Wednesday, May 30, 2012

Guruku Tersayang

    Segalanya bermula disini, disuatu tempat yang indahnya tak pernah kompromi. Kenangan yang terpatri disana tak bisa ditawar akan bisa ditemukan di tempat lain meski serupa. Mustahil melupakannya sepanjang usia. Tak begitu banyak yang tahu tempat ini, namun akan memberitahu sedikit kriteria asal kita bisa main tebak-tebakan.

            Manusia datang kesana untuk mengais ilmu. Mereka haus akan pengetahuan dan pengalaman hidup, terutama Islam. Tempat ini adalah sedikit tempat yang paling kaya yang tak pernah pelit melimpahkan inspirasi. Jika kau mendengar sudut lalu yang terbayang di kepalamu adalah sebuah tempat gelap dan menyeramkan, di tempat ini, sudut-sudutpun bercahaya. Kau tak perlu takut akan kekurangan apapun. Tempat yang banyak mengajarkanku arti hidup secara perlahan namun pasti menuju kedewasaan. Tempat yang bisa membuat tidur semakin berkualitas karena kau tak bisa istirahat panjang dari pagi hari hingga malam menjelang.

            Dari manapun asal muasal dan kampungmu, segalanya berbaur jadi satu di tempat ini. Sabang sampai Merauke. Thailand hingga Indonesia. Segala macam watak yang hadir akan membuka matamu. Mengagumkan betapa semuanya mampu hidup damai di tempat kecil ini. Semua kegilaan dan kekaguman berjalan berbarengan aman. Tempat segala macam bentuk kerinduan bermuara.

Sudah bisa menebak? Belum? Baiklah, tempat ini tak pernah berhenti mengalir dalam segala musim. Mulai dari musim baju shiba (baju khas melayu) hingga musim baju gamis. Dari musim penghujan yang membuatmu tak bisa lepas dari selimut dan jaket paling tidak dua lapis, hingga musim panas yang tentunya juga selalu ‘dimeriahkan’ udara yang tetap dingin. Tentu saja karena dikelilingi banyak perbukitan dan gunung-gunung yang mempesona.

Baiklah, aku beri tahu jawabannya. Diniyyah Puteri. Ya, disinilah semua hal mengagumkan dalam hidupku dimulai. Start point. Sebuah pondok pesantren modern khusus putri yang terletak di provinsi Sumatera Barat, tepatnya di daerah Padang Panjang. Suhu disana sangat dingin karena dikelilingi oleh beberapa gunung dan bukit. Gunung merapi yang indah dipandang mata dari kejauhan. Puncaknya selalu ‘batuk’ setiap pagi, maksudku dengan batuk adalah ketika puncaknya mengeluarkan asap atau kabut. Setiap malam tahun baru akan tampak deretan obor-obor yang dibawa pendaki gunung yang tampak seperti titik-titik kecil dari asrama Barus Atas, salah satu nama asrama di Diniyyah Puteri.

Gunung lainnya yang turut memeluk Padang Panjang adalah Gunung Singgalang yang pernah kami, para anak pondok, daki hanya sampai setengah perjalanan. Kami menyerah hanya sampai jalan yang aman dan belum merasa siap waktu itu dengan medan murni hutan rimba. Selain dua gunung raksasa tadi, beberapa bukit juga turut serta membuat Padang Panjang sebagai tempat yang tepat jika ada yang ingin sukses berbisnis jualan selimut. Salah satunya yang paling dekat dengan Diniyah Puteri adalah Bukit Tui. Selain menjadi objek wisata andalan pesantrenku, Bukit ini juga terkenal sebagai salah satu titik posko Pramuka untuk jelajah alam. Satu hal yang paling menarik adalah sebuah batu asma Allah menggunakan bahasa Arab yang disaat malam hari akan mengeluarkan cahaya. Semua gunung dan bukit ini membuat Padang Panjang masih terlihat sama setelah bertahun-tahun ku tiggalkan. Tak pernah dikalahkan zaman yang semakin lama semakin ganas.

