Wednesday, May 30, 2012

Kesalku padamu

Ku tau, aku sedang kesal padamu. Ku tau itu! Jelas sekali yang disinari cahaya hati dan benakku, rasa kesal sedang mengahantui. Ku tau persis itu ada! Tapi bayangan yang tampak, bukanlah 'nyata' seperti yang dilakukan terjemahan sel-sel otakku. Tapi malah 'terbalik' seperti masih dalam proses penterjemahannya, masih diretina. Yah, itu lah yang sering ku rasakan. Tak mengerti, apakah itu baik atau tidak. Ini seperti hanya berlaku untukmu. Tak bisa otakku menterjemahkan dan mengirim impuls kesal padamu. Luluh. Meleleh. Hancur. Hanya itu yang bisa ku lakukan jika berhadapan denganmu. Bisa ku bilang, kau lah segala nya untukku. Maapkan aku, kesalku seolah membuat diriku munafik. Seolah menjadi orang yang terlalu buruk bagimu. Memang buruk. Itupun ku tau! Lagi-lagi aku terlalu tau tentang diriku lebih mendalam. Itulah yang telah ku pelajari darimu. Watakmu yang selalu jujur. Jujur dan murni ke siapa saja. Apalagi kepadaku. Kau amat jujur padaku, hingga terkadang kesalmu membuatku kesal! Tapi tak pernah ku sesali apalagi ingin ku jauhi dirimu. Aku selalu ada untukmu. Selalu. Semoga kita bisa menjadi saling meng-'ada'-kan satu sama lain. Layaknya mata kanan buta yang butuh mata kiri yang bisa melihat normal. Setidaknya kau bisa menemaniku saat aku kebutaan, buta pada kemampuanku sendiri. Semuanya membuat hidupku lebih berwarna. Karenamu, ku bisa banyak tau. Terima kasih untuk mu, selalu ku ucap walaupun mungkin kau pernah bosan kata-kata itu sering keluar dari mulutku. Kesalku padamu, membuat emosiku mengalah pada aksiku. :*

Mulianya Seorang Wanita

Manusia diciptakan setara dan berpasang- pasangan oleh Tuhan, sebagaimana firmanNya yang mengatakan bahwa pembeda seseorang dengan yang lain hanyalah kualitas imannya1. Bukan hanya manusia, bahkan hal-hal kecil dan sepele yang ada di sekekeliling kita juga diciptakan memiliki pasangan; kaki kanan dan kaki kiri, tangan kanan dan kiri, mata, dan lain sebagainya. Hal abstrak bahkan juga harus berpasangan agar masing-masingnya diakui ada, baik dan buruk, cantik dan tampan, takut dan berani, dll. Salah satunya absen, maka yang lain akan luput dari pengakuan. Agama Islam sebagai salah satu agama tertua di dunia, sejak lahirnya sudah memberi tahu bahwa makhluk hidup diciptakan berpasangan agar saling mengenal, agar terciptanya keberfungsian individu di dunia ini2

Lelaki dan wanita, dua gender paling mendominasi dunia. Asal muasal diciptakannya wanita bisa kita ketahui salah satunya dari cerita Adam dan Hawa. Wanita kala itu diciptakan sebagai ‘pelengkap’ untuk menemani Adam. Kebanyakan kita keliru menterjemahkan cerita ini, menganggap tugas Hawa semata-mata hanya untuk membahagiakan Adam agar tak kesepian. Padahal jika diteliti lagi, sungguh keberadaan Hawa jauh lebih penting dari itu. Pernahkah terpikir apa jadinya nasib Adam tanpa Hawa? Bagaimana jika cerita cinta mereka yang mencari satu sama lain diganti dengan Adam yang berusaha mati-matian bertahan hidup? Begitu membosankan, bukan?

Berharganya posisi seorang wanita diperkuat lagi dengan ajaran Islam yang berbunyi: syurga di bawah telapak kaki ibu, bahwa untuk memasuki syurga dan mendapat ridhoNya seseorang harus menghormati ibunya terlebih dahulu. Tidak mengherankan titah Rasul tersebut, mengingat tugas besar nan mulia yang diberikan Tuhan kepada wanita. Mulai dari mengandung sembilan bulan, melahirkan yang mempertaruhkan nyawa, menyusui, membesarkan dan merawat anak, suami, dan pekerjaan rumah tangga lainnya.

Dapur, sumur, dan kasur adalah tiga domain utama wanita menurut kebanyakan orang tua di kampung. Tidak tahu dari mana asal-muasalnya, yang pasti ide ini sudah turun-temurun selalu disampaikan oleh para ibu-ibu kepada anak-anak mereka, mengatakan bahwa tugas seorang wanita hanyalah di rumah; memasak, mencuci, dan melayani suami. Paling tidak, inilah satu-satunya pekerjaan wanita zaman dulu. Namun, sekarang zaman sudah banyak memoles dan memodifikasi ide tersebut. Sudah banyak wanita yang bekerja di luar rumah untuk menambah pemasukan suami yang dirasa belum cukup, atau hanya sebagai sarana mengembangkan diri.

Jika pada masa Rasul saja sudah diperintahkan untuk menghormati wanita, justru saat ini dimana wanita memiliki lebih banyak domain seharusnya petitah tersebut semakin dijaga. Menjadi seorang istri, ibu, dan turut menghidupi keluarga sungguh merupakan hal yang tidak semua orang bisa lakukan dan tentu hal ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Maka tidaklah berlebihan ketika wanita disebut sebagai tonggak sebuah negara. Kita bisa bercermin dari fakta bahwa negara-negara yang menghormati posisi wanita adalah negara yang kuat dan mandiri. Jika baik kaum wanita disuatu negeri, maka baik pula negeri tersebut. Jika buruk wanita disuatu negeri, maka buruk pula negeri tersebut.

1,2 Al-hujurat13: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kmai jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.”

Guruku Tersayang

    Segalanya bermula disini, disuatu tempat yang indahnya tak pernah kompromi. Kenangan yang terpatri disana tak bisa ditawar akan bisa ditemukan di tempat lain meski serupa. Mustahil melupakannya sepanjang usia. Tak begitu banyak yang tahu tempat ini, namun akan memberitahu sedikit kriteria asal kita bisa main tebak-tebakan.

