Friday, June 29, 2012

Love To Read - Love To Write

Yah, kata diatas ku kutip dari salah satu Web Domain sebuah Publisher. Numpang mengarang ya, dari kutipannya :D

Punten...

<---Love To Read--->

Membaca biasanya merupakan salah satu dari berbagai macam hobi yang ada. Bukan hanya sekedar hobi, mungkin ada yang membaca karena tuntutan pekerjaan, atau ada yang membaca hanya ingin mengisi kebete-an dan sebagai pelampiasan (mungkin lagi patah hati :p). Membaca juga bisa menjadi sangat berarti bagi orang yang menganggapnya sebagai hidup dan mati mereka. Mungkin tanpa membaca dalam sehari (baca alay nya: se-per se-detik pu) saja bisa membuat hidupnya kacau. Btw, ada ngak ya orang yang seperti itu??? Yang pastinya tiap orang memiliki kisah berbeda tentang masalah "membaca" ini. Bagaimana dengan sobat-sobat disana??? :D

"Reading" was not one of my hobbies. But now, I will try to "Love to Read." Coz I know, life is not easy like what I have shown. So, reading is one of te most important thing that makes me easier to live the life. I just wanna make sure that we as a human have to fill this brain with more and more to imagine through "reading." As we knew, "reading is a travelling without anymovement."


<---Love To Write--->

Menulis juga bisa dijadikan suatu hobi. Selain hobi, menulis adalah hal yang sangat penting untuk memperbaharui bahasa kita. Jujur nih, meski aku tak pandai menulis sekarang, aku ingiiiiin sekali suatu saat bisa menjadi seorang penulis. Bukan penulis yang baik jika tak punya cita-cita tinggi walaupun pencapaian hanya dibawah target. Yah, dari penulis amatiran menjadi penulis handalan. Amin. Oya, aku pun sangat senang membaca tulisan teman-teman yang ada di dunia per-blogging-an. Jika aku merasa iri, ini justru yang akan menguatkanku bahwa ku harus lebih banyak belajar dan lebih banyak mencoba (sesuau yang baru dan baik). Jika aku merasa malu dengan tulisan ku yang masih kacau balau, ku tahu pasti bahwa ini semua adalah proses. Proses menjadi lebih baik lagi.

"Writing" was not my hobby too. Maybe we can say this is a stiving for me, for our better life, for the quality of life itself. So, if you find my mistake, just tell me. I have to learn from all of you. :D

Nuwun ngiiiih...

Monday, June 18, 2012

Belajar Dari Sekitar

Sebagai manusia sosial, banyak sekali disekeliling kita yang bisa kita jadikan pelajaran. Bukan pelajaran secara akademik seperti di kelas / di kampus saja, tapi lebih ke pelajaran hidup. Pelajaran yang tak semua orang bisa dapatkan di sekolah/ kampusnya. Pelajaran yang bisa menghantarkan kita menjadi manusia yang selalu berusaha untuk bersyukur dan ikhlas atas apa yang Tuhan berikan serta amanahkan pada kita. Pelajaran hidup ini merupakan salah satu tonggak agar bisa menjalani kehidupan dengan lebih baik dan baik lagi. 

Dalam keseharian kita, baik disekeliling rumah kita, sekeliling tempat kerja kita, sekeliling sekolah/kampus kita, biasanya kita (saya) lumayan sering dihadapi dengan beberapa persoalan dan pertanyaan. Layaknya anak kecil, suka bertanya yang aneh-aneh tapi sebenarnya orang dewasa pun bingung jika ditanyakan dengan pertanyaan serupa. Duuuuh, kok malah nyasar kesini pembicaraanya? Ini nih, ada sedikit cerita buat dibaca (ya iyalah, masa buat makan!) :p

Sepagi ini saya menyusuri jalanan. Tepatnya mencari warung makan untuk membeli sarapan pagi. Sebenarnya sudah banyak (istilahnya) langganan tempat saya makan biasanya. Tapi yang namanya mulut selalu ingin bertoleransi dengan berbagai macam ragam makanan. Ya sudah deh, mari kita keliling mencari apa yang bisa dicari :p

Memutar-mutar tak tentu arah adalah hobi saya dan motor saya *GeJe banget. Intinya, mau mencari apa yang bisa dicari. Cuma belum ketemu-ketemu juga. Dan pada akhirnya, aku pun berhenti di salah satu pondok kecil diatapi rumbia digabung dengan seng, dengan satu meja lebar dibawahnya, dan tempat duduk dari kayu yang menenmpel di sisi pondok bersetengah dinding membentuk huruf L. Sebenarnya pondok ini sering banget tak lewati, tapi agak-agak ragu aja, itu tempat jual sayur apa jual buah ya? ato warung makan?

