Monday, August 27, 2012

Jamiilah binti Halal wa Khair


Cantik merupakan kata yang banyak memiliki arti bagi setiap orang yang menggunakannya. Kebanyakan wanita sangat mendambakan kata yang satu ini. Karena itu, mengapa banyak wanita yang memperelok diri mereka agar terlihat cantik. Dengan berbagai macam cara, sekalipun. Cantik bukan hanya sekedar kata sifat yang mensifati sesuatu atau seseorang. Cantik bahkan bisa menjadi alasan orang untuk berbuat baik dan buruk. Cantik pada dasarnya mempunyai makna positif (pastinya), hanya saja terkadang ada yang menyalahartikan nya. Cantik yang buruk jika digunakan untuk berbuat yang tidak senonoh. Yang namanya buruk, ya tidak baik. Cantik yang baik bisa mengalir dengan sempurna jika seseorang memiliki gelar cantik dari dalam.

Cara mendapatkan gelar cantik dari dalam sebenarnya sangat mudah. Misal, dengan memperbaiki tingkah laku sehingga mempunyai budi pekerti. Tidak harus terlalu muluk-muluk, intinya perbaiki diri setiap saat. Perhatikan kebersihan. Mulai dari kebersihan wajah, badan, lingkungan, dan hati. Maka, kecantikan akan mengalir dengan sendiri nya. Setelah memperbaiki akhlak (tingkah laku), maka untuk mempercantik diri juga harus diimbangi dengan bagaimana cara kita memperhatikan kondisi tubuh kita. Dengan tubuh yang sehat, bukan kah seseorang bisa melakukan banyak hal terutama berbuat kebaikan?

Halal berarti telah disyari'atkan menurut agam Islam. So, it is okey to use something that has labled by this Halal. Maybe has taken by MUI or some organisations else. Dan sesuatu yang halal belum tentu baik untuk kita. Kita lihat mudharat dan manfaat nya terlebih dahulu. Tapi kebanyakan orang menyangka, sesuatu yang halal itu baik. Kalo nek menurutku, enggak mutlak kek gitu. Contohnya. Ada yang kenal sama udang nggak? Ada? Nggak? Hehehe, ya pasti kenal  toh yooo. Btw, udang halal nggak? Yap, halal! Ada yang alergi sama udang? Oke, ada. Nah, kalo orang yang alergi sama udang, masih berlaku nggak halal itu baik? Enggak kan? Malah bisa menyiksa si pengkonsumsi nya. So, mari kita cari sesuatu yang halal lagi baik untuk diri kita sendiri, yang cocok dengan kita.

Cantik dan sehat bisa diperoleh sekaligus dengan menggunakan kosmetik, pastinya kosmetik yang halal lagi baik. Dengan mencari serta memilih dan memilah kosmetik yang halal lagi baik dan pastinya cocok dengan keadaan kita, maka sehat dan 'afiat pun bisa terjamah, InsyaAllah. Tapi tetap ingat ya, jangan terlalu ideal. Nggak baik. Kalo ada, ya alhamdulillah. Kalo nggak ada, ya carikan solusi dengan tidak berlebihan. Gara-gara yang nama nya "TERLALU", biasanya akan terjadi hal yang tidak baik. Karena apa? Innallaha laa yuhibbul musrifiin. ^_^

Tulisan yang kacau balau tanpa persiapan ini seharusnya diikutkan di Lomba Blog tentang Kosmetik Halal. Tapi sudah melampaui DL coz sinyal internet menghalangi penge-post-an. Maklum, desa ku masih agak terisolir. "Agak" lo ya, nggak terisolir.