            Manusia datang kesana untuk mengais ilmu. Mereka haus akan pengetahuan dan pengalaman hidup, terutama Islam. Tempat ini adalah sedikit tempat yang paling kaya yang tak pernah pelit melimpahkan inspirasi. Jika kau mendengar sudut lalu yang terbayang di kepalamu adalah sebuah tempat gelap dan menyeramkan, di tempat ini, sudut-sudutpun bercahaya. Kau tak perlu takut akan kekurangan apapun. Tempat yang banyak mengajarkanku arti hidup secara perlahan namun pasti menuju kedewasaan. Tempat yang bisa membuat tidur semakin berkualitas karena kau tak bisa istirahat panjang dari pagi hari hingga malam menjelang.

            Dari manapun asal muasal dan kampungmu, segalanya berbaur jadi satu di tempat ini. Sabang sampai Merauke. Thailand hingga Indonesia. Segala macam watak yang hadir akan membuka matamu. Mengagumkan betapa semuanya mampu hidup damai di tempat kecil ini. Semua kegilaan dan kekaguman berjalan berbarengan aman. Tempat segala macam bentuk kerinduan bermuara.

Sudah bisa menebak? Belum? Baiklah, tempat ini tak pernah berhenti mengalir dalam segala musim. Mulai dari musim baju shiba (baju khas melayu) hingga musim baju gamis. Dari musim penghujan yang membuatmu tak bisa lepas dari selimut dan jaket paling tidak dua lapis, hingga musim panas yang tentunya juga selalu ‘dimeriahkan’ udara yang tetap dingin. Tentu saja karena dikelilingi banyak perbukitan dan gunung-gunung yang mempesona.

Baiklah, aku beri tahu jawabannya. Diniyyah Puteri. Ya, disinilah semua hal mengagumkan dalam hidupku dimulai. Start point. Sebuah pondok pesantren modern khusus putri yang terletak di provinsi Sumatera Barat, tepatnya di daerah Padang Panjang. Suhu disana sangat dingin karena dikelilingi oleh beberapa gunung dan bukit. Gunung merapi yang indah dipandang mata dari kejauhan. Puncaknya selalu ‘batuk’ setiap pagi, maksudku dengan batuk adalah ketika puncaknya mengeluarkan asap atau kabut. Setiap malam tahun baru akan tampak deretan obor-obor yang dibawa pendaki gunung yang tampak seperti titik-titik kecil dari asrama Barus Atas, salah satu nama asrama di Diniyyah Puteri.

Gunung lainnya yang turut memeluk Padang Panjang adalah Gunung Singgalang yang pernah kami, para anak pondok, daki hanya sampai setengah perjalanan. Kami menyerah hanya sampai jalan yang aman dan belum merasa siap waktu itu dengan medan murni hutan rimba. Selain dua gunung raksasa tadi, beberapa bukit juga turut serta membuat Padang Panjang sebagai tempat yang tepat jika ada yang ingin sukses berbisnis jualan selimut. Salah satunya yang paling dekat dengan Diniyah Puteri adalah Bukit Tui. Selain menjadi objek wisata andalan pesantrenku, Bukit ini juga terkenal sebagai salah satu titik posko Pramuka untuk jelajah alam. Satu hal yang paling menarik adalah sebuah batu asma Allah menggunakan bahasa Arab yang disaat malam hari akan mengeluarkan cahaya. Semua gunung dan bukit ini membuat Padang Panjang masih terlihat sama setelah bertahun-tahun ku tiggalkan. Tak pernah dikalahkan zaman yang semakin lama semakin ganas.

Cerita tentang Diniyyah Puteri teringat saat pertama kali aku menginjakkan kaki disana, disambut hangat oleh beberapa ustadzah Panitia Penerimaan Siswa Baru (PSB) yang sangat ramah. Setelah mengikuti beberapa tes seleksi, alhamdulillah namaku masuk dalam daftar lulus. Mulai saat itu aku tinggal di asrama bersama teman-teman perempuan yang berasal dari berbagai daerah dan diserahkan sepenuhnya kepada guru asrama yang akan membimbing kami yang biasa dipanggil “ummi” serta guru sekolah yang akan mentransfer ilmu kepada kami, ada yang kami panggil “ibu guru atau bapak guru”. Aku menghabiskan waktu 6 tahun di pesantren Diniyyah Puteri, yakni 3 tahun di bangku DMP (Diniyyah Menengah Pertama, setara dengan SMP/MTs) dan 3 tahun di bangku KMI (Kuliyatul Mu’alimat El-Islamiyah, setara SMA/MA). Di pondok pesantren ini aku memulai kehidupan yang serba baru, meninggalkan kenyamanan rumah dan kehangatan peluk ibu. Namun aku bersyukur, pada waktu itulah aku belajar bahwa memulai hidup mandiri tidaklah sesulit yang semua orang ceritakan padaku. Disana aku banyak mengenal sosok manusia yang unik, inspiratif, dan bisa memberikan warna ke dalam relung hidupku. Tak sia-sia, sedikitpun tak pernah terbesit dalam pikiranku bahwa ada hal yang tak dapat membuatku bahagia dengan ‘dikurung.’

Guru adalah panggilan untuk orang yang mengajarkan ilmu, baik secara langsung maupun tidak langsung, formal maupun informal. Seorang guru yang baik akan menjadi panutan bagi murid-muridnya. Seorang guru juga merupakan contoh bagi masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Betapa pentingnya posisi seorang guru sehingga ketika ia baik, ia akan menjadi suri tauladan bagi siapapun yang ada disekitarnya, termasuk aku. Sejujurnya, aku tak begitu melihat perbedaan yang signifikan antara guru di kampung dulu dengan guru di sekolah ku sekarang karena setiap guru pasti mempunyai kewajiban yang sama, yaitu mengajar, mengayomi, memberi ilmu baru atau mengulang ilmu lama yang sempat terlupakan kepada anak didiknya, dan tentu setiap insan tidak pernah luput dari kurang dan lebihnya ia sebagai manusia. 