Nah, ternyata itu warung makan. Si mbah-mbah yang punya. Disitu serba murah meriah. Ada pecel madium asli dan buatan beliau ---> satu porsi, seribu. Ada bakmi dengan taburang brambang yang menggiurkan ---> satu porsi, seribu (bisa dicampur dengan pecel, juga tetap seribu). Ada pisang (makan) gede banget yang digantung di tonggak pondoknya ---> satu biji, seribu lima ratus dan empat biji, lima ribu perak saja (duuuuh, senang banget kalo ada tempat makan yang menyediakan pisang, maklumlah, penggemar pisang). Ada sayur lodeh yang baunya wuenak sekali ---> seribu dapat semangkok kecil. Ada telur dadar dengan ascesoris (cabe, daun bawang, bawang merah + putih, kol) didalamnya ---> seribu lima ratus. Ada aneka gorengan, baceman dan kerupuk juga ---> pastinya murah juga, lima ratusan saja. Dan satu lagi yang saya bisa mampir, tempatnya juga bersih dan makanannya ditutupi plastik bening transparan.

Waktu saya menghampiri dan bertanya-tanya harganya, mbah-mbah nya senaaaaaang sekali. Meski saya tak nangkap apa yang beliau bilang, tapi setidaknya saya tak buta untuk dapat melihat gerakan tubuh/ mimik wajahnya sebagai translator pengganti bahasa Jawa nya. Muka beliau berseri-seri, mengingat wajah saya yang masih kucel karena belum mandi, jadi malu sendiri padahal tak ada yang tau, kan?

Satu pelajaran pagi ini (mungkin sudah pernah dengar) adalah kebahagiaan itu tidak dilihat dari apa yang dimiliki (walaupun kaya -raya, pintar, jabatan tinggi, rumah besar, harta berlimpah), tapi lebih kepada kesederhanaan. Kesederhanaan yang dapat menghidupkan manusia seperti si mbah tadi, dengan segenap keceriaan setiap hari yang dilewatinya. Yah, energi positif dari si mbah itu menyentrum saya. Hingga pada akhirnya saya pun ikut bahagia melihat raut wajahnya yang polos dan insyaallah baik hati.

Sunday, June 17, 2012

Nggak Pernah Tepat!!!

Tok tok tok...
Suara khas dari nada SMS hape tercintah berbunyi...
Segeralah tangan si cici mencari tau siapa yang meng-SMS-nya. Dan 2 jempol andalan dari sepuluh jari cici bergerak langsung mengutik-ngutik tombol hape, siapa gerangan yang meng-SMS daku. Pas baca SMS, ternyata dari salah satu teman lama nan jauh disana. Tumbenan sih emang, si dia meng-SMSku, tenyata mau konsultasi nih sama cici -> tepatnya sih cuma mau tanya aja, nggak lebih -> tapi cici agak lebay-in dikit (sok-sok merasa di-konsultasi-in padahal 'ora' :p). 

Beneran deh, tiap ada aja yang nanyain cici tentang dunia medis, jantung langsung berdebar-debar, berdetak lebih kencang dari biasanya, mata jadi melek, pikiran siap sedia (dengan memikirkan "bisa nggak ya aku jawab?" :D "apa ya yang mau ditanyainnya?" :p "inget nggak ya pelajaran dulu?" :D "kalo nggak bisa jawab, apa ya responnya?" :p dan lain sebagainya, sampe-sampe bisa capek sendiri, padahal beluuuuum tau nih apa yang mau di sampaikan ke cici), intinya campur-aduk deh!

Melanjutkan cerita tadi, ada teman ku (X) yang SMS-in gini intinya:
"mama ku (si X --- temanku) payudaranya tegang dan nyeri disertai demam juga."

Lalu cici mencoba membalas:
"ada massa ato tidak? kalo ada, massa nya keras ato bagaimana?
coba tekan di ketiak, apa sakit ato tidak? ada bengkak/benjolan ato tidak?"