Pulang Ke Rahimmu


Senyummu adalah garis kebahagiaan,
aku bisa tertular seburuk apapun hariku saat itu
Tawamu adalah guntur yang di tunggu-tunggu di musim kemarau,
mengundang hujan yang mengikis keringnya jiwa
Kasihmu yang tak pernah gagal
membuat seisi rumah bersih dari kemuraman
Ada saja kisah lucu yang kau ceritakan,
mengisi waktu ketika malam menjelang

Hidup seorang dewasa ternyata melelahkan,
raga dan semua yang dapat ku rasa
Hanya suaramu yang mampu menjadi obat segala
Ah, andai aku bisa pulang kembali ke rahimmu, Ibu…
Tempat aku bisa bergerak sekuka hati
Tak perlu resah dengan urusan dunia yang membingungkan
yang tanpa ujung dan tujuan yang cukup ku percaya

Ibu, bisakah engkau lebihkan doa untukku?
Meski ku tahu yang telah kau curahkan sudah tak bisa dilogikakan

Menyerah…
Kata ini seperti kegelapan dalam duniamu
Tapi aku sungguh lelah

“Pulang saja sebantar, Nak”

Kau menyambutku, tetap dengan senyum itu
Seketika hatiku luluh
Lututku lemas tak mampu ku tahan
Aku kini berada di lingkaran pelukmu
Aku aman….
Aku sudah ada di rahimmu kini

By: Geo

Wednesday, August 22, 2012

Kenangan Bersamanya

Cerah nya hari itu
Mendung nya hari itu
Mungkin semua menciptakan sesuatu
Suatu memoar yang membuka pintu

Hari-hari ibarat pintu
Ya, memang pintu
Mungkin pintu keberkahan
Atau pintu kemudhoratan

Tak pantas menyalahkan hari
Ia hanya perantara belaka
Perantara dari segala
Segala kebaikan dan keburukan

Ku punya hari
Hari indah bersama nya
Yang selalu membawa canda
Terkadang juga cerita

Hari-hari dengan nya
Memberi arti tak terduga
Menyisakan indah nya cinta
Menorehkan laksana tinta

Dia yang disana
Kapanlah bisa bersua
Semoga ada pintu untuk kita
Pintu segala kebaikan pastinya


Singkarak Moment
Me n Soulmate

Aku Mencintaimu karena Allah, Mak

Omak, begitulah aku memanggil sosok yang sedang duduk dihadapanku. Omak adalah wanita tua yang berasal dari daerah pelosok perkampungan. Maka, jika ia ditanya oleh orang,
“Omak usianya berapa tahun?”

Maka Omak pun tak menjawab dengan polos,
“Entah lah cung[1], jangankan umur, Omak pun tak tahu kapan Omak lahir.”

Ya, itulah yang dinamakan orang dahulu. Kebanyakan nenek-nenek atau kakek-kakek kita yang mungkin sudah hidup pada masa penjajahan, tak terlalu ingat kapan ia dilahirkan. Kadang-kadang tanggal lahir anaknya sendiri pun, mereka lupa. Sehingga aku heran, mengapa ya orang dulu itu jarang yang mengingat tanggal lahirnya? Apa karena itu sesuatu yang kurang penting? Entah lah, aku pun tak terlalu memikirkannya. Berbeda dengan zaman sekarang. Apa-apa serba penting. Bahkan yang tidak semestinya dianggap penting pun, dibilang penting. Aneh!

Aku adalah anak ke-empat dari empat orang anak Omak. Tapi, karena dua orang kakak ku meninggal dunia sejak usia mereka masih kecil, tinggal lah kami ber-dua. Aku, anak laki-laki omak satu-satunya, sehingga ku tahu ini adalah amanah besar yang Allah berikan padaku.

Balik ke masa aku kecil dulu, suatu hari aku bicara pada omak,
“Omak... Aku ingin melanjutkan sekolah ke SMP,” kata ku singkat.

“Iya, nak... Omak tahu, kamu itu anak pintar dan sudah seharusnya kamu lanjutkan sekolah kamu,” Omak menjawab dengan lembut sambil mengelus rambut keritingku.

Suasana pun hening seketika. Dalam hatiku, seharusnya omak menjawab pernyataan ku tadi dengan lengkap. Ada apa ya dengan Omak, tiba-tiba wajahnya terlihat sedih, otakku menerka-nerka. Apa aku ada salah nggomong ya? Apa nada bicara ku tadi terdengar kasar? Macam-macam suudzon[2] dibenakku pun bermunculan satu per satu.

“Tapi kamu tahu kan, Omak dan Ayah belum ada uang untuk itu.”

Ku lihat raut wajah Omak yang begitu kusut. Entah apa yang ia pikirkan. Padahal aku hanya ingin menyampaikan keinginan ku ingin melanjutkan sekolah. Tak ada yang salah. Hanya saja dengan keluguan ku atau kekanak-kanakan ku barusan sepertinya membuatnya sedih.

