Sunday, June 17, 2012

Nggak Pernah Tepat!!!

Tok tok tok...
Suara khas dari nada SMS hape tercintah berbunyi...
Segeralah tangan si cici mencari tau siapa yang meng-SMS-nya. Dan 2 jempol andalan dari sepuluh jari cici bergerak langsung mengutik-ngutik tombol hape, siapa gerangan yang meng-SMS daku. Pas baca SMS, ternyata dari salah satu teman lama nan jauh disana. Tumbenan sih emang, si dia meng-SMSku, tenyata mau konsultasi nih sama cici -> tepatnya sih cuma mau tanya aja, nggak lebih -> tapi cici agak lebay-in dikit (sok-sok merasa di-konsultasi-in padahal 'ora' :p). 

Beneran deh, tiap ada aja yang nanyain cici tentang dunia medis, jantung langsung berdebar-debar, berdetak lebih kencang dari biasanya, mata jadi melek, pikiran siap sedia (dengan memikirkan "bisa nggak ya aku jawab?" :D "apa ya yang mau ditanyainnya?" :p "inget nggak ya pelajaran dulu?" :D "kalo nggak bisa jawab, apa ya responnya?" :p dan lain sebagainya, sampe-sampe bisa capek sendiri, padahal beluuuuum tau nih apa yang mau di sampaikan ke cici), intinya campur-aduk deh!

Melanjutkan cerita tadi, ada teman ku (X) yang SMS-in gini intinya:
"mama ku (si X --- temanku) payudaranya tegang dan nyeri disertai demam juga."

Lalu cici mencoba membalas:
"ada massa ato tidak? kalo ada, massa nya keras ato bagaimana?
coba tekan di ketiak, apa sakit ato tidak? ada bengkak/benjolan ato tidak?"

Si X membalas:
"cuma tegang dan nyeri. tanpa benjolan, kerutan, dan kemerahan."

Si cici malah bingung mau tanggapi apa. Tapi tak jawab gini:
"Udah dibawa ke dokter belum?"

Si X menjawab:
"takutnya kalo ke dokter umum, ntar nggak jelas sama dokternya (-> saya merasa agak rancu, apanya yang nggak jelas? nggak di jelasin dokternya tentang keluhannya ato dokternya yang nggak jelas?). cuma sembuh nyerinya aja. penyakitnya nggak terdeteksi. takutnya gitu. (oooooo, kalo ini mah berarti dokternya men'tretament' si symptom nya).

Cici semakin bingung, ini orang mau curhat ato ngapain yah? hehehe... Tak tanyain lagi:
"emang udah pernah nyoba periksa/ cek ke dokter umum nya, kok bisa bilang gitu?"

Si X jawab:
"pengalaman kalau berobat ke dokter umum, nggak jelas dan ngga tepat aja." (aja nya itu loh yang kagak tahan :p) ===> intinya belum di cek, tapi mungkin ini ada maksudnya juga kali ya...

Masih mewawancarai:
"ya sudah, kalo emang ragu ke dokter umum, cobain ke dokter spesialis penyakit dalam/ bedah..."

X jawab lagi:
"ke spesialis pun sering nggak nyambung juga keluhan sama pengobatan yang dikasih. banyak politiknya juga." ===> astaghfirullah, dalam hatiku...

Lalu heniiiiiiiing agak lamaaaaa... Aku sampe terbata-bata baca SMS ni anak. Gila loh! Mau nyindir para dokter ato ajak berantem?!!! (peace, just kidding :p). Lalu tak bales:
"coba aja dulu, kalo belum pernah nyobain, gimana mau kasih komentar? gimana tau reaksinya? kalo emang dah pengalaman sama dokter tertentu, dan kejadiannya seperti itu, coba ke dokter umum/ spesialis yang lain... siapa tau bisa ditangani :D"

Berhenti disini dulu ya... Mau sedikit berkomentar, lebih tepatnya menyampaikan opini... Kalo memang ada kata salah, maapin ya sebelumnya. Cuma aku nggak mau aja, banyak orang yang terlalu dan selalu dan suka bersuudzon sama para ahli medis, siapapun itu. Mau bidan kek! dokter kek! perawat kek! ahli gizi kek! apoteker kek! dan kek-kek yang lainnya.

Mungkin ini yang pertama kalinya aku sampaikan, bahwa "dokter ato tim medis itu bukan Tuhan yang Maha Segalanya." (lebih spesifiknya) Dokter juga manusia loh. Nah, jadi nggak ada tuh dokter yang berani menjamin 100% apakah pengobatan/ terapi yang mereka berikan bisa menyembuhkan pasien. Harus diingat lagi, dokter itu hanya perpanjangan tangan Tuhan. Berusaha semaksimal mungkin melayani pasien yang membutuhkan. Berusaha agar bisa membantu keluhan pasiennya dengan terapi-terapi tertentu ato tips-tips tertentu. Dengan harapan, semoga Tuhan bisa memudahkan segala upayanya. 

Sebenarnya, dalam mendiagnosa suatu penyakit, dokter hanya AWALnya menduga-duga, lebih tepatnya membuat differential diagnose (DD) sebelum menentukan diagnosis kerjanya. Maka dari itu kadang dokter tak mengatakan langsung penyakit yang diderita pasiennya. Karena yang namanya DD itu, bisa buaaaaaanyak sekali di benak dokter. Terkecuali yang benar-benar tampak gejala dan tanda khasnya. Dengan sepersekian DD tersebut, dokter juga musti belum bisa memastikan pengobatan yang harusnya diberikan -> untuk penyakit tertentu. Karena untuk memberikan treatment et kausa nya harus menjalani beberapa pemeriksaan tambahan untuk penunjang penegakan diagnosis. Jadi, sembari menunggu pemeriksaan/ perkembangan penyakit pasien, mungkin beberapa dokter mencoba untuk menghilangkan/ mengobati gejala-gejala yang dialami pasien terlebih dahulu. Itulah sebabnya, terkadang beberapa orang menganggap ini sebagai sesuatu yang sangat amat salah dan seharusnya tak dilakukan dokter pada pasiennya, seolah tak pernah tepat.

Satu lagi, "Tak semua dokter itu sama dalam mengdiagnosis dan memberikan terapi." Tapi yang pasti, punya 1 tujuan -> semoga pasien bisa terbantu dan lekas sehat kembali :D Dan yang tak kalah penting adalah "inform consent." Ini yang mungkin sering dilalaikan oleh para dokter, tapi semoga tidak yah... (mencambuk diri sendiri!!!)

Lain waktu kita ceritakan lagi ya, tentang cara menegakkan diagnosa suatu penyakit plus treatmentnya... :D Wish my lil'explaination can reduce the warth of some patients to the doctor. The doctor will give the best for his/her patient. Insyaallah... Btw, if you wanna give a feedback or experience or question or statement, just tell me. I would very like to approve it. :D

Once again, "Maap kalo ada salah :)"

No comments:

Post a Comment