Cerita tentang Diniyyah Puteri teringat saat pertama kali aku menginjakkan kaki disana, disambut hangat oleh beberapa ustadzah Panitia Penerimaan Siswa Baru (PSB) yang sangat ramah. Setelah mengikuti beberapa tes seleksi, alhamdulillah namaku masuk dalam daftar lulus. Mulai saat itu aku tinggal di asrama bersama teman-teman perempuan yang berasal dari berbagai daerah dan diserahkan sepenuhnya kepada guru asrama yang akan membimbing kami yang biasa dipanggil “ummi” serta guru sekolah yang akan mentransfer ilmu kepada kami, ada yang kami panggil “ibu guru atau bapak guru”. Aku menghabiskan waktu 6 tahun di pesantren Diniyyah Puteri, yakni 3 tahun di bangku DMP (Diniyyah Menengah Pertama, setara dengan SMP/MTs) dan 3 tahun di bangku KMI (Kuliyatul Mu’alimat El-Islamiyah, setara SMA/MA). Di pondok pesantren ini aku memulai kehidupan yang serba baru, meninggalkan kenyamanan rumah dan kehangatan peluk ibu. Namun aku bersyukur, pada waktu itulah aku belajar bahwa memulai hidup mandiri tidaklah sesulit yang semua orang ceritakan padaku. Disana aku banyak mengenal sosok manusia yang unik, inspiratif, dan bisa memberikan warna ke dalam relung hidupku. Tak sia-sia, sedikitpun tak pernah terbesit dalam pikiranku bahwa ada hal yang tak dapat membuatku bahagia dengan ‘dikurung.’

Guru adalah panggilan untuk orang yang mengajarkan ilmu, baik secara langsung maupun tidak langsung, formal maupun informal. Seorang guru yang baik akan menjadi panutan bagi murid-muridnya. Seorang guru juga merupakan contoh bagi masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Betapa pentingnya posisi seorang guru sehingga ketika ia baik, ia akan menjadi suri tauladan bagi siapapun yang ada disekitarnya, termasuk aku. Sejujurnya, aku tak begitu melihat perbedaan yang signifikan antara guru di kampung dulu dengan guru di sekolah ku sekarang karena setiap guru pasti mempunyai kewajiban yang sama, yaitu mengajar, mengayomi, memberi ilmu baru atau mengulang ilmu lama yang sempat terlupakan kepada anak didiknya, dan tentu setiap insan tidak pernah luput dari kurang dan lebihnya ia sebagai manusia. 

Dikelas, aku adalah murid yang biasa-biasa saja, tampang standar, otak pas-pasan, minat yang tak tentu arah. Tidak ada prestasi mencolok yang biasanya membuat murid kebanyakan bangga seperti juara kelas, olimpiade kemana-mana, dan hal menakjubkan lainnya. Tapi tentu bukan begitu caraku melihat diriku sendiri. Aku bangga karena bisa sekolah jauh dari kampungku di Ipuh, salah satu dusun mungil yang ada di provinsi Bengkulu. Aku juga bangga karena bisa punya banyak teman yang berasal dari berbagai daerah serta bertemu guru-guru yang bisa ku acungkan jempol, alias top! Dan setidaknya aku punya berjuta cerita yang bisa ku bagikan pada adik-adik dan anak cucuku kelak jika aku sudah tua.

Seiring berjalannya waktu, aku mulai merasakan perubahan bermakna yang meski pada awalnya terasa sedikit menjengkelkan. Aku pernah dihukum berdiri oleh seorang guru yang terkenal tegas karena aku tidak hafal apa yang beliau tugaskan. Beberapa mata pelajaran seperti Bahasa Arab sangat asing bagiku saat itu. Hampir beberapa kali kejadian itu terulang hingga akhirnya tidak ada jalan keluar selain memaksakan diri agar terbiasa dengan hafalan apalagi tulisan Arab yang pada saat itu hanya tampak seperti tulisan dokter keriting di mataku. Aku pun lama-kelamaan jadi malu jika harus berdiri terus-terusan melihat wajah teman-teman yang antusias belajar. Akhirnya aku berusaha hingga tetes keringat terakhir. Oke, tentu keringat akan keluar lagi tapi tentu kamu tahu maksudku, bukan? Pengalaman di kelas Bahasa Arab ini merupakan pengalaman pertama yang berharga bagiku. Terima kasih, guru. Ketegasan sekaligus kelembutanmu telah berhasil memahat ego dan mnegasah ketumpulan otakku.

