Wednesday, August 22, 2012

Aku Mencintaimu karena Allah, Mak

Omak, begitulah aku memanggil sosok yang sedang duduk dihadapanku. Omak adalah wanita tua yang berasal dari daerah pelosok perkampungan. Maka, jika ia ditanya oleh orang,
“Omak usianya berapa tahun?”

Maka Omak pun tak menjawab dengan polos,
“Entah lah cung[1], jangankan umur, Omak pun tak tahu kapan Omak lahir.”

Ya, itulah yang dinamakan orang dahulu. Kebanyakan nenek-nenek atau kakek-kakek kita yang mungkin sudah hidup pada masa penjajahan, tak terlalu ingat kapan ia dilahirkan. Kadang-kadang tanggal lahir anaknya sendiri pun, mereka lupa. Sehingga aku heran, mengapa ya orang dulu itu jarang yang mengingat tanggal lahirnya? Apa karena itu sesuatu yang kurang penting? Entah lah, aku pun tak terlalu memikirkannya. Berbeda dengan zaman sekarang. Apa-apa serba penting. Bahkan yang tidak semestinya dianggap penting pun, dibilang penting. Aneh!

Aku adalah anak ke-empat dari empat orang anak Omak. Tapi, karena dua orang kakak ku meninggal dunia sejak usia mereka masih kecil, tinggal lah kami ber-dua. Aku, anak laki-laki omak satu-satunya, sehingga ku tahu ini adalah amanah besar yang Allah berikan padaku.

Balik ke masa aku kecil dulu, suatu hari aku bicara pada omak,
“Omak... Aku ingin melanjutkan sekolah ke SMP,” kata ku singkat.

“Iya, nak... Omak tahu, kamu itu anak pintar dan sudah seharusnya kamu lanjutkan sekolah kamu,” Omak menjawab dengan lembut sambil mengelus rambut keritingku.

Suasana pun hening seketika. Dalam hatiku, seharusnya omak menjawab pernyataan ku tadi dengan lengkap. Ada apa ya dengan Omak, tiba-tiba wajahnya terlihat sedih, otakku menerka-nerka. Apa aku ada salah nggomong ya? Apa nada bicara ku tadi terdengar kasar? Macam-macam suudzon[2] dibenakku pun bermunculan satu per satu.

“Tapi kamu tahu kan, Omak dan Ayah belum ada uang untuk itu.”

Ku lihat raut wajah Omak yang begitu kusut. Entah apa yang ia pikirkan. Padahal aku hanya ingin menyampaikan keinginan ku ingin melanjutkan sekolah. Tak ada yang salah. Hanya saja dengan keluguan ku atau kekanak-kanakan ku barusan sepertinya membuatnya sedih.

“Hehehe,” aku tertawa kecil.

“Omak kenapa muka nya sedih sekali?” tanyaku.

“Omak tak sedih, nak. Cuma Omak kasihan sama kamu dan kakak mu. Kakak mu tidak bisa melanjutkan sekolahnya karena kami tak memiliki cukup uang. Untung saja ia dapat numpang kerja di toko orang, kalo tidak? Mungkin Ayah dan Omak akan merasa bersaah sekali. Sekarang kamu. Omak tak ingin kamu...”

Tiba-tiba . Terisak sekali. Astaghfirullah, ucap hati ku. aku sudah buat Omak menangis. Omak, maapkan aku, Mak. Rasanya ingin aku menjitak kepala ku yang tak pernah berpikir perasaan Omak sedikitpun. Aku merasa bersalah. Hati ku berontak kasar. Bagaimana tidak, orang yang air mata nya tidak boleh menetes karena perkataan singkat ku tadi telah keluar. Ya, aku lah penyebabnya. Ya Allah, jangan Kau laknat aku karena aku telah buat Omak mengeluarkan air mata nya, akal ku meronta-ronta.

“Omak...” kata ku.

“Omak kenapa menangis?” aku benar-benar kalut, tak tahu apa yang harus ku katakan padanya, pada wanita yang air mata nya adalah dosa buat ku.

“Omak tak ingin kamu seperti kakak mu. Kamu harus melanjutkan sekolah. Kamu harus jadi anak yang pintar dan berguna untuk orang banyak,” jawab omak sembari mulai tersenyum sambil mengusap air mata nya.

