Saturday, July 14, 2012

Jurus Jitu Menjadi Penulis

google image
Ayo, nyoba baca, pahami, and amalin ni jurus: "terutama yang masih amatiran nulis (kayak aku ini...)"

1.EYD

Menulis tentunya bukan hanya sekedar menulis namun menulis harus disertai dengan penguasaan Ejaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Siapa pun yang telah mengenyam pendidikan dasar hingga menengah, mampu menulis. Namun menulis yang dimaksudkan di sini bukan hanya sekedar menulis apa yang kita rasakan, menulis kwitansi pembelian barang atau menulis pelajaran, atau diktat kuliah. Namun menulis yang dimaksud adalah, bagaimana kita menggambarkan apa yang kita lihat, kita alami dan kita rasakan ke dalam sebuah karangan yang berbentuk cerpen atau novel. 

2 Rasa Penasaran 

Seperti yang sudah dijelaskan tadi, menulis yang menjadi topik pembicaraan kita adalah menulis cerpen dan novel. Kita akan membahas bagaimana dapat menulis keduanya dengan gaya bahasa yang asyik dan enak dibaca, dengan mengikuti kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Menggunakan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar itu mutlak, tujuannya agar cerita pendek (cerpen) atau novel yang kita buat mudah dimengerti, mengasyikkan dan mampu membuat pembaca hanyut pada cerita yang kita buat dan ingin terus membacanya. Keberhasilan dalam sebuah cerpen maupun novel adalah saat si pembaca penasaran, dan masih ingin terus mempertanyakan kelanjutan dari kisah yang dibacanya. 

3 Latihan

Selain penguasaan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) persyaratan lain adalah latihan. Ya, menulis sebuah cerpen/novel yang bagus, menarik dan digemari pembaca tentunya harus dibarengi pula dengan latihan yang tidak pernah ada bosannya. Bila ditambah dengan talenta, (bakat), menulis akan semakin mudah dan menyenangkan. Ingat, penguasaan bahasa asing, terutama Inggris juga perlukan. Sebab, banyak buku referensi untuk menulis, ditulis dalam bahasa Inggris. Jika anda hendak mem-browse internet, anda pun harus memahami kata-kata dalam bahasa tersebut. 

4. Rajin Membaca

Menuangkan pokok pikiran ke dalam bentuk tulisan yang enak dibaca dan mengasyikkan, memang butuh latihan dan wawasan yang luas. Untuk menjadi seorang penulis profesional,maupun hanya sekedar menyalurkan hobi menulis, menambah wawasan dengan membaca dan menyimak berbagai hal yang terjadi di sekeliling kita sangat diperlukan. Bahan bacaan yang beragam akan memperkaya khasanah di jagat penulisan. Membaca karya-karya sastra,baik itu novel, maupun cerpen adalah mutlak, sebab dari hasil bacaan tersebut kita menjadi tahu bagaimana pola, bentuk, diksi, gaya bahasa yang dibuat secara sistematik oleh pengarang-pengarang besar dan terkenal dalam merangkai kata-kata dan menuangkan ide-ide mereka ke dalam sebuah cerita yang menarik, menegangkan, seru bahkan menyedihkan. Pemilihan kata-kata yang tepat, tentang topik yang akan ditulis, dan kecakapan dalam merangkai kalimat demi kalimat tidak akan berjalan lancar jika kita tidak rajin membaca. Dengan membaca, kita menjadi tahu gaya atau style pengarang dalam mengungkapkan kata-kata yang akan ditulisnya. Melalui bacaan, wawasan kita juga jadi bertambah, hal ini memberi dampak positif pada karangan yang akan tulis. sekaligus akan membuat cerpen/novel itu menjadi lebih berbobot.

5.Imajinasi

Satu hal yang diperlukan jika kita hendak membuat cerpen atau novel adalah imajinasi. Menurut pakar dan sastrawan Gerson Poyk, imajinasi tumbuh dari naluri seks (libido), imajinasi juga bisa berasal dari akal/logika dan imajinasi bisa berasal dari intuisi kreatif yang dituntun oleh hati nurani. Jika seseorang tidak memiliki imajinasi maka penulisan cerpen akan buntu. Imanjiasi akan merangsang seseorang untuk menuangkan ide-idenya dalam bentuk tulisan. 