Seperti itu kisah dengan guru Bahasa Arab, guru-guru lain tentu memiliki kisah menarik yang berbeda. Salah satunya ada yang suka menceritakan kisah-kisah ajaib yang pernah terjadi pada dirinya, seperti bermimpi bertemu dengan sosok putih yang wajahnya bercahaya. Beliau menganggap itu adalah Rasulullah SAW karena wajah yang sangat bersinar. Cara beliau menceritakan membuat kami terkagum-kagum, merinding, dan sampai-sampai berharap semoga suatu saat juga mendapat peluang memimpikan Rasul. Setiap beliau mulai bercerita, mata yang mengantuk karena hawa dingin segera terbuka lebar, kemampuan telinga mendengar menjadi tajam berkali lipat, tandanya kami tidak sabar disuguhkan kisah-kisah baru dari beliau. Beliau sangat ramah dan lembut tutur katanya pada setiap orang, sehingga beliau kami jadikan guru terfavorit saat itu.

Jika guru Bahasa Arab terkenal dengan ketegasannya yang disusul dengan guru yang penuh kesabaran dalam mendidik, lain halnya dengan guruku yang suka mencoret wajah anak muridnya jika tertidur di kelas. Tidur adalah hal yang sangat dilarang keras dalam proses belajar-mengajar jika beliau sedang mengajar. Jangan sesekali mencoba untuk memperlihatkan wajahmu yang sedang mengantuk jika sedang menghadiri kelas beliau, meski dengan kesadaran penuh kamu tidak bisa menyangkal bahwa tidur paling nyenyak adalah di kelas, bukan di kasur kesayanganmu. Terkadang jika guru tersebut sedang baik hati, coretannya hanya di tangan atau cukup satu titik kecil di pipi. Namun, sungguh ampun jika beliau sedang banyak pikiran gara-gara tingkah seisi kelas yang galau, wajah yang tertidur akan jadi media beliau melukis abstrak nan indah.

Lepas dari guru yang gemar melukisi wajah, salah satu guruku ada yang memiliki kegilaan terhadap bunga, yang kebetulan sempat jadi wali kelas ku saat DMP. Beliau adalah sosok guru yang tak ingin berdiam diri dimasa tuanya. Beliau selalu berdiri tegap didepan kelas menjelaskan mata pelajaran yang beliau pegang yaitu Qawa’id (ilmu tentang hukum-hukum bacaan bahasa Arab). Beliau sudah sangat tua, bisa dilihat dari cara berpakaian serta jenis pakaian zaman dahulu yang beliau kenakan. Beliau juga termasuk guru besar karena sudah sangat lama mengabdikan diri menjadi seorang pendidik bahkan tokoh hingga akhir hayatnya (saat aku sudah duduk di bangku KMI). Kegilaan beliau kepada bunga, yang tentu saja kegilaan  yang sehat, sangat menginspirasi kami. Beliau sangat lihai dalam mengajarkan cara menata ruangan dengan tanaman, serta bagaimana merawatnya. Kelas kami di setiap pojok penuh dengan tumbuhan yang merambat dan disebelahnya dengan tanaman rindang nan tinggi. Sampai-sampai saat itu kelas kami mendapatkan julukan kelas terfavorit dan terindah. Oh, senangnya. Terkadang aku senyum-senyum sendiri mengingat beliau. Sungguh jika hidupnya adalah zaman kini dan masih muda, beliau akan jadi interior, exterior dan garden designer handal. Beliau tak pernah lupa menyelipkan pesan untuk kami, dengan perihal kecil seperti menanam bunga dan mencintai tumbuh-tumbuhan disekeliling kita, bisa mendapat kebahagiaan tersendiri. Kebahagiaan yang tak biasa, hanya hati ikhlas dan tulus yang mengerti. Kebahagiaan yang bisa membawa ketenangan dan keharmonisan antara manusia dengan alam yang sama-sama dari ciptaan Sang Khalik dan pada dasarnya saling bergantungan. Beliau mengajarkan arti kehidupan yang tak semua orang bisa berikan.