Si X membalas:
"cuma tegang dan nyeri. tanpa benjolan, kerutan, dan kemerahan."

Si cici malah bingung mau tanggapi apa. Tapi tak jawab gini:
"Udah dibawa ke dokter belum?"

Si X menjawab:
"takutnya kalo ke dokter umum, ntar nggak jelas sama dokternya (-> saya merasa agak rancu, apanya yang nggak jelas? nggak di jelasin dokternya tentang keluhannya ato dokternya yang nggak jelas?). cuma sembuh nyerinya aja. penyakitnya nggak terdeteksi. takutnya gitu. (oooooo, kalo ini mah berarti dokternya men'tretament' si symptom nya).

Cici semakin bingung, ini orang mau curhat ato ngapain yah? hehehe... Tak tanyain lagi:
"emang udah pernah nyoba periksa/ cek ke dokter umum nya, kok bisa bilang gitu?"

Si X jawab:
"pengalaman kalau berobat ke dokter umum, nggak jelas dan ngga tepat aja." (aja nya itu loh yang kagak tahan :p) ===> intinya belum di cek, tapi mungkin ini ada maksudnya juga kali ya...

Masih mewawancarai:
"ya sudah, kalo emang ragu ke dokter umum, cobain ke dokter spesialis penyakit dalam/ bedah..."

X jawab lagi:
"ke spesialis pun sering nggak nyambung juga keluhan sama pengobatan yang dikasih. banyak politiknya juga." ===> astaghfirullah, dalam hatiku...

Lalu heniiiiiiiing agak lamaaaaa... Aku sampe terbata-bata baca SMS ni anak. Gila loh! Mau nyindir para dokter ato ajak berantem?!!! (peace, just kidding :p). Lalu tak bales:
"coba aja dulu, kalo belum pernah nyobain, gimana mau kasih komentar? gimana tau reaksinya? kalo emang dah pengalaman sama dokter tertentu, dan kejadiannya seperti itu, coba ke dokter umum/ spesialis yang lain... siapa tau bisa ditangani :D"

Berhenti disini dulu ya... Mau sedikit berkomentar, lebih tepatnya menyampaikan opini... Kalo memang ada kata salah, maapin ya sebelumnya. Cuma aku nggak mau aja, banyak orang yang terlalu dan selalu dan suka bersuudzon sama para ahli medis, siapapun itu. Mau bidan kek! dokter kek! perawat kek! ahli gizi kek! apoteker kek! dan kek-kek yang lainnya.

Mungkin ini yang pertama kalinya aku sampaikan, bahwa "dokter ato tim medis itu bukan Tuhan yang Maha Segalanya." (lebih spesifiknya) Dokter juga manusia loh. Nah, jadi nggak ada tuh dokter yang berani menjamin 100% apakah pengobatan/ terapi yang mereka berikan bisa menyembuhkan pasien. Harus diingat lagi, dokter itu hanya perpanjangan tangan Tuhan. Berusaha semaksimal mungkin melayani pasien yang membutuhkan. Berusaha agar bisa membantu keluhan pasiennya dengan terapi-terapi tertentu ato tips-tips tertentu. Dengan harapan, semoga Tuhan bisa memudahkan segala upayanya. 

Sebenarnya, dalam mendiagnosa suatu penyakit, dokter hanya AWALnya menduga-duga, lebih tepatnya membuat differential diagnose (DD) sebelum menentukan diagnosis kerjanya. Maka dari itu kadang dokter tak mengatakan langsung penyakit yang diderita pasiennya. Karena yang namanya DD itu, bisa buaaaaaanyak sekali di benak dokter. Terkecuali yang benar-benar tampak gejala dan tanda khasnya. Dengan sepersekian DD tersebut, dokter juga musti belum bisa memastikan pengobatan yang harusnya diberikan -> untuk penyakit tertentu. Karena untuk memberikan treatment et kausa nya harus menjalani beberapa pemeriksaan tambahan untuk penunjang penegakan diagnosis. Jadi, sembari menunggu pemeriksaan/ perkembangan penyakit pasien, mungkin beberapa dokter mencoba untuk menghilangkan/ mengobati gejala-gejala yang dialami pasien terlebih dahulu. Itulah sebabnya, terkadang beberapa orang menganggap ini sebagai sesuatu yang sangat amat salah dan seharusnya tak dilakukan dokter pada pasiennya, seolah tak pernah tepat.