Dikelas, aku adalah murid yang biasa-biasa saja, tampang standar, otak pas-pasan, minat yang tak tentu arah. Tidak ada prestasi mencolok yang biasanya membuat murid kebanyakan bangga seperti juara kelas, olimpiade kemana-mana, dan hal menakjubkan lainnya. Tapi tentu bukan begitu caraku melihat diriku sendiri. Aku bangga karena bisa sekolah jauh dari kampungku di Ipuh, salah satu dusun mungil yang ada di provinsi Bengkulu. Aku juga bangga karena bisa punya banyak teman yang berasal dari berbagai daerah serta bertemu guru-guru yang bisa ku acungkan jempol, alias top! Dan setidaknya aku punya berjuta cerita yang bisa ku bagikan pada adik-adik dan anak cucuku kelak jika aku sudah tua.

Seiring berjalannya waktu, aku mulai merasakan perubahan bermakna yang meski pada awalnya terasa sedikit menjengkelkan. Aku pernah dihukum berdiri oleh seorang guru yang terkenal tegas karena aku tidak hafal apa yang beliau tugaskan. Beberapa mata pelajaran seperti Bahasa Arab sangat asing bagiku saat itu. Hampir beberapa kali kejadian itu terulang hingga akhirnya tidak ada jalan keluar selain memaksakan diri agar terbiasa dengan hafalan apalagi tulisan Arab yang pada saat itu hanya tampak seperti tulisan dokter keriting di mataku. Aku pun lama-kelamaan jadi malu jika harus berdiri terus-terusan melihat wajah teman-teman yang antusias belajar. Akhirnya aku berusaha hingga tetes keringat terakhir. Oke, tentu keringat akan keluar lagi tapi tentu kamu tahu maksudku, bukan? Pengalaman di kelas Bahasa Arab ini merupakan pengalaman pertama yang berharga bagiku. Terima kasih, guru. Ketegasan sekaligus kelembutanmu telah berhasil memahat ego dan mnegasah ketumpulan otakku.

Seperti itu kisah dengan guru Bahasa Arab, guru-guru lain tentu memiliki kisah menarik yang berbeda. Salah satunya ada yang suka menceritakan kisah-kisah ajaib yang pernah terjadi pada dirinya, seperti bermimpi bertemu dengan sosok putih yang wajahnya bercahaya. Beliau menganggap itu adalah Rasulullah SAW karena wajah yang sangat bersinar. Cara beliau menceritakan membuat kami terkagum-kagum, merinding, dan sampai-sampai berharap semoga suatu saat juga mendapat peluang memimpikan Rasul. Setiap beliau mulai bercerita, mata yang mengantuk karena hawa dingin segera terbuka lebar, kemampuan telinga mendengar menjadi tajam berkali lipat, tandanya kami tidak sabar disuguhkan kisah-kisah baru dari beliau. Beliau sangat ramah dan lembut tutur katanya pada setiap orang, sehingga beliau kami jadikan guru terfavorit saat itu.

Jika guru Bahasa Arab terkenal dengan ketegasannya yang disusul dengan guru yang penuh kesabaran dalam mendidik, lain halnya dengan guruku yang suka mencoret wajah anak muridnya jika tertidur di kelas. Tidur adalah hal yang sangat dilarang keras dalam proses belajar-mengajar jika beliau sedang mengajar. Jangan sesekali mencoba untuk memperlihatkan wajahmu yang sedang mengantuk jika sedang menghadiri kelas beliau, meski dengan kesadaran penuh kamu tidak bisa menyangkal bahwa tidur paling nyenyak adalah di kelas, bukan di kasur kesayanganmu. Terkadang jika guru tersebut sedang baik hati, coretannya hanya di tangan atau cukup satu titik kecil di pipi. Namun, sungguh ampun jika beliau sedang banyak pikiran gara-gara tingkah seisi kelas yang galau, wajah yang tertidur akan jadi media beliau melukis abstrak nan indah.

Lepas dari guru yang gemar melukisi wajah, salah satu guruku ada yang memiliki kegilaan terhadap bunga, yang kebetulan sempat jadi wali kelas ku saat DMP. Beliau adalah sosok guru yang tak ingin berdiam diri dimasa tuanya. Beliau selalu berdiri tegap didepan kelas menjelaskan mata pelajaran yang beliau pegang yaitu Qawa’id (ilmu tentang hukum-hukum bacaan bahasa Arab). Beliau sudah sangat tua, bisa dilihat dari cara berpakaian serta jenis pakaian zaman dahulu yang beliau kenakan. Beliau juga termasuk guru besar karena sudah sangat lama mengabdikan diri menjadi seorang pendidik bahkan tokoh hingga akhir hayatnya (saat aku sudah duduk di bangku KMI). Kegilaan beliau kepada bunga, yang tentu saja kegilaan  yang sehat, sangat menginspirasi kami. Beliau sangat lihai dalam mengajarkan cara menata ruangan dengan tanaman, serta bagaimana merawatnya. Kelas kami di setiap pojok penuh dengan tumbuhan yang merambat dan disebelahnya dengan tanaman rindang nan tinggi. Sampai-sampai saat itu kelas kami mendapatkan julukan kelas terfavorit dan terindah. Oh, senangnya. Terkadang aku senyum-senyum sendiri mengingat beliau. Sungguh jika hidupnya adalah zaman kini dan masih muda, beliau akan jadi interior, exterior dan garden designer handal. Beliau tak pernah lupa menyelipkan pesan untuk kami, dengan perihal kecil seperti menanam bunga dan mencintai tumbuh-tumbuhan disekeliling kita, bisa mendapat kebahagiaan tersendiri. Kebahagiaan yang tak biasa, hanya hati ikhlas dan tulus yang mengerti. Kebahagiaan yang bisa membawa ketenangan dan keharmonisan antara manusia dengan alam yang sama-sama dari ciptaan Sang Khalik dan pada dasarnya saling bergantungan. Beliau mengajarkan arti kehidupan yang tak semua orang bisa berikan.