Lepas dari pelajaran serba Timur, aku termasuk orang yang hampir tak mengerti apa saja yang disampaikan oleh guru bahasa Inggris. Mata pelajaran ini ku dapatkan pertama kali saat detik-detik ujian akhir sekolah SD akan dilaksanakan, sangat mendadak. Maklum, SD ku berada di perkampungan kecil yang belum banyak tahu apa yang penting di dunia luar. Keadaan ini membuatku sangat panik ketika tahu akan belajar Bahasa Alien ini di Diniyyah Puteri. I just knew hated English more than I hated Arabic. Tak seperti teman-teman yang lain. Mereka sangat tertarik dan berbangga-bangga jika bisa menjawab pertanyaan guru dengan bahasa Inggris. Tak seperti aku yang tak mengerti apapun yang dilontarkan guru. Aku seperti pelari sprint amatiran, yang sangat ngos-ngosan mengejar ketertinggalan dan diperburuk dengan teriknya matahari sehingga dehidrasi berlebihan membuat kepalaku semakin pusing dan sebentar lagi serasa akan pecah. Yang ku dengar hanya bahasa yang sangat asing, seperti adikku yang sedang mengigau dalam tidur. Aku akhirnya menyerah, tak disangka proses perkenalan dengan bahasa Arab bisa diaplikasikan ke bahasa Inggris. Tapi aku tidak mau menyerah. Beberapa kali sudah ku coba dan paksa diri namun sedikit tertinggal disini ternyata akibatnya fatal. Tertinggal dua langkah dan menyicil besok, teman-temanku sudah berada di depan sepuluh langkah. Aku tak mau mencari-cari alasan tapi aku benar-benar bingung. Pesimis bukanlah pilihan, tapi permasalahannya adalah aku tak melihat ada pilihan lain. Mungkin memang sudah batas kemampuanku yang menyedihkan, miris!

Sedikit banyaknya, guru sangatlah berperan pada permasalahanku ini. Karena guru yang baik adalah guru yang bisa membimbing muridnya, tidak hanya bisa mengajar tapi juga mendukung, mendorong muridnya agar percaya bahwa ia mampu berbuat lebih, melangkah lebih jauh lagi, lebih cepat lagi. Akhirnya, aku dipertemukan dengan seorang guru privat bernama Ainun Mardhiah. Aku memanggilnya kak Ainun. Saat itu aku sudah dikelas 3 DMP, memasuki semester 2. Jadi, perjuangan tunggang langgang dengan pelajaran Bahasa Inggris sudah ku jalani selama 5 semester. Kala itu Ujian Nasional (UN) sudah di depan mata. Kak Ainun bukanlah seorang guru seperti guru-guruku yang dikelas. Dia juga sama sepertiku, seorang santri yang saat itu duduk dibangku 3 KMI. Itu tandanya kami sama-sama mendekati detik-detik UN. Mungkin ini merupakan suatu bentuk pertolongan dari Allah karena dengan beliaulah aku merasa menemukan titik terang menghadapi perang dengan Bahasa Inggris. Dengan harapan bisa berdamai dengan pelajaran Bahasa Inggris. Kakak sangat hebat dan pintar. Bahasa Inggris adalah hal yang paling akrab dengannya. Ia sering mengikuti lomba dengan Bahasa Inggris yang menjadikannya salah satu bintang di poondokku. Namun dengan semua itu, ia tetaplah seorang yang rendah hati dengan pikiran yang terbuka lebar.