“Hehehe,” aku tertawa kecil.

“Omak kenapa muka nya sedih sekali?” tanyaku.

“Omak tak sedih, nak. Cuma Omak kasihan sama kamu dan kakak mu. Kakak mu tidak bisa melanjutkan sekolahnya karena kami tak memiliki cukup uang. Untung saja ia dapat numpang kerja di toko orang, kalo tidak? Mungkin Ayah dan Omak akan merasa bersaah sekali. Sekarang kamu. Omak tak ingin kamu...”

Tiba-tiba . Terisak sekali. Astaghfirullah, ucap hati ku. aku sudah buat Omak menangis. Omak, maapkan aku, Mak. Rasanya ingin aku menjitak kepala ku yang tak pernah berpikir perasaan Omak sedikitpun. Aku merasa bersalah. Hati ku berontak kasar. Bagaimana tidak, orang yang air mata nya tidak boleh menetes karena perkataan singkat ku tadi telah keluar. Ya, aku lah penyebabnya. Ya Allah, jangan Kau laknat aku karena aku telah buat Omak mengeluarkan air mata nya, akal ku meronta-ronta.

“Omak...” kata ku.

“Omak kenapa menangis?” aku benar-benar kalut, tak tahu apa yang harus ku katakan padanya, pada wanita yang air mata nya adalah dosa buat ku.

“Omak tak ingin kamu seperti kakak mu. Kamu harus melanjutkan sekolah. Kamu harus jadi anak yang pintar dan berguna untuk orang banyak,” jawab omak sembari mulai tersenyum sambil mengusap air mata nya.

Rasanya ingin sekali aku menjitak kepala ku dengan palu atau besi panas, sekalian. Oh Tuhan, ampuni aku. Kenapa aku harus membuka percakapan di pagi ini dengan pernyataan tadi.

“Iya mak, tapi Omak jangan nangis lagi ya?” jawab ku gagap.

“InsyaAllah Allah akan memudahkan urusan kita. Dan aku akan berusaha semaksimal mungkin agar bisa lanjut sekolah. Aku yakin bisa, Mak. Omak senyum dulu doooong. Tuh kan, hidung nya tambah pesek kalo Omak menangis,” pinta ku sambil bergurau.

Senyum Omak pun muncul. Itu tandanya, aku sudah menghapus sedikit dosaku membuat Omak menangis tadi. Lalu Omak mengakhiri obrolan singkat kami tadi dengan kecupan di keningku.

*****

Keluargaku adalah keluarga yang bisa dikatakan kurang berkecukupan. Ayah hanya menjadi kenek minibus. Omak membantu beban ayah dengan menanam apapun yang bisa tumbuh di sekeliling rumah kami untuk dijual. Sedangkan kakak membantu tetangga kami yang mempunyai toko. Alhmadulillah kakak tidak merepotkan Ayah dan Omak lagi. Tapi aku. Aku yang membuat beban mereka.

Sejak kejadian itu, aku memutuskan untuk merantau ke negeri orang. Kemanapun dan dimanapun, asal aku tak lagi menyusahkan Ayah Omak. Omak sebenarnya tak rela dengan keputusan ku yang agak mendadak itu. Ayah adalah sosok yang tegar dan tidak banyak nggomong, ia mengikhlaskan keinginan ku itu dengan baik.

Malam sebelum keberangkatan ku ke negeri antah-berantah, yang belum ku tentukan sama sekali, kami berkumpul. Pesan dan nasehat pun satu per satu masuk ke telinga ku. Harapan mereka, aku bisa mewujudkan cita-cita ku. Sedih? Takut? Pastilah. Karena usia ku yang masih dibilang kecil, aku harus jauh dari orang tua dan harus bisa melanjutkan sekolah ku dengan usahaku sendiri. “Yap, aku harus mandiri. Aku harus kuat. Ku yakin, aku bisa. Harus bisa!” pekik ku dalam hati. Semoga uang tabungan ku yang sedikit ini bisa memulai langkah ku dengan baik.

