Wednesday, June 13, 2012

Beberapa Penggal Kata

Cici bakal tulisin poin-poinnya saja ya dan mungkin dah tak edit-edit sikit... Kalimatnya, suratnya ngena banget. Mirip bahkan sama dengan apa yang ku rasakan, yang ku pikirkan, yang ku tahu dan yang ku alami. Selamat menikmati :)

Halaman 91

20 tahun dari sekarang, kita akan lebih menyesal atas hal-hal yang tidak pernah kita lakukan, bukan atas hal-hal yang pernah kita lakukan meski itu sebuah kesalahan.

Halaman 107

Tahukan anda hal yang paling menyedihkan di dunia ini? Bukan! Bukan seseorang yang cacat atau memiliki keterbatasan fisik. Bukan itu! Melainkan seseorang yang sehat, normal, sempurna fisiknya, tapi justru memiliki keterbatasan akal pikiran. Bebal. Bodoh.

Tidak. Itu tidak ada hubunganya dengan tingkat kecerdasan. Itu lebih karena perasaan sombong, angkuh, merasa paling hebat, sok-tahu, dan sebagainya.

Halaman 110-111

Ibu, dulu aku pernah bertanya sendiri dalam gelap... Apa bedanya sebutir air bening diujung daun dengan sebutir debu di dinding yang kusam? Dulu, tiada bisa yang memberi jawab. Tidak ada. Hari ini aku menemukan sendiri jawabannya. Apa bedanya? Tidak ada. Sama sekali tidak ada bedanya... Keduanya sama-sama keniscayaan kekuasaan-Nya. Keduanya sama-sama mensucikan, meski hakikat dan fisiknya jauh berbeda.

Ibu, dulu aku pernah sendiri betanya dalam sesak... Apa bedanya tahu dan tidak tahu? Apa bedanya kenal dan tidak kenal? Apa bedanya ada dan tiada? Dulu, tiada bisa yang memberi jawab. Hari ini aku juga tetap tidak tahu begitu banyak potongan pertanyaan. Tapi tak mengapa. Setidaknya masih bisa melihat, mendengar, dan terus berpikir. Ada banyak yang tidak lagi. Tepatnya membutakan diri. Menulikan kepala. Atau membebalkan hati.

Halaman 140-141

Ibu, rasa nyaman selalu mebuat orang-orang sulit berubah. Celakanya, kami sering kali tidak tahu kalau kami sudah terjebak oleh perasaan nyaman itu. Padahal di luar sana, di tengah hujan deras, petih, guntur, janji kehidupan yang lebih baik boleh jadi sedang menanti. Kami justru tetap bertahan di pondok reot dengan atap rumbia yang tampias di mana-mana, merasa nyaman, selalu mencari alasan untuk berkata tidak atas perubahan, selalu berkata 'tidak'.

Ibu, rasa takut juga sering membuat orang-orang sulit berubah. Celakanya, kami sering kali tidak tahu kalau hampir semua yang kami takuti hanyalah sesuatu yang bahkan tidak pernah terjadi. Kami hanya gentar oleh sesuatu yang boleh jadi ada, boleh jadi tidak. Hanya mereka-reka, lantas mengutai kekuatan itu, bahkan kami tega menciptakan sendiri rasa takut itu, menjadikannya temeng untuk tidak mau berubah.

Halaman 150

Ibu, semua urusan ini sedikit pun belum terlihat ujung terangnya. Kalimat itu benar sekali, jika ingin menyembuhkan bisul, pecahkan saja sekalian! Sakit memang. Tapi cepat atau lambat bisul itu juga tetap akan pecah. Banyak sekali orang-orang yang takut melakukannya. Berpikir terlalu panjang, berhitung terlalu rumit! Padahal setelah bisulnya pecah, malah berseru lega. Benar-benar omong kosong menyedihkan manusia yang setiap hari justru sombong dengan kehebatan otaknya!

Halaman 182-183

Ibu, bagi musafir setelah melalui perjalanan jauh melelahkan, penuh sakit, sendiri, dan sesak, sebuah pemberhentian kecil selalu menjadi ase sejuk pelepas dahaga. Setelah keseharian yang penat, rutinitas yang menjemukan, sebuah kabar gembira kecil selalu mmenjadi selingan yang menyenangkan. Juga setelah semua penderitaan, semua rasa putus asa melewati lorong panjang nan gelap, sebuah titik cahaya, sekecil apapun nyalanya, selalu menjadi kabar baik. Janji-janji perubahan.

Padahal, itu selalu terjadi pada kami. Pemberhentian kecil. Kabar gembira. Titik cahaya. Setiap hari kami menemuinya. Masalahnya kami selalu lalai mengenalinya, kecuali itu benar-benar kejadian yang luar biasa. Atau jangan-jangan kami terlalu bebal untuk menyadarinya, mengetahui pernak-pernik kehidupan selalu dipenuhi oleh janji perubahan.

Ibu, kami juga lalai untuk mengerti, terkadang setelah pemberhentian kecil menyenangkan itu, justru jalanan menikung, penuh jurang, dan onak telah siap menunggu. Terkadang setelah selingan yang menyenangkan itu, gelap gulita sempurna siap mengungkung, membuat semuanya semakin terasa sesak, sakit, dan pehu putus asa.

Tapi tak mengapa, ibu... Setidaknya hari ini, pagi ini, biarlah kai bergembira atas kabar baik ini. Apapun itu.

Halaman 197

Dalam proses kepergian, lazimnya yang pergi selalu lebih ringan dibandingkan yang ditinggalkan. Lebih ringan untuk melupakan... Yang pergi akan menemui tempat-tempat baru, kehidupan-kehidupan baru, kenalan-kenalan baru, yang pelan tapi pasti semua itu akan mengisi dan menggantikan kenangan lama. Sementara yang ditinggalkan lazimnya tetap berkutat dengan segala kenangan itu...

Halaman 244

Apakah tembo itu benar-benar tidak ada celahnya, ya Tuhan? Apakah sama sekali tidak ada? Lantas dimana janji-janji Mu yang tergurat di kitab suci? Dimana janji-janji itu? Setiap kesulitan pasti ada kemudahan? Di mana kemudahan urusan ini?

--------> Ya Allah, mudahkanlah segala urusanku... Bantu aku untuk menembus pembatas yang ada dalam diri ini. Ibu, ku butuh doa-mu...

4 comments:

  1. Replies
    1. tentang seorang anak bernama karang yang tak pernah kenal/tau dengan kedua orang tuanya, yang banyak mencurahkan hatinya untuk anak-anak dan sering mengadukan keluh kesahnya lewat mesin ketik tua untuk sang bunda. silakan baca bukunya :D (moga bunda disayang allah - tere liye) -> http://momogeo.blogspot.com/2012/06/moga-bunda-disayang-allah-tere-liye.html

      Delete
  2. dekatlah dengan Tuhan,maka semua masalahmu akan terasa mudah & ringan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul!!! :) sesungguhnya allah selalu didekat kita (manusia), tapi banyak dari kita yang tak mendekatiNya. Barakallahulanaa :D

      Delete