Karena Bahasa Inggis adalah salah satu mata pelajaran yang di UN-kan, mau tidak mau aku harus mengejar segala ketertinggalan selama 2,5 tahun terakhir. Setiap malam, kakak selalu menyempatkan diri mengajariku. Yang ada dibenakku, aku takut sekali mengganggu waktu kakak karena dia juga harus mempersiapkan dirinya menghadapi UN. Tapi kakak selalu menyempatkan waktu untuk membantu adiknya ini. Tiap malam, setiap hari, rasanya Bahasa Inggris menjadi mata pelajaran nomor satu diotakku. Kakak sering berkata, “Bahasa itu penting. Setinggi apapun ilmu kita, jika tak bisa menyampaikannya dengan bahasa yang baik, ya percuma.” Benar, dan hal ini semakin lama semakin dapat ku rasakan benarnya. Seorang dokter, misalnya, harus mampu menjalin komunikasi yang baik dengan pasien. Seorang guru dengan murid-murid, pebisnis dengan klien, dan segala macam posisi yang kita jalani, komunikasi yang baik adalah hal yang harus dibangun. Untuk mewujudkannya, bahasa adalah modal utama. Dengan bahasa Inggris, karir yang kita jalani akan cepat melejit karena banyaknya kesempatan yang bisa diambil. Kakak membuatku jatuh cinta pada bahasa Inggris, hal yang tak pernah ku sangka-sangka seumur hidupku. Kakak punya metode pembelajaran dan pengajaran yang pas. Walau terkadang aku masih sulit mengerti, Kakak selalu mempermudahnya dengan mengubah cara pandangku. Banyak sekali idenya dalam mengajar. Walaupun Kakak bukanlah guru dikelas, tapi Kakak lebih dari itu. Aku sangat bangga padanya, salut pada kesabarannya.

Suatu hari kami melaksanakan ujian pra-UN perdana. Aku harap-harap cemas sekali hari itu. Pertanyaan-pertanyaan ku jawab dengan teliti dan sabar. Pengumuman nilai terpasang di depan kantor guru beberapa hari kemudian, dan aku mendapat nilai 45. Wow!!! Ini suatu peningkatan yang signifikan menurutku karena tidak jauh beda dengan nilai teman-temanku yang jago Bahasa Inggris. Hingga pada ujian pra-UN terakhir, nilai Bahasa Inggris ku bisa mencapai 89. Nilai tertinggi Bahasa Inggris yang diberi coretan stabilo sederetan dengan namaku. Tak terbayangkan betapa senangnya hatiku, ada kebanggaan tersendiri untukku mengingat proses belajar yang tak henti-hentinya dari kakak. Kakak ikut bahagia melihatku menangis karena aku sudah bisa mengalahkan ketakutanku dan kini membuahkan hasil. Senyum ku tak henti-hentinya merekah hari itu.

Sosok pendidik yang ku lihat di dalam diri beberapa guru yang ku ceritakan di atas ditambah dengan hadirnya kakak yang berperan sama membuktikan padaku bahwa guru bisa ditemukan dalam diri siapa saja, yang juga berarti bahwa kita suatu saat akan menjadi pendidik bagi orang lain, atau paling tidak untuk diri kita sendiri. Kolaborasi guru-guru dengan kakak menciptakan cerita yang tak bosan-bosan diingat dan diceritakan terus menerus. Jadi, aku akan terus bingung jika disuruh memilih satu orang yang paling signifikan mengajarkanku hidup karena sosok guru bagiku adalah akumulasi dari para pendidik terbaik yang pernah ku temui di Diniyyah Puteri, pondok pesantren perempuan tertua di dunia. Membuat pembelajaran arti hidupku sangat kaya dan penuh warna, terkadang mencekam, lucu, menguji kesabaran, dan penuh inovasi. Hanya ucapan terima kasih dan sepucuk doa yang bisa ku berikan pada kalian, guruku tersayang.

No comments:

Post a Comment