Malam hari itu seperti malam biasanya. Omak selalu menyisakan waktunya untuk bermunajat kepada Sang Rabb. Kegiatan rutin yang ia lakukan ini, ia percayai bahwa apapun yang Allah berikan kepadanya adalah suatu nikmat dan berkah yang bisa diambil hikmahnya. Omak selalu mempercayai itu.

*****

Pagi harinya, aku pergi dengan perasaan datar seperti biasa. Aku berpamitan pada Ayah sebelum ia ke terminal, pada kakak sebelum ia ke toko, dan kepada Omak. Ku lihat mata Omak berkaca-kaca sambil menitipkan pesan,
“Anakku, aku percaya Allah akan melindungi mu. Jika kau tak bisa bertahan di negeri orang, kembalilah pada kami. Kami akan selalu menunggumu hingga kapanpun. Raihlah impian mu, nak. Jadilah anak yang baik. Jangan lupakan Tuhan mu. Beri kabar jika kau sempat. Omak akan selalu mendoakan mu. Tak ada yang bisa Mak bekali untukmu, hanya doa, doa yang tak kan pernah berhenti.”

“Iya Mak, jika aku dititipkan sedikit kesuksesan oleh Allah, aku kan pulang padamu. Terima kasih sudah menjadi Omak yang nomor satu untuk ku,” jawab ku dengan pikiran mulai kalut.

“Assalamu’alaikum...” lanjutku.

“Wa’alaikumussalam...” air mata Omak pun menetes.

*****

Mungkin perjalanan yang ku lalui ini adalah perjalanan yang panjang. Perjalanan yang entah kapan bisa berakhir. Mungkin saja berakhir di tanah orang. Aku menaiki bus yang akan berangkat ke provinsi sebelah dari provinsi tempat kampungku berada. Sesampainya aku disana, ku bertemu pada seorang bapak bergaya seadanya dikedai kopi dan bertanya padanya.

Setelah percakapan pendek kami selesai. Tadinya aku sempat bilang mau cari kerja, lalu ia mengajakku kerumahnya dan mengatakan,
“Kau bisa tinggal disini, nak. Dirumah ku. Kau juga bisa membantu pekerjaan rumah, semampu mu. Nanti kamu saya sekolahkan di MTsN dekat rumah.”

“Allahuakbar!!! Bapak baik sekali. Terima kasih bapak. Aku siap membantu bapak, jika bapak butuhkan,” jawabku dengan muka terharu dan senang.

Ada apa ini? Bapak ini bagaikan malaikat. Ia membantu ku. Sangat membantu ku. Ataukah ini jawaban dari semua do’a Omak? Ya Allah, terima kasih banyak atas semuanya. Ku percaya do’a Omak yang membantu ku. Tiba-tiba aku rindu padanya dan rasanya ingin ku kabarkan sesegera mungkin padanya. Alhamdulillah...

Aku tinggal dirumah bapak Eko dan bu Ira, namanya. Ia tidak mempunyai anak. Dan hanya tinggal berdua dengan istri nya di rumah yang sederhana ini. Mereka sangat ramah dan baik hati. Mereka juga jarang mengikuti obrolan-obrolan tidak penting dengan tetangga mereka. Mereka lebih memilih membaca buku atau berdiam di rumah. Aku cinta keluarga ini. “Semoga Omak, Ayah, dan kakak baik-baik saja disana,” bisikku dalam hati.

Selain sekolah dan bantu-bantu bu Ira di rumah, aku mencari kegiatan lainnya. Aku aktif di organisasi. Ternyata kehebohanku waktu kecil dulu masih ku bawa sampai sekarang. Dulu, aku juga suka berdebat dengan anak-anak di kampung ku mulai dari hal yang sepele hingga yang serius. Kerja. Aku butuh kerja, pikirku.

Ketika kita terlibat dibanyak kegiatan, maka yang harus kita pantau adalah mengatur waktu. Dengan itu aku bisa menghasilkan seuatu. Menghasilkan uang. Uang untuk keluarga ku di kampung.

Akhirnya aku menjadi pekerja lepas. Mulai dari penambal ban di bengkel orang, menjadi kenek angkot kota, mengantarkan koran ke agen-agen sekitar, tukang semir sepatu, dan yang lainnya. Saking serabutannya, aku lupa apa saja yang pernah ku coba kerjakan demi menabung.

