      Delete