Sunday, May 27, 2012

Air Mata yang Bermakna

Sebenarnya bukan air mata yang akan ku sampaikan disini. Kisahnya dimulai saat pagi hari, bangun dari ketidaklelapan tidur dengan kantuk dan rasa malas yang menggantung di seluruh tubuh. Langsung makan sahur untuk puasa di hari selasa membayar nadzar yang belum tuntas. Dilanjutkan dengan shalat subuh, lalu meneruskan pencarian LO (learning objective) untuk tutorial jam 07:30, yang belum terlengkapi sebelum tertidur. Setelah merapi2kan apa saja yang perlu dirapikan dan dibersihkan, dan saat nya go to campus!!!

Ku tahu, hari selasa biasanya kegiatan perkuliahan bakal penuh di kampus (biasanya lo ya... :p) Tapi memang begitu, setelah tutorial, masih ada 3/4 mata kuliah lagi yang akan disaksikan dengan suasana seperti biasa. Kalo masih pagi, masih ada semangat. Tapi dari siang-sore, inilah waktu2 yang rawan buang nge-close-in kedua mata alias terkantuk2 bahkan ada yang tidur dengan posisi yang PeWe banget sepertinya.

Nah, ada 200an orang dalam 1 kelas, membuatku sangat letih. Justru bukan karena perkuliahan yang penuh, yang sering bikin aku letih. Tapi keadaan di kelas yang ributnya seperti pasar saat pergantian dosen (sampe2 gendang telinga ini mau pecah!!!) dan kehebohan juga terjadi, karena kelas juga dijadikan bioskop yang menampilkan film2 terbaru, yang pastinya bajakan :p (maksudnya, tak tahu asalnya dari mana, copas dari satu orang ke orang lain hingga ditampilkan di bioskop kami, kelas kami). Dengan suasana yang gelap di kelas karena film telah dimulai, aku semakin capai. Nggak bisa baca deh! Paling dengerin musik pake headset kesayanganku yang udah usang.

Selesailah perkuliahan di jarum jam menunjukkan pukul 16:00 teng. Akhirnya, saat yang ditunggu2 telah tiba. Go hoooooome! Yes! Riangnya hatiku. Eiiiiiitssssss, tunggu dulu! Waktu diperjalanan menuju rumah, sebelum belokan masuk dusun deket rumahku, para polisi tepatnya polantas sedang ngadain rahazia. Aduh! Capekku malah balik lagi. Kepala cenut2 (serasa kecapean gitu, halaaaah! sok sibuk banget!), hati kacau (karena aku nggak bawa dompet, so aku juga nggak bawain tu SIM dan STNK), mata sayu (nguantuk minta ampyuuuun), deg2an karena pak polisi lagi didepan mata dengan jiwa dan raga ku yang sedang pasrah semoga semuanya akan baik2 aja.

source: google image

Karena perlengkapanku tak ada, aku disuruh menghadap para polisi yang bakal nulisin surat tilang dan yang pastinya dengan kwitansi buat bayar denda (mungkin sekitar 70ribu rupiah, nggak bawa SIM bayar 30ribu, nggak bawa STNK bayar 40 ribu). Mata ku langsung berlinang2 air mata. Berlinang aja loh yaaaaa...!!! Trus aku jelasin ke bapaknya, kalo aku lagi puasa jadi nggak bawa dompet dan pastinya seisinya nggak kebawankaaaan? Dengan nada yang pelan dan hati capai. Ku jelasin juga, kalo rumahku dekat banget sama tempat bapak tersebut sedang rahazia. "Kan kampus saya dekat sama rumah pak...", kataku. "Beneran deh!", sambungku. "Kalo bapak mau tunggu, saya taruh dulu motor saya disini ya pak... Mohoooon banget pak! Saya ambilin SIM dan STNK nya sebentar. Dekeeeeet banget pak, rumah saya dari sini. Kan yang penting ini beneran motor saya", lanjutku. "Bagaimana pak?", tanyaku. Bapaknya masih musyawarah dulu sama temannya. Tapi ada 1 bapak polisi yang baik! Alhamdulillah ya... :D Bapaknya lihat mataku yang berlinang air mata dan akhirnya air mataku memang jatuh dari kelopak mata yang tak sanggup mengganjalnya lagi karena sudah berat untuk ditampung. Bapaknya juga lihat kesungguhanku waktu bicara sama beliau, yaps beliau alhmadulillah bisa mempercayai saya dan bilangin, "jangan diulangi lagi ya mb... ( beliau sambil tersenyum, yang mungkin karena melihat wajahku yang amat tulus dan memohon pertolongannya)" Akupun bebas dan bisa balik kerumah mempersiapkan makanan untuk buka puasa. Alhamdulillah... Bapaknya baik sekali... Terima kasih bapak, sudah menenggangiku...

2 comments:

  1. Hahhaha.... Kakak masih ingat waktu cerita ini di telpon. Heboooh... Reminds me of my 'sidang' day and also got caught by a retarded police fining me 250K. Gosh! Anyway, congrats bertemu polisi bapak2, biasanya memang lebih toleran :)

    ReplyDelete
  2. hahaha... Iya kak... Yg sabar ya... Mhihihi... Alhmd bgt ketemu polisi yg baik. Alhmd... :)

    ReplyDelete