Lepas dari pelajaran serba Timur, aku termasuk orang yang hampir tak mengerti apa saja yang disampaikan oleh guru bahasa Inggris. Mata pelajaran ini ku dapatkan pertama kali saat detik-detik ujian akhir sekolah SD akan dilaksanakan, sangat mendadak. Maklum, SD ku berada di perkampungan kecil yang belum banyak tahu apa yang penting di dunia luar. Keadaan ini membuatku sangat panik ketika tahu akan belajar Bahasa Alien ini di Diniyyah Puteri. I just knew hated English more than I hated Arabic. Tak seperti teman-teman yang lain. Mereka sangat tertarik dan berbangga-bangga jika bisa menjawab pertanyaan guru dengan bahasa Inggris. Tak seperti aku yang tak mengerti apapun yang dilontarkan guru. Aku seperti pelari sprint amatiran, yang sangat ngos-ngosan mengejar ketertinggalan dan diperburuk dengan teriknya matahari sehingga dehidrasi berlebihan membuat kepalaku semakin pusing dan sebentar lagi serasa akan pecah. Yang ku dengar hanya bahasa yang sangat asing, seperti adikku yang sedang mengigau dalam tidur. Aku akhirnya menyerah, tak disangka proses perkenalan dengan bahasa Arab bisa diaplikasikan ke bahasa Inggris. Tapi aku tidak mau menyerah. Beberapa kali sudah ku coba dan paksa diri namun sedikit tertinggal disini ternyata akibatnya fatal. Tertinggal dua langkah dan menyicil besok, teman-temanku sudah berada di depan sepuluh langkah. Aku tak mau mencari-cari alasan tapi aku benar-benar bingung. Pesimis bukanlah pilihan, tapi permasalahannya adalah aku tak melihat ada pilihan lain. Mungkin memang sudah batas kemampuanku yang menyedihkan, miris!

Sedikit banyaknya, guru sangatlah berperan pada permasalahanku ini. Karena guru yang baik adalah guru yang bisa membimbing muridnya, tidak hanya bisa mengajar tapi juga mendukung, mendorong muridnya agar percaya bahwa ia mampu berbuat lebih, melangkah lebih jauh lagi, lebih cepat lagi. Akhirnya, aku dipertemukan dengan seorang guru privat bernama Ainun Mardhiah. Aku memanggilnya kak Ainun. Saat itu aku sudah dikelas 3 DMP, memasuki semester 2. Jadi, perjuangan tunggang langgang dengan pelajaran Bahasa Inggris sudah ku jalani selama 5 semester. Kala itu Ujian Nasional (UN) sudah di depan mata. Kak Ainun bukanlah seorang guru seperti guru-guruku yang dikelas. Dia juga sama sepertiku, seorang santri yang saat itu duduk dibangku 3 KMI. Itu tandanya kami sama-sama mendekati detik-detik UN. Mungkin ini merupakan suatu bentuk pertolongan dari Allah karena dengan beliaulah aku merasa menemukan titik terang menghadapi perang dengan Bahasa Inggris. Dengan harapan bisa berdamai dengan pelajaran Bahasa Inggris. Kakak sangat hebat dan pintar. Bahasa Inggris adalah hal yang paling akrab dengannya. Ia sering mengikuti lomba dengan Bahasa Inggris yang menjadikannya salah satu bintang di poondokku. Namun dengan semua itu, ia tetaplah seorang yang rendah hati dengan pikiran yang terbuka lebar.

Karena Bahasa Inggis adalah salah satu mata pelajaran yang di UN-kan, mau tidak mau aku harus mengejar segala ketertinggalan selama 2,5 tahun terakhir. Setiap malam, kakak selalu menyempatkan diri mengajariku. Yang ada dibenakku, aku takut sekali mengganggu waktu kakak karena dia juga harus mempersiapkan dirinya menghadapi UN. Tapi kakak selalu menyempatkan waktu untuk membantu adiknya ini. Tiap malam, setiap hari, rasanya Bahasa Inggris menjadi mata pelajaran nomor satu diotakku. Kakak sering berkata, “Bahasa itu penting. Setinggi apapun ilmu kita, jika tak bisa menyampaikannya dengan bahasa yang baik, ya percuma.” Benar, dan hal ini semakin lama semakin dapat ku rasakan benarnya. Seorang dokter, misalnya, harus mampu menjalin komunikasi yang baik dengan pasien. Seorang guru dengan murid-murid, pebisnis dengan klien, dan segala macam posisi yang kita jalani, komunikasi yang baik adalah hal yang harus dibangun. Untuk mewujudkannya, bahasa adalah modal utama. Dengan bahasa Inggris, karir yang kita jalani akan cepat melejit karena banyaknya kesempatan yang bisa diambil. Kakak membuatku jatuh cinta pada bahasa Inggris, hal yang tak pernah ku sangka-sangka seumur hidupku. Kakak punya metode pembelajaran dan pengajaran yang pas. Walau terkadang aku masih sulit mengerti, Kakak selalu mempermudahnya dengan mengubah cara pandangku. Banyak sekali idenya dalam mengajar. Walaupun Kakak bukanlah guru dikelas, tapi Kakak lebih dari itu. Aku sangat bangga padanya, salut pada kesabarannya.

Suatu hari kami melaksanakan ujian pra-UN perdana. Aku harap-harap cemas sekali hari itu. Pertanyaan-pertanyaan ku jawab dengan teliti dan sabar. Pengumuman nilai terpasang di depan kantor guru beberapa hari kemudian, dan aku mendapat nilai 45. Wow!!! Ini suatu peningkatan yang signifikan menurutku karena tidak jauh beda dengan nilai teman-temanku yang jago Bahasa Inggris. Hingga pada ujian pra-UN terakhir, nilai Bahasa Inggris ku bisa mencapai 89. Nilai tertinggi Bahasa Inggris yang diberi coretan stabilo sederetan dengan namaku. Tak terbayangkan betapa senangnya hatiku, ada kebanggaan tersendiri untukku mengingat proses belajar yang tak henti-hentinya dari kakak. Kakak ikut bahagia melihatku menangis karena aku sudah bisa mengalahkan ketakutanku dan kini membuahkan hasil. Senyum ku tak henti-hentinya merekah hari itu.