6 Everyday

Menurut Gerson Poyk dalam penulisan sebuah cerpen/novel bisa dilakukan dengan menulis kegiatan rutinitas manusia sehari-hari atau everyday. Contohnya, aktivitas sesorang dalam kehidupan sehari-hari, misalnya saat orang itu bangun pagi, bikin kopi, masak, sarapan pagi, siap-siap ke kantor, naik mobil, tiba di kantor bekerja, malam minggu pergi rekreasi, dan tahu-tahu saat pulang kantor tabrakan mobil. Dari kegiatan keseharian (everyday), tiba-tiba orang tersebut dihadapkan pada penderitaan, ia ditabrak mobil dan mati. Apabila keseharian itu ditulis dan ditambah dengan imajinasi si penulis maka dengan demikian nilai tulisan lebih bermutu, karena dari everyday kita sampai kepada tabrakan dan kematian, itu adalah hal-hal yang kontradiktif dan mustahil, absurd, karena di dalamnya ada kematian.

Contoh lainnya adalah, penulisan cerpen tentang kelahiran manusia di dunia ini. Saat bayi itu lahir ke dunia, dikisahkan si bayi tidak minta dilahirkan, dia lahir dengan menangis, tangisan itu menandakan bahwa kehidupan di dunia tidak sebahagia yang dibayangkan. Hidup ini penuh tangis dan air mata, itu lambang dari dunia ini, penuh tangis dan penderitaan. Sesudah itu si bayi hidup dari air susu ibu (ASI), tanpa ibu manusia tidak bisa hidup, ASI itu juru selamat berikutnya, sesudah itu setelah dia bisa makan bubur, ibu menyediakan bubur di piring, setelah anak itu remaja, peranan ibu diganti oleh ibu pertiwi, ibu pertiwi itu adalah bumi subur laut kaya, itu adalah simbol dari tanah di mana makanan bersumber dari situ, menulis dengan situasi seperti itu, akan menghasilkan cerpen/novel yang penuh dengan sisi-sisi kemanusiaan.

6. Logika Permukaan

Imajinasi berdasarkan logika/logos juga bisa menghasilkan cerpen yang berbobot. Misalnya, cerpen ilmiah yang mengandung unsur psikologis dan ilmu-ilmu sosial. Dalam hal ini imajinasi seseorang tumbuh dari ilmu pengetahuan, dari logika. Imajinasi yang berasal dari pengetahuan dan logika ini merupakan imajinasi yang bermutu. Namun di sini ada logika permukaan, ada juga logika yang paling dalam yaitu intuisi kreatif.

7. Logika Permukaan atau Intuisi Kreatif

Logika Permukaan atau Intuisi Kreatif lebih banyak memakai gaya bahasa naturalisme, selain itu juga mengandung unsur psikologi dan sosiologi. Misalnya kisah tentang seorang petani yang berjuang menopang hidupnya, tentang pengangguran, tentang orang miskin, tentang pelacuran dll. Melalui pengamatan keadaan di sekitarnya itu, lalu ditambah dengan bacaan yang menambah wawasan atau literature, maka akan tercipta sebuah cerpen yang natural berdasarkan logika atau intuisi kreatif.

8. Logika yang Mudah Dimengerti/Pop

Ada juga cerpen dengan memakai logika yang mudah dimengerti, misalnya cerpen-cerpen/novel tentang kehidupan di masyarakat di amerika yang teratur, mewah dan semuanya serba ada. Apa yang digambarkan dalam cerpen tersebut memakai unsur everyday yang ringan, yang tidak ada gejolak atau tidak ada unsur-unsur humanis, semuanya datar-datar saja. Seperti kisah sebuah rumah tangga yang mewah, hidup nyaman, dan tidak ada gejolak-gejolak yang menggugah sisi kemanusiaan, di dalam cerpen/novel itu tidak ada konflik karena ditulis dengan budaya pop yang burjouis..