Rasanya ingin sekali aku menjitak kepala ku dengan palu atau besi panas, sekalian. Oh Tuhan, ampuni aku. Kenapa aku harus membuka percakapan di pagi ini dengan pernyataan tadi.

“Iya mak, tapi Omak jangan nangis lagi ya?” jawab ku gagap.

“InsyaAllah Allah akan memudahkan urusan kita. Dan aku akan berusaha semaksimal mungkin agar bisa lanjut sekolah. Aku yakin bisa, Mak. Omak senyum dulu doooong. Tuh kan, hidung nya tambah pesek kalo Omak menangis,” pinta ku sambil bergurau.

Senyum Omak pun muncul. Itu tandanya, aku sudah menghapus sedikit dosaku membuat Omak menangis tadi. Lalu Omak mengakhiri obrolan singkat kami tadi dengan kecupan di keningku.

*****

Keluargaku adalah keluarga yang bisa dikatakan kurang berkecukupan. Ayah hanya menjadi kenek minibus. Omak membantu beban ayah dengan menanam apapun yang bisa tumbuh di sekeliling rumah kami untuk dijual. Sedangkan kakak membantu tetangga kami yang mempunyai toko. Alhmadulillah kakak tidak merepotkan Ayah dan Omak lagi. Tapi aku. Aku yang membuat beban mereka.

Sejak kejadian itu, aku memutuskan untuk merantau ke negeri orang. Kemanapun dan dimanapun, asal aku tak lagi menyusahkan Ayah Omak. Omak sebenarnya tak rela dengan keputusan ku yang agak mendadak itu. Ayah adalah sosok yang tegar dan tidak banyak nggomong, ia mengikhlaskan keinginan ku itu dengan baik.

Malam sebelum keberangkatan ku ke negeri antah-berantah, yang belum ku tentukan sama sekali, kami berkumpul. Pesan dan nasehat pun satu per satu masuk ke telinga ku. Harapan mereka, aku bisa mewujudkan cita-cita ku. Sedih? Takut? Pastilah. Karena usia ku yang masih dibilang kecil, aku harus jauh dari orang tua dan harus bisa melanjutkan sekolah ku dengan usahaku sendiri. “Yap, aku harus mandiri. Aku harus kuat. Ku yakin, aku bisa. Harus bisa!” pekik ku dalam hati. Semoga uang tabungan ku yang sedikit ini bisa memulai langkah ku dengan baik.

Malam hari itu seperti malam biasanya. Omak selalu menyisakan waktunya untuk bermunajat kepada Sang Rabb. Kegiatan rutin yang ia lakukan ini, ia percayai bahwa apapun yang Allah berikan kepadanya adalah suatu nikmat dan berkah yang bisa diambil hikmahnya. Omak selalu mempercayai itu.

*****

Pagi harinya, aku pergi dengan perasaan datar seperti biasa. Aku berpamitan pada Ayah sebelum ia ke terminal, pada kakak sebelum ia ke toko, dan kepada Omak. Ku lihat mata Omak berkaca-kaca sambil menitipkan pesan,
“Anakku, aku percaya Allah akan melindungi mu. Jika kau tak bisa bertahan di negeri orang, kembalilah pada kami. Kami akan selalu menunggumu hingga kapanpun. Raihlah impian mu, nak. Jadilah anak yang baik. Jangan lupakan Tuhan mu. Beri kabar jika kau sempat. Omak akan selalu mendoakan mu. Tak ada yang bisa Mak bekali untukmu, hanya doa, doa yang tak kan pernah berhenti.”

“Iya Mak, jika aku dititipkan sedikit kesuksesan oleh Allah, aku kan pulang padamu. Terima kasih sudah menjadi Omak yang nomor satu untuk ku,” jawab ku dengan pikiran mulai kalut.

“Assalamu’alaikum...” lanjutku.

“Wa’alaikumussalam...” air mata Omak pun menetes.

*****

Mungkin perjalanan yang ku lalui ini adalah perjalanan yang panjang. Perjalanan yang entah kapan bisa berakhir. Mungkin saja berakhir di tanah orang. Aku menaiki bus yang akan berangkat ke provinsi sebelah dari provinsi tempat kampungku berada. Sesampainya aku disana, ku bertemu pada seorang bapak bergaya seadanya dikedai kopi dan bertanya padanya.