Sosok pendidik yang ku lihat di dalam diri beberapa guru yang ku ceritakan di atas ditambah dengan hadirnya kakak yang berperan sama membuktikan padaku bahwa guru bisa ditemukan dalam diri siapa saja, yang juga berarti bahwa kita suatu saat akan menjadi pendidik bagi orang lain, atau paling tidak untuk diri kita sendiri. Kolaborasi guru-guru dengan kakak menciptakan cerita yang tak bosan-bosan diingat dan diceritakan terus menerus. Jadi, aku akan terus bingung jika disuruh memilih satu orang yang paling signifikan mengajarkanku hidup karena sosok guru bagiku adalah akumulasi dari para pendidik terbaik yang pernah ku temui di Diniyyah Puteri, pondok pesantren perempuan tertua di dunia. Membuat pembelajaran arti hidupku sangat kaya dan penuh warna, terkadang mencekam, lucu, menguji kesabaran, dan penuh inovasi. Hanya ucapan terima kasih dan sepucuk doa yang bisa ku berikan pada kalian, guruku tersayang.

Aku Mawarmu

Angin yang berhembus lembut,
menerpa lapisan tipis wajahku
Tak terasa,
kini mawarmu tumbuh merekah
Didepan halaman rumah.
menghiasi indahnya taman

Setiap hari engkau melirikku,
yang semakin hari semakin memerah
Tiap waktu menghampiriku,
karena wangiku yang selalu mrngundang langkahmu
Tiap saat merindukanku,
apakah mawahmu ini baik-baik saja

Kini mawarmu telah tumbuh besar,
semakin mengundang selera setiap orang yang melihat
Kau selalu mengusahakanku,
agar selalu menjadi yang terbaik
Kelahiranku ternyata membuatmu bahagia,
bahagia yang tak tertara
Kau selalu menyiramiku,
ditiap pagi dan sore hari,
agar ku bisa menikmati indahnya kehidupan,
kehidupan yang hanya sekali ini

Jaga aku dalam kasihmu
Lindungi aku dengan sayangmu
Doakan aku,
agar bisa menyenangkan banyak orang
menolong banyak makhluk Tuhan

Kau lah bunda, bidadariku...

Monday, May 28, 2012

Pengabdianmu Dilihat Tuhan

Seperti biasa, lagi-lagi menonton TV bisa menjadi suatu sumber referensiku. Yah, selain berita-berita dalam negeri bahkan mancanegara, gosip-gosip yang shiftnya pagi siang selalu ada, acara masak-memasak, jalan-jalan, makan-makan, aku juga sering menonton atau kebetulan tertonton acara yang mengangkat kisah para manusia-manusia yang sering, suka, bahkan kehidupannya dihabiskan dengan mengabdi. 

Terkadang tetes air mata pun berjatuhan akibat kontraksi emosi yang menyampaikan impuls ke otak agar memberi kan sinyal kepada kelenjal air mata/ glandula lacrimalis untuk memicu pengeluaran air mata sebagai suatu wujud tekanan emosi tadi. Hm, emosi ku bermain di benak dan hati, bercampuraduk. Berjalan kemana-mana. Dengan bisikan hati terdalam, "Ku ingin seperti mereka. Dapat mengabdikan diri sepenuhnya bagi siapapun yang membutuhkan." Yah, ku tahu, itu sulit. Tapi seperti kata salah satu sang pengabdi, "Emang banyak tangtangan dan terkadang terasa agak sulit, tapi kalo bisa bantu mereka yang memerlukan, senaaaaang sekali!"

Salut! Salut! Salut!

Segala pengabdianmu dilihat Tuhan. Yakinlah, Tuhan tak tidur. Tuhan menyayangi kalian, para pengabdi! Semoga semuanya dimudahkan... Amin. 

Masa Kanak-Kanak yang Tak Terlupakan

source: google image


Lagi-lagi acara TV, Topik Pagi. Ada salah satu liputannya yang diadakan oleh Neoenterostop di daerah Jakarta yang dulu di daerah tersebut pernah menjadi daerah endemik diare karena terletak di daerah pesisir dan banyaknya limbah. Nah, mereka mengadakan serangkaian acara untuk anak-anak PAUD dan TK. <- Bukan ini yang ingin ku bicarakan... Tapi anak-anaknya!!!

Masa kanak-kanak adalah masa yang paling menyenangkan, menurutku. Terlihat olehku anak-anak yang ada di acara tadi sedang mengikuti lomba mewarnai. Ada yang mewarnai dengan teliti dan hati-hati sehingga pewarnaannya rapi dan searah dengan rambut berwarna hitam, (daun) pepohonan berwarna hijau, batang berwarna cokelat, baju berwana biru, celana berwarna abu-abu, tanah berwarna cokelat, dan balon-balon berwarna-warni (merah, kuning, hijau, dilangit yang biru). Tapi ada juga yang mewarnai sembarangan. Tak tentu arah, yang penting ada warnanya! Hahahaha...!!! -> Teringat masa kecil ku dulu, aku sangat menyukai dan mencintai pelajaran menggambar sejak TK hingga SD. Duh.... Indahnya masa-masa itu :D

Acara nyanyi bersama juga ada! Mereka menyanyikan lagu "Pelangi-pelangi alangkah indahmu." Nah, inilah salah satu alasan agar anak-anak yang imut-imut bisa mengenal banyak lagu-lagu daerah, tarian daerah, lagu anak-anak lainnya. Karena anak-anak sekarang lagunya macem-maceeeeem aja! Cepet gede nya! Apalagi otak anak kecil masih jernih dan cepet nangkep sesuatu, jadi mudah meniru apa saja yang ada di sekelilingnya. Kalo masuk PAUD/TK kan bakal diajarin lagu anak-anak dan memperkenalkan lagu daerah.

Selain itu, ada juga anak-anak yang pemalu. Disuruh ini, malu. Disuruh itu, malu. Trus ada juga yang penakut. Dikit-dikit panggil mama, ibu, bunda, emak, mami, mimi, dsb! Banyak-banyak nangis! Macam-macaaaaaam aja tingkah dimasa kanak-kanak itu ya...???