Satu lagi, "Tak semua dokter itu sama dalam mengdiagnosis dan memberikan terapi." Tapi yang pasti, punya 1 tujuan -> semoga pasien bisa terbantu dan lekas sehat kembali :D Dan yang tak kalah penting adalah "inform consent." Ini yang mungkin sering dilalaikan oleh para dokter, tapi semoga tidak yah... (mencambuk diri sendiri!!!)

Lain waktu kita ceritakan lagi ya, tentang cara menegakkan diagnosa suatu penyakit plus treatmentnya... :D Wish my lil'explaination can reduce the warth of some patients to the doctor. The doctor will give the best for his/her patient. Insyaallah... Btw, if you wanna give a feedback or experience or question or statement, just tell me. I would very like to approve it. :D

Once again, "Maap kalo ada salah :)"

Saturday, June 16, 2012

Entahlah!

Pernahkan bingung dengan pertanyaan-pertanyaan aneh yang muncul di kepala kita? Bermacam-macam pertanyaan yang jika kita tanya pada orang, mereka malah balik ketawain ato malah cuekin. Bingung dengan orang yang kehidupannya mapan, pinter, hebat sana sini, tapi seolah tak terlihat rasa senang yang menyinggahi pondok hatinya. Bingung sama orang yang menyatakan cinta dan sayangnya pada seseorang, tapi seolah tak ada sedikitpun rasa tersebut menyentuh kebenaran pernyataannya.

Apakah perasaan itu memang tidak harus selalu diiringi dengan pembuktian yang nyata? Dulu, rasulullah pernah ditentang dan tak dierima oleh suatu kaum/ musuhnya. Tapi rasulullah selalu sabar dan menerimanya. Dalam hati beliau tak ada dendam, karena kita tahu Rasulullah adalah insan yang paling sempurna didunia ini. Malah Rasulullah menyayangi semua musuhnya. Hingga suatu saat salah satu musuh Rasulullah sakit, dan beliau menjenguknya dan memperlihatkan betapa sayang beliau pada musuhnya tersebut. Dan musuhnya bisa merasakan itu semua. Yah, Rasulullah made it become true. So, his anemy would be knowing dan feeling what Rasulullah's feeling to them.

Entahlah, sebenarnya bingung juga mau nyampein apa. Mungkin bakalan nggak ngerti sama apa yang tak tulis. Karena ane juga lagi bingung :p

(hari kelabu, 14 Juni 12)

Wednesday, June 13, 2012

Beberapa Penggal Kata

Cici bakal tulisin poin-poinnya saja ya dan mungkin dah tak edit-edit sikit... Kalimatnya, suratnya ngena banget. Mirip bahkan sama dengan apa yang ku rasakan, yang ku pikirkan, yang ku tahu dan yang ku alami. Selamat menikmati :)

Halaman 91

20 tahun dari sekarang, kita akan lebih menyesal atas hal-hal yang tidak pernah kita lakukan, bukan atas hal-hal yang pernah kita lakukan meski itu sebuah kesalahan.

Halaman 107

Tahukan anda hal yang paling menyedihkan di dunia ini? Bukan! Bukan seseorang yang cacat atau memiliki keterbatasan fisik. Bukan itu! Melainkan seseorang yang sehat, normal, sempurna fisiknya, tapi justru memiliki keterbatasan akal pikiran. Bebal. Bodoh.

Tidak. Itu tidak ada hubunganya dengan tingkat kecerdasan. Itu lebih karena perasaan sombong, angkuh, merasa paling hebat, sok-tahu, dan sebagainya.

Halaman 110-111

Ibu, dulu aku pernah bertanya sendiri dalam gelap... Apa bedanya sebutir air bening diujung daun dengan sebutir debu di dinding yang kusam? Dulu, tiada bisa yang memberi jawab. Tidak ada. Hari ini aku menemukan sendiri jawabannya. Apa bedanya? Tidak ada. Sama sekali tidak ada bedanya... Keduanya sama-sama keniscayaan kekuasaan-Nya. Keduanya sama-sama mensucikan, meski hakikat dan fisiknya jauh berbeda.

