Wednesday, May 30, 2012

Mulianya Seorang Wanita

Manusia diciptakan setara dan berpasang- pasangan oleh Tuhan, sebagaimana firmanNya yang mengatakan bahwa pembeda seseorang dengan yang lain hanyalah kualitas imannya1. Bukan hanya manusia, bahkan hal-hal kecil dan sepele yang ada di sekekeliling kita juga diciptakan memiliki pasangan; kaki kanan dan kaki kiri, tangan kanan dan kiri, mata, dan lain sebagainya. Hal abstrak bahkan juga harus berpasangan agar masing-masingnya diakui ada, baik dan buruk, cantik dan tampan, takut dan berani, dll. Salah satunya absen, maka yang lain akan luput dari pengakuan. Agama Islam sebagai salah satu agama tertua di dunia, sejak lahirnya sudah memberi tahu bahwa makhluk hidup diciptakan berpasangan agar saling mengenal, agar terciptanya keberfungsian individu di dunia ini2

Lelaki dan wanita, dua gender paling mendominasi dunia. Asal muasal diciptakannya wanita bisa kita ketahui salah satunya dari cerita Adam dan Hawa. Wanita kala itu diciptakan sebagai ‘pelengkap’ untuk menemani Adam. Kebanyakan kita keliru menterjemahkan cerita ini, menganggap tugas Hawa semata-mata hanya untuk membahagiakan Adam agar tak kesepian. Padahal jika diteliti lagi, sungguh keberadaan Hawa jauh lebih penting dari itu. Pernahkah terpikir apa jadinya nasib Adam tanpa Hawa? Bagaimana jika cerita cinta mereka yang mencari satu sama lain diganti dengan Adam yang berusaha mati-matian bertahan hidup? Begitu membosankan, bukan?

Berharganya posisi seorang wanita diperkuat lagi dengan ajaran Islam yang berbunyi: syurga di bawah telapak kaki ibu, bahwa untuk memasuki syurga dan mendapat ridhoNya seseorang harus menghormati ibunya terlebih dahulu. Tidak mengherankan titah Rasul tersebut, mengingat tugas besar nan mulia yang diberikan Tuhan kepada wanita. Mulai dari mengandung sembilan bulan, melahirkan yang mempertaruhkan nyawa, menyusui, membesarkan dan merawat anak, suami, dan pekerjaan rumah tangga lainnya.

Dapur, sumur, dan kasur adalah tiga domain utama wanita menurut kebanyakan orang tua di kampung. Tidak tahu dari mana asal-muasalnya, yang pasti ide ini sudah turun-temurun selalu disampaikan oleh para ibu-ibu kepada anak-anak mereka, mengatakan bahwa tugas seorang wanita hanyalah di rumah; memasak, mencuci, dan melayani suami. Paling tidak, inilah satu-satunya pekerjaan wanita zaman dulu. Namun, sekarang zaman sudah banyak memoles dan memodifikasi ide tersebut. Sudah banyak wanita yang bekerja di luar rumah untuk menambah pemasukan suami yang dirasa belum cukup, atau hanya sebagai sarana mengembangkan diri.

Jika pada masa Rasul saja sudah diperintahkan untuk menghormati wanita, justru saat ini dimana wanita memiliki lebih banyak domain seharusnya petitah tersebut semakin dijaga. Menjadi seorang istri, ibu, dan turut menghidupi keluarga sungguh merupakan hal yang tidak semua orang bisa lakukan dan tentu hal ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Maka tidaklah berlebihan ketika wanita disebut sebagai tonggak sebuah negara. Kita bisa bercermin dari fakta bahwa negara-negara yang menghormati posisi wanita adalah negara yang kuat dan mandiri. Jika baik kaum wanita disuatu negeri, maka baik pula negeri tersebut. Jika buruk wanita disuatu negeri, maka buruk pula negeri tersebut.

1,2 Al-hujurat13: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kmai jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.”

No comments:

Post a Comment