Nah, kalo yang satu ini, mungkin semua anak-anak pemahamannya agak mirip! Misalnya ada kertas yang robek ato mainan yang berdasar kertas/karton yang sobek, penanganan awalnya adalah menjulurkan lidah dan mengambil sedikit air ludah dengan 1 jari lalu menempelkannya ke celah yang cobek tersebut. Hehehe... Atau malah menjilatnya lalu seolah-olah ntu kertas bisa menyatu. Hihihihihi, lucu! I miss my childhood... :D

Sunday, May 27, 2012

Air Mata yang Bermakna

Sebenarnya bukan air mata yang akan ku sampaikan disini. Kisahnya dimulai saat pagi hari, bangun dari ketidaklelapan tidur dengan kantuk dan rasa malas yang menggantung di seluruh tubuh. Langsung makan sahur untuk puasa di hari selasa membayar nadzar yang belum tuntas. Dilanjutkan dengan shalat subuh, lalu meneruskan pencarian LO (learning objective) untuk tutorial jam 07:30, yang belum terlengkapi sebelum tertidur. Setelah merapi2kan apa saja yang perlu dirapikan dan dibersihkan, dan saat nya go to campus!!!

Ku tahu, hari selasa biasanya kegiatan perkuliahan bakal penuh di kampus (biasanya lo ya... :p) Tapi memang begitu, setelah tutorial, masih ada 3/4 mata kuliah lagi yang akan disaksikan dengan suasana seperti biasa. Kalo masih pagi, masih ada semangat. Tapi dari siang-sore, inilah waktu2 yang rawan buang nge-close-in kedua mata alias terkantuk2 bahkan ada yang tidur dengan posisi yang PeWe banget sepertinya.

Nah, ada 200an orang dalam 1 kelas, membuatku sangat letih. Justru bukan karena perkuliahan yang penuh, yang sering bikin aku letih. Tapi keadaan di kelas yang ributnya seperti pasar saat pergantian dosen (sampe2 gendang telinga ini mau pecah!!!) dan kehebohan juga terjadi, karena kelas juga dijadikan bioskop yang menampilkan film2 terbaru, yang pastinya bajakan :p (maksudnya, tak tahu asalnya dari mana, copas dari satu orang ke orang lain hingga ditampilkan di bioskop kami, kelas kami). Dengan suasana yang gelap di kelas karena film telah dimulai, aku semakin capai. Nggak bisa baca deh! Paling dengerin musik pake headset kesayanganku yang udah usang.

Selesailah perkuliahan di jarum jam menunjukkan pukul 16:00 teng. Akhirnya, saat yang ditunggu2 telah tiba. Go hoooooome! Yes! Riangnya hatiku. Eiiiiiitssssss, tunggu dulu! Waktu diperjalanan menuju rumah, sebelum belokan masuk dusun deket rumahku, para polisi tepatnya polantas sedang ngadain rahazia. Aduh! Capekku malah balik lagi. Kepala cenut2 (serasa kecapean gitu, halaaaah! sok sibuk banget!), hati kacau (karena aku nggak bawa dompet, so aku juga nggak bawain tu SIM dan STNK), mata sayu (nguantuk minta ampyuuuun), deg2an karena pak polisi lagi didepan mata dengan jiwa dan raga ku yang sedang pasrah semoga semuanya akan baik2 aja.

source: google image

Karena perlengkapanku tak ada, aku disuruh menghadap para polisi yang bakal nulisin surat tilang dan yang pastinya dengan kwitansi buat bayar denda (mungkin sekitar 70ribu rupiah, nggak bawa SIM bayar 30ribu, nggak bawa STNK bayar 40 ribu). Mata ku langsung berlinang2 air mata. Berlinang aja loh yaaaaa...!!! Trus aku jelasin ke bapaknya, kalo aku lagi puasa jadi nggak bawa dompet dan pastinya seisinya nggak kebawankaaaan? Dengan nada yang pelan dan hati capai. Ku jelasin juga, kalo rumahku dekat banget sama tempat bapak tersebut sedang rahazia. "Kan kampus saya dekat sama rumah pak...", kataku. "Beneran deh!", sambungku. "Kalo bapak mau tunggu, saya taruh dulu motor saya disini ya pak... Mohoooon banget pak! Saya ambilin SIM dan STNK nya sebentar. Dekeeeeet banget pak, rumah saya dari sini. Kan yang penting ini beneran motor saya", lanjutku. "Bagaimana pak?", tanyaku. Bapaknya masih musyawarah dulu sama temannya. Tapi ada 1 bapak polisi yang baik! Alhamdulillah ya... :D Bapaknya lihat mataku yang berlinang air mata dan akhirnya air mataku memang jatuh dari kelopak mata yang tak sanggup mengganjalnya lagi karena sudah berat untuk ditampung. Bapaknya juga lihat kesungguhanku waktu bicara sama beliau, yaps beliau alhmadulillah bisa mempercayai saya dan bilangin, "jangan diulangi lagi ya mb... ( beliau sambil tersenyum, yang mungkin karena melihat wajahku yang amat tulus dan memohon pertolongannya)" Akupun bebas dan bisa balik kerumah mempersiapkan makanan untuk buka puasa. Alhamdulillah... Bapaknya baik sekali... Terima kasih bapak, sudah menenggangiku...

Monday, May 21, 2012

Senyum yang Tulus



Setiap melihat wajah bayi yang tersenyum lepas dan tertawa riang, meluluhkan batu kemarahan dan kekesalanku. Ku ingin hidup layaknya anak bayi. Yang selalu dirindu sang bunda dan dimanja sang ayah. Ditimang-timang. Dipuji-puji.  Selalu bahagia. Selalu ada solusi, jika menangis, kalo tidak digigit serangga kecil, kalo tidak mau mimik. Kalo tidak, resah karena dibasahi sama pipisnya sendiri. Hanya sedikit masalah. Tanpa pikiran, yang menguras otak. Kecuali hal-hal kecil dalam  mengasah masa perkembangan mereka. :)

Apip, rindunya kakak sama kamu, dek...
Mmmmmmuah, peluk cium dari kakak :*
Yang sehat ya sayang...
Yang pandai...
Semoga Allah melindungi kita :D

Wednesday, May 16, 2012

Kami Mirip!

