Monday, June 18, 2012

Belajar Dari Sekitar

Sebagai manusia sosial, banyak sekali disekeliling kita yang bisa kita jadikan pelajaran. Bukan pelajaran secara akademik seperti di kelas / di kampus saja, tapi lebih ke pelajaran hidup. Pelajaran yang tak semua orang bisa dapatkan di sekolah/ kampusnya. Pelajaran yang bisa menghantarkan kita menjadi manusia yang selalu berusaha untuk bersyukur dan ikhlas atas apa yang Tuhan berikan serta amanahkan pada kita. Pelajaran hidup ini merupakan salah satu tonggak agar bisa menjalani kehidupan dengan lebih baik dan baik lagi. 

Dalam keseharian kita, baik disekeliling rumah kita, sekeliling tempat kerja kita, sekeliling sekolah/kampus kita, biasanya kita (saya) lumayan sering dihadapi dengan beberapa persoalan dan pertanyaan. Layaknya anak kecil, suka bertanya yang aneh-aneh tapi sebenarnya orang dewasa pun bingung jika ditanyakan dengan pertanyaan serupa. Duuuuh, kok malah nyasar kesini pembicaraanya? Ini nih, ada sedikit cerita buat dibaca (ya iyalah, masa buat makan!) :p

Sepagi ini saya menyusuri jalanan. Tepatnya mencari warung makan untuk membeli sarapan pagi. Sebenarnya sudah banyak (istilahnya) langganan tempat saya makan biasanya. Tapi yang namanya mulut selalu ingin bertoleransi dengan berbagai macam ragam makanan. Ya sudah deh, mari kita keliling mencari apa yang bisa dicari :p

Memutar-mutar tak tentu arah adalah hobi saya dan motor saya *GeJe banget. Intinya, mau mencari apa yang bisa dicari. Cuma belum ketemu-ketemu juga. Dan pada akhirnya, aku pun berhenti di salah satu pondok kecil diatapi rumbia digabung dengan seng, dengan satu meja lebar dibawahnya, dan tempat duduk dari kayu yang menenmpel di sisi pondok bersetengah dinding membentuk huruf L. Sebenarnya pondok ini sering banget tak lewati, tapi agak-agak ragu aja, itu tempat jual sayur apa jual buah ya? ato warung makan?

Nah, ternyata itu warung makan. Si mbah-mbah yang punya. Disitu serba murah meriah. Ada pecel madium asli dan buatan beliau ---> satu porsi, seribu. Ada bakmi dengan taburang brambang yang menggiurkan ---> satu porsi, seribu (bisa dicampur dengan pecel, juga tetap seribu). Ada pisang (makan) gede banget yang digantung di tonggak pondoknya ---> satu biji, seribu lima ratus dan empat biji, lima ribu perak saja (duuuuh, senang banget kalo ada tempat makan yang menyediakan pisang, maklumlah, penggemar pisang). Ada sayur lodeh yang baunya wuenak sekali ---> seribu dapat semangkok kecil. Ada telur dadar dengan ascesoris (cabe, daun bawang, bawang merah + putih, kol) didalamnya ---> seribu lima ratus. Ada aneka gorengan, baceman dan kerupuk juga ---> pastinya murah juga, lima ratusan saja. Dan satu lagi yang saya bisa mampir, tempatnya juga bersih dan makanannya ditutupi plastik bening transparan.

Waktu saya menghampiri dan bertanya-tanya harganya, mbah-mbah nya senaaaaaang sekali. Meski saya tak nangkap apa yang beliau bilang, tapi setidaknya saya tak buta untuk dapat melihat gerakan tubuh/ mimik wajahnya sebagai translator pengganti bahasa Jawa nya. Muka beliau berseri-seri, mengingat wajah saya yang masih kucel karena belum mandi, jadi malu sendiri padahal tak ada yang tau, kan?

Satu pelajaran pagi ini (mungkin sudah pernah dengar) adalah kebahagiaan itu tidak dilihat dari apa yang dimiliki (walaupun kaya -raya, pintar, jabatan tinggi, rumah besar, harta berlimpah), tapi lebih kepada kesederhanaan. Kesederhanaan yang dapat menghidupkan manusia seperti si mbah tadi, dengan segenap keceriaan setiap hari yang dilewatinya. Yah, energi positif dari si mbah itu menyentrum saya. Hingga pada akhirnya saya pun ikut bahagia melihat raut wajahnya yang polos dan insyaallah baik hati.

12 comments:

  1. well, kita jangan menutup pintu untuk hidayah2 ato pesan2 sosial yang ingin masuk ke hati kita.. :)

    ReplyDelete
  2. suuuuuupel sekali... :D yang ada disekeliling kita, just take the positive's thing and leave the negative's thing :)

    ReplyDelete
  3. belajarlah dari lingkungan sekitar sebelum anda belejar kehidupan di Paris

    ReplyDelete
  4. @andy: oooooh god... I really wanna go to Paris...

    ReplyDelete
  5. @ainun: simple for simple's person...

    ReplyDelete
  6. wehhh, alam akan memberikan yang terbaik buat kita

    ReplyDelete
  7. @bang dayat: wiiiih, tul tul... Alam juga sumbar ilmu kita. Banyak2lah belajar dr alam. Apalagi dr tumbuhan, yang di sebutkan dalam suatu dalil bahwa tumbuhan-pun tuduk pd Tuhannya :)

    ReplyDelete
  8. dengan kesederhanaan kita tidak akan pernah menyakiti perasaan orang lain, salam kenal pals

    ReplyDelete
  9. @yadibarus: hu uh, betchuuuuul!!! Sederhana itu indah :D salam kenal kembali :)

    ReplyDelete
  10. heeemm betul bgt ntu sob kita harus belajar dari sekitar kita......
    kita harus bisa memanfaatkan dengan baik apah yg ada....

    ReplyDelete
  11. @seniman fotografer: iya itu mah... Tuhan sudah menyediakan semua fasilitas, tinggal manusia yg menggunakan dgn sebaik nya :D

    ReplyDelete