Uang sudah ada ditangan. Memang tak banyak. Tapi cukup untuk bantu Ayah Omak disana. Semoga mereka senang. Lalu ku kirimkan selembar surat pendek tentang pengalaman dan kabarku sekarang serta uang hasil jerih payah ku pada mereka. Ternyata ku baru menyadari, mencari uang itu tidak gampang. Semoga Omak dan Ayah senang.

*****

Pak Eko dan bu Ira adalah orang yang baik sekali. Aku disekolahkannya sampai tamat SMA. Tapi aku heran, mengapa orang yang baik dan tulus seperti ini, tidak bisa memiliki seorang anak, saja. Tapi inilah rahasia Tuhan. Kita tak kan pernah mengetahui apa maksud dari ini semua hingga kita benar-benar bersyukur pada-Nya. Sekali lagi, terima kasih Pak Bu...

Setamat nya aku dari SMA, aku memutuskan untuk melanjutkan kuliah dengan pekerjaan tetapku di fotocopy. Sebelum masuk ke kampus sebagai hasiswa baru, aku ingin sekali pulang kampung. Menjenguk Ayah, Omak, dan kakak. Sudah 6 tahun aku tak pulang. Inilah saatnya. Karena ku tahu, apa yang ku dapatkan sekarang berkat do’a Omak di sepertiga  malam nya. Do’a seorang hamba Allah yang tulus dan ikhlas menerima apa yang terjadi. Karena segala sesuatu ada hikmahnya. Aku mencintaimu karena Allah, mak. Semoga mereka senang dengan kedatangan ku.

Mommy, I am coming... ^_^



[1] Panggilan untuk cucu
[2] Prasangka buruk

Thursday, August 9, 2012

Menerjang Angan

Ku ingin hidup bebas
Sebebas burung di langit
Ku ingin banyak cinta
Sebanyak pasir di tepi pantai

Berontak...
Menolak...
Tapi apalah daya
Manusia biasa, itulah jawabannya

Lari dari awal mula
Menerjang angan
Meraih cita dan asa
Melakukan yang terbaik

Tiada Berujung

Mata ini lelah mengikuti jejak yang langkah
Hidung ini sulit untuk bernafas dengan lepas
Telinga ini serasa ingin pecah
Sekujur tubuh ini pun sudah malas

Ku tahu, ini tak kunjung sudah
Ku tahu, sekarang mulai resah
Ku tahu, ini kan berujung indah
Ku tahu, inilah kehendak Allah

Perjuangan itu tiada berujung
Semakin diikuti, semakin jauh
Semakin dijalani, semakin angkuh
Semakin dilalui, semakin jenuh

Memang benar, bahwa:
Pejuangan itu artinya berkorban
Berkorban itu artinya terkorban
Perjuangan itu ibarat benang
Semakin diurai, semakin tak berujung

Ketangguhan Hati

Disini, ditanah nan jauh dari kesombongan
Disini, ditempat yang tak banyak tontonan
Disini, didaerah yang bebas kedurhakaan
Disini, dilangit tanpa pergolakan

Ku pandangi perairan yang tiada berhenti
Ku lihat, ku cermati, ku telusuri

Hidup ini bagaikan gurun pasir
Dilihat dari kejauhan, semakin menarik
Tatkala bersentuhan, serasa ingin membalik

Hidup ini ibarat batu
Keras...
Kejam...
Kasar...

Tapi disini, dinegeri ini
Ku melihat ketangguhan
Ada kekuatan
Yang bisa mengalahkan

Pecel + Lele = Lele Goreng, Loh?

Ngomong-ngomong masalah lele, Mau tanya nih sama Kalian semua... Kalo Kalian disuruh milih lauk antara ayam dan lele, pilih yang mana? Menurut buku “Ting-ting Sutarming”, kebanyakan orang memilih lauk ayam. Kenapa? Satu, karena dangingnya banyak. Dua, terlihat makanan mewah *apalagi kalo sudah beli fastfood atau junkfood dan semacamnya itu*. Tiga, lebih enak lagi kalo dibayarin -) idih-idih, sapa juga yang tak suka di traktir (Kadang, demi gratisan, orang rela jungkir balik kalo dikasih perintah, orang rela desak-desakkan *kayak 1000 kambing masuk dalam kandangnya dengan 1 pintu*, orang rela deh ngelakuin apa aja *apalagi buat makan*).