Sewaktu masih kecil, aku sering berfikir "cici ni bener2 anak ayah ibuk nggak ya???" Ntah apa yang merasuki pikiranku saat itu. Tapi biasalah ya, namanya juga anak2 :p Kan suka mikirin yang aneh2, suka imaginasi (seolah2 kartun yang ada di TiVi ntu nyata) ato (berkhayal ingin menjadi ini itu), dan suka melontarkan pertanyaan2 yang kadang nggak terpikir sama orang dewasa sekalipun. 

Tapi lama2 aku bisa ngilangin pertanyaan tadi. I am a daughter of my parents. Karena kami banyak kemiripan. Terlebih lagi dari kemiripan fisik dan bentuk. Ayah punya jari tangan dan kaki yang pendek2 dan sedikit menggembung (karena kami makin gendut kali ya "_"), aku juga seperti itu. Persis malah! Ibuk punya mata yang rada dikit sipit (udah rada, dikit pula :p), aku juga punya mata yang agak cipit2 gimana gitu. Hahaha... Ayah ibuk punya tinggi badan yang nggak tinggi2 amat dan nggak pendek2 amat, akupun begitu, pas2an. Bibir dan hidung ku adalah perpaduan dari mereka. Rambut ku mahkota ku juga seperti ayah ibuk, blasteran dari mereka. Nah, khusus buat telinga, mirip sangat sama ayah, sama mungkin! Pigmen melanin kami juga sama, antara kuning langsat dan sao matang. Senyum kami pun mirip, manis! :p

I and my mommy :D

fisik: physiology
bentuk: morfology
mata: visus
jari: digiti
kaki: extremitas inferior
tangan: extremitas superior
bibir: labia
hidung: sinus
rambut: - (silia? I think, not)
telinga: auris

PR cici! Anatomi nya harus di pelajari lagi!

Sunday, May 13, 2012

Untitle (1)

Disaat raga ini lelah
Tak ada yang peduli 
Jiwa sesara terbakar
Semua terasa sesak

Pembuluh darah menyempit
Tawa adalah hal yang sulit
Tangis selalu menemani
Pola nafas dalam dan cepat mengiring

Mencari celah dirapatnya tembok
Menggali tanah yang kering kerontang
Memecahkan batu dengan rintihan
Sangat sulit untuk disangkal

Akupun tumbuh besar
Dengan harapan mendalam
Ku sedang berkembang
Ku ingin menjadi dewasa

Kala kebingungan menghampiri
Saat kegalauan datang
Ku hanya berdoa
Semoga ku selalu bersamaNya

A Little Bit About Skin

Siapa yang tidak ingin memiliki kulit yang sehat? Kita semua pasti menginginkan kulit yang sehat. Bahkan tidak sedikit juga yang menginginkan kulit yang sehat + putih + lembut + mulus + cerah dan plus-plus lainnya. 

Like what I have seen in my surrounding, banyak yang ingin mempercantik penampilan tanpa memikirkan apa akibat dari semua itu. Terutama pada bagian wajah. Tidak hanya wanita. Laki2 pun juga banyak yang tertarik ingin mempunyai wajah yang kinclong! 

Langkah untuk mempercantik wajah alias perawatan sangatlah berguna untuk kulit tapi harus tau, sebatas mana keamanan dan sebatas mana hal tersebut elok kita lakukan. Kenapa saya bisa bilang begitu? Karena ada teman (lk2) saya yang melakukan perawatan wajah. Namanya aja perawatan, berarti wajahpun semakin terlihat sehat. Tapi menurut saya juga ada batasnya. Kalo tidak, malah seperti teman saya, kami (as his friend) takut banget lihat wajahnya, putih sekuali :p, like there is no skin's layer, just ari2's skin.

Ada pesan dari dokter spesialis kulit sewaktu kami mempelajari kelainan2 morfologi kulit. Beliau menyatakan, sekarang banyak sekali (khususnya) wanita yang memakai ntah alas bedak ntah apa namanya, yang ditempel dioles di wajah sampai2 berwarna putih dan mengkilat tak menentu. Dan tidak banyak pasien dokter kulit tersebut yang suka memakaikan kosmetik ke wajahnya tanpa mencucinya dengan sabun cuci wajah. Mereka berpaham kalo hanya kosmetik yang ditempel diwajah itulah yang bisa memperbaiki keluhan2 diwajahnya. Padahal yang paling penting itu adalah membersihkan(wajah)nya bukan melapis-lapisinya. Setiap kuman ato kotoran yang hinggap di muka kita harusnya dicuci dengan sabun (muka), kalo tidak, disanalah bisa mulai terjadi kerusakakn kulit.

Di perkuliahan lainnya, ada dosen yang menuliskan dibawah ini pada slidenya:
Pertanyaan: Mengapa kulit relatif gelap?
Jawaban: Alhamdulillah
Pertanyaan: Mengapa kulit menua?
Jawaban: Penyakit tanpa obat
Pertanyaan: Kenapa tidak boleh sering foto rontgen?
Jawaban: Terdapat radiasi
Pertanyaan: Mengapa akhir2 ini penderita kanker kulit meningkat? Amankah sunbathing dengan menggunakan sunscreen?
Jawaban: ???

Mengapa kita (beberapa orang) punya kulit yang relatif agak gelap? Karena alhamdulillah pigmen yang memberikan warna kulit yaitu melanin kita bisa dikatakan DBN (dalam batas normal). Bersyukurlah, karena kulit yang agak gelap memiliki proteksi yang baik. Nah, ini sebabnya banyak turis2 yang datang ke Indonesia senang banget berjemur di terik matahari alias sunbathing. Ini berguna untuk menimbulkan pigmen tersebut. Dan dengan banyak paparan sinar matahari (sinar UV), bisa meningkatkan risiko kanker kulit karena lapisan ozon di bumi mulai menipis sehingga sinar2 berbahaya bisa menghampiri kulit. Dengan kulit rada gelap, sedikit bisa sebagai pelindung. So, thanks God.