Ibu, dulu aku pernah sendiri betanya dalam sesak... Apa bedanya tahu dan tidak tahu? Apa bedanya kenal dan tidak kenal? Apa bedanya ada dan tiada? Dulu, tiada bisa yang memberi jawab. Hari ini aku juga tetap tidak tahu begitu banyak potongan pertanyaan. Tapi tak mengapa. Setidaknya masih bisa melihat, mendengar, dan terus berpikir. Ada banyak yang tidak lagi. Tepatnya membutakan diri. Menulikan kepala. Atau membebalkan hati.

Halaman 140-141

Ibu, rasa nyaman selalu mebuat orang-orang sulit berubah. Celakanya, kami sering kali tidak tahu kalau kami sudah terjebak oleh perasaan nyaman itu. Padahal di luar sana, di tengah hujan deras, petih, guntur, janji kehidupan yang lebih baik boleh jadi sedang menanti. Kami justru tetap bertahan di pondok reot dengan atap rumbia yang tampias di mana-mana, merasa nyaman, selalu mencari alasan untuk berkata tidak atas perubahan, selalu berkata 'tidak'.

Ibu, rasa takut juga sering membuat orang-orang sulit berubah. Celakanya, kami sering kali tidak tahu kalau hampir semua yang kami takuti hanyalah sesuatu yang bahkan tidak pernah terjadi. Kami hanya gentar oleh sesuatu yang boleh jadi ada, boleh jadi tidak. Hanya mereka-reka, lantas mengutai kekuatan itu, bahkan kami tega menciptakan sendiri rasa takut itu, menjadikannya temeng untuk tidak mau berubah.

Halaman 150

Ibu, semua urusan ini sedikit pun belum terlihat ujung terangnya. Kalimat itu benar sekali, jika ingin menyembuhkan bisul, pecahkan saja sekalian! Sakit memang. Tapi cepat atau lambat bisul itu juga tetap akan pecah. Banyak sekali orang-orang yang takut melakukannya. Berpikir terlalu panjang, berhitung terlalu rumit! Padahal setelah bisulnya pecah, malah berseru lega. Benar-benar omong kosong menyedihkan manusia yang setiap hari justru sombong dengan kehebatan otaknya!

Halaman 182-183

Ibu, bagi musafir setelah melalui perjalanan jauh melelahkan, penuh sakit, sendiri, dan sesak, sebuah pemberhentian kecil selalu menjadi ase sejuk pelepas dahaga. Setelah keseharian yang penat, rutinitas yang menjemukan, sebuah kabar gembira kecil selalu mmenjadi selingan yang menyenangkan. Juga setelah semua penderitaan, semua rasa putus asa melewati lorong panjang nan gelap, sebuah titik cahaya, sekecil apapun nyalanya, selalu menjadi kabar baik. Janji-janji perubahan.

Padahal, itu selalu terjadi pada kami. Pemberhentian kecil. Kabar gembira. Titik cahaya. Setiap hari kami menemuinya. Masalahnya kami selalu lalai mengenalinya, kecuali itu benar-benar kejadian yang luar biasa. Atau jangan-jangan kami terlalu bebal untuk menyadarinya, mengetahui pernak-pernik kehidupan selalu dipenuhi oleh janji perubahan.

Ibu, kami juga lalai untuk mengerti, terkadang setelah pemberhentian kecil menyenangkan itu, justru jalanan menikung, penuh jurang, dan onak telah siap menunggu. Terkadang setelah selingan yang menyenangkan itu, gelap gulita sempurna siap mengungkung, membuat semuanya semakin terasa sesak, sakit, dan pehu putus asa.

Tapi tak mengapa, ibu... Setidaknya hari ini, pagi ini, biarlah kai bergembira atas kabar baik ini. Apapun itu.

Halaman 197

Dalam proses kepergian, lazimnya yang pergi selalu lebih ringan dibandingkan yang ditinggalkan. Lebih ringan untuk melupakan... Yang pergi akan menemui tempat-tempat baru, kehidupan-kehidupan baru, kenalan-kenalan baru, yang pelan tapi pasti semua itu akan mengisi dan menggantikan kenangan lama. Sementara yang ditinggalkan lazimnya tetap berkutat dengan segala kenangan itu...

Halaman 244

Apakah tembo itu benar-benar tidak ada celahnya, ya Tuhan? Apakah sama sekali tidak ada? Lantas dimana janji-janji Mu yang tergurat di kitab suci? Dimana janji-janji itu? Setiap kesulitan pasti ada kemudahan? Di mana kemudahan urusan ini?