9. Konflik Filosofis dan Perang Dunia

Karangan yang berat adalah karangan yang bertutur tentang perang dunia, tentang masalah-masalah besar dalam sejarah, dalam dunia. Di dalam cerpen/novel tersebut dituturkan tentang akibat dari sebuah peperangan di mana banyak orang yang mati. Atau bisa juga menuturkan ada wabah di suatu desa sehingga terjadi endemic yang membuat banyak orang terjangkiti hingga akhirnya meninggal. Contoh lain adalah meletusnya gunung Merapi, di sana terjadi pengungsian besar-besaran, serta meninggalnya Mbah Marijan. Ini juga yang disebut dengan cerpen logika, namun logika yang datang dari hal-hal yang besar. Dari sini kita akan sampai pada filsafat tentang alienasi atau keterasingan manusia. Kita dapat memasukkan unsur politik, seperti komunisme, kapitalisme dsb, tokoh-tokoh dan ide-ide mereka kita masukan, di situ ada konflik-konflik filosofis yang tinggi. Semua itu bisa dituangkan dalam bentuk tulisan. Untuk mengungkapkannya kita harus memiliki perbendaharaan kata yang luas, intelek, sangat penuh dengan data (literer) dan cerdas, artinya karangan seperti ini sudah lebih tinggi dari logika keseharian Amerika (pop), itu sudah bercampur antara agama dan filsafat dan keterasingan manusia. Pengarang-pengarang yang memperoleh hadiah nobel biasanya mengarang seperti itu, contohnya seperti Tolstoy dalam novelnya War and Peace.

Inilah beberapa ulasan ringan tentang penulisan sebuah cerpen/novel. Mudah-mudahan ini bisa menjadi pembelajaran kita selanjutnya dalam membuat sebuah karangan berbentuk cerpen atau novel. Selamat menulis.

Fanny Jonathans Poyk

12 comments:

  1. Wah, bagus banget artikelnya, keren abis.
    sangat bermanfaat bagi saya.
    kalau ada waktu saya berkunjungi lagi.



    #Salam Silaturahmi.

    ReplyDelete
  2. terima kasih atas kunjungannya...

    #salam silaturrahim...

    ReplyDelete
  3. dan jangan lupa juga mbak.. mari kita publish dulu ke blog.. siapa tahu ada masukan dair pihak lain gitu.. :)

    ReplyDelete
  4. siiiip bos... Makasih masukannya... :D

    ReplyDelete
  5. terinma kasih tips jitunya mbak. salam kenal ya, terima kasih juga sudah mampir ketempat saya

    ReplyDelete
  6. iya bunda... Sama2... Terima kasih kembali telah berkunjung...

    #salam ukhuwah... :)

    ReplyDelete
  7. nice posting =D

    aku mampiiirr aahh.. sudah aku follow.. follow back yaa.
    Salam Kenal. ~gia~ \^0^/

    ReplyDelete
  8. yang jelas, menulis itu mengembangkan imajinasi....

    ReplyDelete
  9. @gia: terima kasih sudah berkunjung gia...

    #salam persahabatan :D

    ReplyDelete
  10. @ocha: bener banget cha... Mengembangkan apa yang kita punya. Apapun itu. Dan mudah2an kita selalu menjadi yang lebih baik...

    ReplyDelete
  11. Dan jadilah penulis yang mempunyai ciri khas mba,dalam setiap tulisannya jadi membuat tulisan kita spesial dimata pembaca,caranya harus berani melawan arus genre nulis :D
    Tp kalau aku kagak bisa nulis,wong bikin tulisan aja masih jelek & berantakan

    ReplyDelete
  12. iya nih... Masih belajar juga :D masih suka niru sana niru sini biar suatu saat bisa buat ke-khasa-an sendiri. :p

    tulisan jenengan sudah bagus kok. I love your blog...

    ReplyDelete