Setelah percakapan pendek kami selesai. Tadinya aku sempat bilang mau cari kerja, lalu ia mengajakku kerumahnya dan mengatakan,
“Kau bisa tinggal disini, nak. Dirumah ku. Kau juga bisa membantu pekerjaan rumah, semampu mu. Nanti kamu saya sekolahkan di MTsN dekat rumah.”

“Allahuakbar!!! Bapak baik sekali. Terima kasih bapak. Aku siap membantu bapak, jika bapak butuhkan,” jawabku dengan muka terharu dan senang.

Ada apa ini? Bapak ini bagaikan malaikat. Ia membantu ku. Sangat membantu ku. Ataukah ini jawaban dari semua do’a Omak? Ya Allah, terima kasih banyak atas semuanya. Ku percaya do’a Omak yang membantu ku. Tiba-tiba aku rindu padanya dan rasanya ingin ku kabarkan sesegera mungkin padanya. Alhamdulillah...

Aku tinggal dirumah bapak Eko dan bu Ira, namanya. Ia tidak mempunyai anak. Dan hanya tinggal berdua dengan istri nya di rumah yang sederhana ini. Mereka sangat ramah dan baik hati. Mereka juga jarang mengikuti obrolan-obrolan tidak penting dengan tetangga mereka. Mereka lebih memilih membaca buku atau berdiam di rumah. Aku cinta keluarga ini. “Semoga Omak, Ayah, dan kakak baik-baik saja disana,” bisikku dalam hati.

Selain sekolah dan bantu-bantu bu Ira di rumah, aku mencari kegiatan lainnya. Aku aktif di organisasi. Ternyata kehebohanku waktu kecil dulu masih ku bawa sampai sekarang. Dulu, aku juga suka berdebat dengan anak-anak di kampung ku mulai dari hal yang sepele hingga yang serius. Kerja. Aku butuh kerja, pikirku.

Ketika kita terlibat dibanyak kegiatan, maka yang harus kita pantau adalah mengatur waktu. Dengan itu aku bisa menghasilkan seuatu. Menghasilkan uang. Uang untuk keluarga ku di kampung.

Akhirnya aku menjadi pekerja lepas. Mulai dari penambal ban di bengkel orang, menjadi kenek angkot kota, mengantarkan koran ke agen-agen sekitar, tukang semir sepatu, dan yang lainnya. Saking serabutannya, aku lupa apa saja yang pernah ku coba kerjakan demi menabung.

Uang sudah ada ditangan. Memang tak banyak. Tapi cukup untuk bantu Ayah Omak disana. Semoga mereka senang. Lalu ku kirimkan selembar surat pendek tentang pengalaman dan kabarku sekarang serta uang hasil jerih payah ku pada mereka. Ternyata ku baru menyadari, mencari uang itu tidak gampang. Semoga Omak dan Ayah senang.

*****

Pak Eko dan bu Ira adalah orang yang baik sekali. Aku disekolahkannya sampai tamat SMA. Tapi aku heran, mengapa orang yang baik dan tulus seperti ini, tidak bisa memiliki seorang anak, saja. Tapi inilah rahasia Tuhan. Kita tak kan pernah mengetahui apa maksud dari ini semua hingga kita benar-benar bersyukur pada-Nya. Sekali lagi, terima kasih Pak Bu...

Setamat nya aku dari SMA, aku memutuskan untuk melanjutkan kuliah dengan pekerjaan tetapku di fotocopy. Sebelum masuk ke kampus sebagai hasiswa baru, aku ingin sekali pulang kampung. Menjenguk Ayah, Omak, dan kakak. Sudah 6 tahun aku tak pulang. Inilah saatnya. Karena ku tahu, apa yang ku dapatkan sekarang berkat do’a Omak di sepertiga  malam nya. Do’a seorang hamba Allah yang tulus dan ikhlas menerima apa yang terjadi. Karena segala sesuatu ada hikmahnya. Aku mencintaimu karena Allah, mak. Semoga mereka senang dengan kedatangan ku.

Mommy, I am coming... ^_^



[1] Panggilan untuk cucu
[2] Prasangka buruk

No comments:

Post a Comment