--------> Ya Allah, mudahkanlah segala urusanku... Bantu aku untuk menembus pembatas yang ada dalam diri ini. Ibu, ku butuh doa-mu...

Thursday, June 7, 2012

Tetes Air Mata Ini Selalu Ada

Tiada hari tanpa menangis. Itulah motto yang melekat pada seorang gadis yang berada di tepi kabupaten (di suatu daerah). Ia adalah seorang gadis yang sedang mempelajari banyak hal. Bahkan saking menumpuk di otaknya, ia kewalahan menampungnya karena otaknya bisa dikatakan rada-rada lemot, tak seperti kebanyakan orang. Sumber pembelajarannya diambil dari alam, lingkungan, tetangga, teman, keluarga, komunitas, dan pastinya gejala-gejala kehidupan yang selalu berputar menemani dirinya. Ia menikmati kesemua kejadian dalam hidupnya. Mulai dari yang terkecil seperti memotong kuku di jari-jari tangan dan kaki nya. Hingga yang terbesar seperti saat ia harus menerima kegagalan demi kegagalan yang seiring waktu sering menemaninya (baca: saking hampir semua yang diusahakannya itu gagal). 

Tangisan adalah sesuatu yang selalu mengiringinya untuk mencari kenikmatan tersendiri pada suatu kejadian (kajadian ajaib/ tak disangka maupun kejadian yang tak diharapkan). Hampir setiap hari ia menangis dan merasa capek karena matanya yang sangat lelah mengompres kelenjar air mata serta kelopak mata yang letih menampung tetesan demi tetesan air mata yang mengisi kantong palpebra hingga air mata jatuh deras dari tempat aslinya. Tak ada yang bisa ia ajak bicara. Sunyi. Senyap. Lalu disaut kumandang adzan membuatnya selalu bersyukur masih diberikan kenikmatan untuk menghirup udara yang tak pernah ia bayar sepersenpun pada yang menciptakannya.

Dia tau, setiap ia merasa letih, ini disebabkan oleh matanya. Matanya seolah menjadi organ vital dalam tubuhnya. Jika ia merasa letih, kadang air mata juga keluar (memang lebay ni orang yah?). Sering menangis identik dengan kata 'cengeng'. Yap, cengeng itupun banyak makna baginya. Karena dengan kecengengannya, ia bisa tenang, membuatnya ngantuk saat tak bisa tidur (karena mata bengkak bisa memicunya ngantuk), bisa melegakannya saat ia ada masalah, pelepas rindu pada Tuhannya walaupun Tuhannya selalu dekat dengannya bahkan lebih dekat dari urat nadinya, pokok ke buanyak deh!

So, tetes air mata ini juga yang sering menemaninya saat dalam kesendirian seolah tak ada yang peduli padanya, menasehati pikiran nakalnya, melunakkan hatinya yang keras sekeras benda padat apapun yang terkeras didunia ini, menerima semua takdir Tuhan untuknya, dan banyak yang lainnya. Kalo ditulisin satu-satu, bisa berabe nanti karena memang tangisan ini adalah nikmat dari Tuhannya. Seperti kita ketahui, jika daratan dijadikan kertas dan lautan dijadikan tintanya, bakalan nggak muat jika dituliskan nikmat Tuhan tersebut. :D 

Syaratnya Hanya 3



Hanya ada 3 syarat, tapi maknanya bukan sekedar 'hanya'...

Syarat keimanan ada 3:
Yang pertama, sebelum yang kedua. Yang kedua, sebelum yang ketiga. Dst... Ya iya lah...
- Ucapkan dengan lidah
- Benarkan dengan hati
- Buktikan dengan perbuatan

Orang yang hatinya mengatakan 'ini', tapi bilang nya 'itu'. Ini nih yang namanya 'munafik'. Tapi dia bilang 'ini', hatinya juga 'ini', tapi tak membuktikan dengan action. Ini yang namanya 'fasik'. So, beda lo ya sama yang namanya 'kafir'. Kafir itu kalo tidak membenarkan dari hati.

Sungguh ini adalah tugas yang berat bagi seorang manusia karena, memang 'tak ada manusia yang sempurna'. Semoga dengan pengoptimalan ketaatan padaNya, bisa mencerminkan sifat-sifat terpuji. Amin...