Dan lele? Lele merupakan hewan yang ber-curriculum vitae sebagai berikut: Kingdom; Animalia. Filum; Chordata. Kelas; Actinopterygii. Ordo; Siluriformes. Famili; Clariidae. Genus; Clarias batrachus. Lele hidupnya di air tawar dengan tubuh yang licin-licin gimana gitu dan ada kumis *tapi bukan kayak kumis pak Raden lo ya, kumisnya ada dua dikiri dan kanan serta panjang*. Kebanyakan orang pada benci sama lele. Nggak tau sih, apa alasan mereka. Tapi biasanya, ya seperti itu. Jijiklah. Menyeramkanlah. Wooooi! Sadar! Ini tu makanan, ya pasti sudah ko’id, trus apa yang diseramin?

Selang belajar tentang lele, sebenarnya Aku sudah kenal sam lele sejak Ibuk ku memasakkan lele dirumah *nggak penting banget!*. Kalo lele ditempatku, pada besar-besar *nggak nyampe sebesar ikan hiu lah, apalagi ikan paus*. Lebih dikenal dengan lele jumbo/dumbo ya? Aku pun tak tau. Nah, waktu itu ada acara nikahan keluarga di Lampung, Kami kebetulan dari Bengkulu rame banget, jadi Kami bawa 2 mobil *eh, lebih tepatnya 2 mobil yang bawain Kami*.

Setelah melaksanakan kewajiban menghadiri undangan di Lampung. Kami melakukan kesunahan jalan-jalan ke Jakarta. Kan jaraknya dekat antara Lampung-Jakarta. Tak menyangka, ternyata sewaktu ingin menyeberang dari pelabuhan Bangkahuni ke pelabuhan Merak, ngantrinya nggak ketulungan.

Setelah menginjakkan kaki *roda mobil* ke pulau jawa, tibalah saat nya untuk mengisi bensin mobil dan mengisi makan perut. Perjalanan yang melelahkan tubuh dan menyenangkan hati ini disabut berbagai jenis kuliner khas nusantara. Yeeeeyyy! Waktu makan adalah waktu yang kutunggu-tunggu sejak di kapal tadi, bukan saat ini aja. Tapi selamanya *ya iya lah, kan manusia butuh makan*.

Saking beranekaragamnya makanan khas negeri tercintah ini, Aku sangat tertarik dengan menu “PECEL LELE”. Unik sepertinya... Emang ada pecel + lele? Jujur, kalo ditempatku nggak ada menu kayak gini. Di Jawa, makanannya unik-unik ya. Dalam hatiku.

Sewaktu makanan diantarin ke meja kami, Ku lihat hanya ada lele goreng yang diberi sambal dan lalapan. 

Lalu Aku bertanya pada pelayan, “Mas, Aku tadi pesan pecel lele, bukan lele goreng...”

Si mas kebingungan, lalu balik bertanya, “Maksudnya, mbak?

“Aku kan pesan pecel lele, bukan lele goreng!” ulangku dengan nada tinggi tapi lembut.

“Yaaaa ini pecel lele mbak...,” jawabnya.

Tiba-tiba semua orang di tempat makan itu melihat dan cekikikan sambil melihat adegan Kami barusan.

“Oh, iya Mas. Makasih.” Lanjutku dengan nada lebih kebingungan.

Oh Tuhan, ternyata bentuk makanan yang disajikan berbeda dengan apa yang kubayangkan. Inilah uniknya Indonesia. Aku merasa malu sudah sedikit mengeras pada pelayan tadi. Padahal yang lebih tau menu nya kan dia. Maap Mas... :D “peace

Kehidupan

Biarlah angin berhembus kencang
Biarlah langit terang-benderang
Biarlah malam tak berkunang
Tak ku sesali segala pengorbanan

Sesekali kaki ini ingin berlari
Sesaat badan tak mengingini
Selalu hati menengahi
Karena semua tak selalu begini

Oh hidup...
Tak mengapa kau seret aku
Tak salah kau membantingku
Tak ada hak bagiku
Untuk menolakmu