Monday, June 4, 2012

Inikah Namanya Kelemahan?

Banyak orang yang kita kenali akan membawa kenangan tersendiri. Walaupun pada akhirnya ada berbagai macam kesan yang dapat tersimpulkan. Dia baik. Dia jahat. Dia pelit. Dia sombong. Dia penakut. Dia pendiam. Dia pemarah. Dia penurut. Dan banyak 'dia' yang lainnya.

Ku tau ini mungkin terlihat sangat amat munafik. Tapi memang benar, aku takut sekali menyakiti hati orang. Hanya ingin menjaga itu? Betul! Hati-hati menjaga hati. Hati kita dan orang lain. Sepertinya hal ini malah membuat kebohongan besar kepada banyak orang dengan ke-sok-tenangan nya. Menganggap semua baik-baik saja. Di giniin, (dalam hati muarah/ sebel, tapi malah jawab) nggak apa-apa. Digituin, (dalam hati mau meninju-ninju bahkan mengamuk, tapi dibilang) nggak masalah. 

Apakah salah ya kalo aku seperti itu? Ntahlah, hanya Tuhan yang tau (jawaban para religiouser). Tapi ini bisa dibilang suatu kelemahan. Kelemahan dalam diri kita (baca: ku). Susah buat mengeksplorasikan kata-kata. Sebenarnya banyak alasan, tapi yang paling kuat adalah karena takut membuat orang lain tersakiti olehku. Takut banget! Bukannya cari aman lo ya. Mungkin lebih ke perasaan aja kali :p

Saturday, June 2, 2012

Mitos

Dari beberapa artikel yang aku baca, mitos memiliki pengertian cerita  prosa rakyat yang menceritakan kisah berlatar masa lampau, mengandung penafsiran tentang alam semesta, dan  keberadaa makhluk didalamnya, serta dianggap benar oleh empunya cerita dan penganutnya. Jadi, sebenarnya mitos tu benar nggak ya? Ya, tergantung sih kalo menurutku. :D

Kita batasin dulu ya? Bukan mitos dalam arti luas. Hanya mitos tentang angka 4 dan 13. Karena aku juga pernah ngalamin nih... Di suatu tempat belanja alat-alat rumah tangga. Di sana ada 5 lantai plus basement tempat parkir mobil, tapi nggak ada nomor 4 nya. Kalo naik lift, hanya ada tombol B, 1, 2, 3, 3A, dan 5. Awalnya sih biasa-biasa aja. Mungkin di kota-kota emang gitu kali ya (maklumlah, kan orang kampung). Tapi lama-kelamaan malah jadi pertanyaan. Nah, ini nih (mungkin) jawabannya,,,

Ahli Fengsui China/ Tionghoa/ Jepang menanggapi kalau angka 4 dan 13 merupakan angka mati, menguji nalar, rusak, dan buruk. Jadi memang banyak yang mengganggap mitos-mitos ini benar adanya, bahwa angka 4 dan 13 adalah angka yang sial. Misalnya, para pedagang beranggapan bisa tidak laris/ mudah bangkrut. Dihotel atau mall yang sering menghilangkan angka tersebut, misalnya di lokasi parkiran (menghilangkan tanda-tanda yang ada berhubungan dengan angka 4/13), di tangga (meniadakan angka 4/13), di lift (dari lift ke 3 langsung ke 5 dan dari 12 angsung ke 15), kamar hotel, dan lain sebagainya. So, mereka menghindari angaka-angka tersebut.

Alasannya beragam sekali. Banyak kemungkinan-kemungkinan atau kepercayaan-kepercayaan yang sangat berpengaruh sebagai alasannya. Namun percaya atau tidak, semua angka yang diciptakan ada maknanya. Benar nggak? Tapi yang pastinya, kembali lagi pada diri kita sendiri, bagaimana kita memaknainya. Percaya atau tidak, tergantung kita aja deh! Ora usah mekso! :p Pendidikan tinggi dan sudah modern bukanlah sebagai jaminan. Karena, kalo yang namanya kepercayaan, suli untuk di toleransi.

Tidak 100% orang percaya dengan (mitos) itu semua. Kalo di Amerika justru angka 13 adalah angka hoki :p Jadi bagaimana? Ya, depends on ourselves. Kalo ada baiknya, ambil. Tapi kalo menurut kita nggak baik, ya nggak usah diturutin dan jangan sok-sok-an kalo diri kita yang benar. Karena hanya yang Kuasa yang tau... :D

Jayalah Indonesiaku

Bisa melihat orang lain yang maju dan semakin maju adalah suatu pemandangan yang menggugah mata menggelitik hati. Alangkah senangnya hati jika bisa menikmati percikan kemajuan orang lain, setidaknya ada motivasi tersendiri yang merong-rong kita agar bisa  seperti mereka. Pemaksimalan potensi yang dimiliki oleh banyak orang akan sangat berguna jika bisa terus menggali bakat atau kemampuan yang ada dalam dirinya. Tentunya bukan lepas dari hal itu saja, masih banyak hal kecil lainnya yang musti diperhatikan seperti membuat apa yang kita lakukan bisa bermanfaat dan berguna bagi lingkungan dan populasi sekitar. Oleh karena itu, yang namanya potensi haruslah digali hingga pada batasnya.

Berbicara masalah potensi, teringat pada  pelajaran BK (bimbingan konseling) saat menduduki kelas 1 SMA dulu. Saat seorang murid yang dulunya harus menguasai semua mata pelajaran harus melihat potensi apa yang mereka punya dan inginkah mereka menggali potensi itu lebih dalam lagi, yang akhirnya bisa menjadi pilihan profesi mereka. Ini digambarkan dengan adanya pemilihan jurusan saat beranjak dari SMP/ MTs. Potensi merupakan suatu kemampuan, keahlian, kelebihan, atau bakat yang dimiliki oleh seseorang. Seseorang bisa dibilang berpotensi, jika ia telah mengenyam ilmu dibidang tersebut atau bisa juga yang telah berpengalaman.

Beranjak dari pengetian potensi, disini kita akan melihat lebih luas lagi bagaimana potensi Sumber Daya Alam (SDA) yang ada di negara Indonesia tercinta. Seperti salah satu lirik lagu ciptaan Ismail Marzuki,

Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Tetap dipuja-puja bangsa

Lagu ini mengingatkan kita bahwa Indonesia merupakan suatu pusaka, harta berharga yang banyak tak dimiliki negara lain. Suatu titipan Tuhan Yang Maha Esa yang dijadikan warisan turun-temurun. Pusaka Indonesia berdasarkan Piagam Pelestarian Pusaka Indonesia tahun 2003 terdiri dari; Pusaka alam (natural heritage) yang merupakan bentukan alam yang istimewa, Pusaka budaya (cultural heritage) yang merupakan hasil cipta, rasa, karsa, dan karya yang istimewa dari lebih 500 suku bangsa secara sendiri-sendiri sebagai kesatuan bangsa Indonesia dan dalam interaksinya dengan budaya lain sepanjang sejarah keberadaannya,  dan Pusaka saujana (cultural landscape) yang merupakan gabungan pusaka alam dan budaya dalam kesatuan ruang dan waktu (arti saujana dalam KBBI adalah sejauh mata memandang).

Banyak kekayaan alam yang bisa ditemukan di negara yang dijuluki negara maritim ini karena didominasi oleh lautan. Potensi alam Indonesia sangatlah banyak, seperti lautan yang luas beserta keindahan terumbu karang dan spesies lain didalamnya, hutan hijau yang merupakan sumber oksigen untuk makhluk hidup lainnya, hasil rempah yang spesial, hasil kopi dan teh yang istimewa, hasil perikanan yang meluap, hasil tambang yang melimpah-ruah, dan hasil minyak murni dengan kualitas terbaik.

Selain kekayaan alam, Indonesia juga mempunyai bakat-bakat yang bisa menjadi sosok pemimpin dunia. Banyak potensi bangsa ini yang bisa menyinari keremang-remangan cahaya redup selama ini. Indonesia punya orang-orang hebat yang bisa dijadikan cermin banyak manusia sebagai tempat berkaca. Kejerihpayahan sang pengabdi dan guru-guru di daerah pelosok tanpa bayaran yang setimpal karena memang bukan itu yang mereka cari, kegigihan anak bangsa didaerah terisolir yang rela berjalan berkilo-kilometer karena ingin menuntut ilmu, para guru besar yang punya semangat tak pernah mati untuk memperkaya pengetahuannya, dan banyak yang lainnya.