Mengapa kulit menua? Karena yang namanya aging process itu berhubungan dengan anatomi dan fisiologinya. Terjadi degenerasi fisiologi dan fungsional saat penuaan. Kulit bisa menua karena tidak ada obatnya. Tidak ada obat untuk penuaan. Rasul juga berpesan: Semua penyakit ada obatnya, kecuali penyakit tua. Nah, kalo pun ada obatnya, paling hanya memperlambat saja, not permanently. 

And the most important is knowing our body's sign. When we feel something weird of our body, maybe that is a symptom of something too. Maybe there is an anomaly or whatever. Just know our own body. :D

Saturday, May 12, 2012

Untitle

Crying is,
A reaction of sadness
A mediator of happiness
An action that we almost-often do it
A word that can be a trasmitter what the people is feeling

Crying is the best medicine
Crying is a magic
Crying is so useful
Crying is a friend that I can't leave

By crying,
All of the rebounding can be fallen
All of the furying can be calmed
All of the passiveness can become a love
All of the tight can be wide

With crying,
Remind me when I was a child
Remind me by my lovely people, my family
Remind me when I was falling 
Remnid me when I was glory

So crying,
Splashing the barren's heart
Closing me to the God

And crying,
Making me to thanks about having her

When I was crying,
She always can make me to take my big smile

After crying,
Increasing my yearning to her

Thanks a lot for what you have done
You are easy to make me crying and smiling
That's mean so much fo me

Friday, May 11, 2012

From Muttaqiin Until Prolitic Reaction

Pagi ini aku kuliah dengan Prof. DR Ahmad Mursidi, Apt, MS. Beliau adalah dosen undangan (sepertinya sudah pensiun). Karena beliau sudah lanjut usia, jadi aku kadang2 rada kurang dengar apa yang beliau sampaikan. Sedikit menyampaikan apa yang beliau sampaikan.

Diawali dengan kuliah tujuh menit alias kultum hingga kuliah reaksi protolitik menggunakan bilingual (Bahasa Indonesia dan Inggris) *Cool... Beliau menanyakan kami, 

"Apa tugas kalian hidup dan apa yang kalian cari?"

Bermacam jawabanpun keluar dari bibir kami yang berjumlah 200an orang. Ada yang jawab, ingin ditempatkan di syurga lah, ingin membantu orang lain lah, ingin membahagiakan orang tua lah, dan lain sebagainya. Lalu beliau memotong,

"Wattaqullaha haqqa tuqaatih..."

Sesuai dengan dalil diatas, "Bertaqwalah kamu kepada Allah dengan sebenar taqwa" bisa kita simpulkan bahwa tugas hidup manusia didunia ini adalah bertaqwa kepada Rabb. Sehingga orang2 yang bertaqwa pada Tuhannya akan meraih kabahagiaan, keberuntungan, kemuliaan, dan jalan keluar saat memiliki permasalahan serta akan mendapatkan rahmat-Nya dari langit dan bumi. Dilanjutkan lagi,

"Tujuan kalian jadi dokter itu apa???"

"Is it your future? How you make it to be real?"

"You have to think it starts now, before you graduate"

"You are going to be a leader!!!" -> dengan nada yang menggebu2. Hehe

"You are going to be a leader in this universal"

Dan kelaspun hening seketika, dan ribut kembali. Wkwkwk... Beliau juga melontarkan bahwa motto orang sekarang itu berbeda dengan motto orang dulu.

Kalo dulu -> Berakit2 ke hulu, berenang2 ke tepian -> Bersakit2 dahulu, bersenang2 kemudian

Kalo sekarang ->  Berenang2 ke hulu, berenang2 pula ke tepian -> Bersenang2 dahulu, bersenang2 juga kemudian -> Jadi orang2 sekarang sukanya yang senang2 aja (He said). Hidup senang, mati tenang. Tidak seperti dulu, dengan segala keterbatasan media, orang dulu itu lebih kreatif daripada orang sekarang. Walaupun tidak semuanya benar dan bisa dipakai dengan rumus ini, setidaknya mereka (orang2 dahulu) telah mengingatkan kita agar selalu berusaha/ bersakit2 dahulu dan bersenang kemudian.

Kuliah berlanjut ke reaksi protolitik (skin n acid-base)... (will be continued, soon :p)

Thursday, May 10, 2012

It's A Challenge and Buffering

Seusai ujian tes masuk Perguruan Tinggi dan beberapa tes sebelumnya yang belum berhasil dicapai...

"Sampai berapa lama lagi kak, kegagalan akan menemaniku (... or ???)"

Is it a question?

Or..

A statement?

I dont know, tapi kalo ingat2 ini, jadi ingat masa2 selepas SMA. Pernyataan ato pertanyaan ini dilontarkan oleh adek tingkat semasa di ponpes dulu. Dia sedang sibuk2nya bimbel, like what I have done 2 years ago. Dia sepertinya sedang disibukkan juga dengan kata2 "gagal" dalam benaknya. Wajar dek... That is the pressure and maybe everyone can feel what you are feeling now, including me.

Ingin kuliah? Ya iyalah...

Siapa juga yang nggak mau. Tapi emang pasti bakal dihadapin masalah baru nih. Gimana caranya masuk ke Perguruan Tinggi ya??? Seperti yang kita lakukan jauh sebelum menginjak perkuliahan, hal kayak gini nggak bakal hilang. Dari tamat TK, sampe mau masuk SD. Dari tamat SD, sampe mau masuk SMP. Dari tamat SMP, sampe mau masuk SMA. Nah, sekarang gilirannya dari SMA, sampe mau masuk ke Perguruan Tinggi. Cemas, takut gagal, merinding, deg2an... Beberapa syndroms berikut tadi, biasanya sukaaaaa banget nemani kita di saat masa2 penyebrangan/ peralihan. 

Perjuangan itu, artinya berkorban
Berkorban itu, artinya terkorban

Janganlah gentar, untuk berjuang
Demi agama dan bangsa
Inilah jalan kita

Lirik lagi yang selalu membuatku hanyut dalam buaian masalah2, menyemangati saat merasa gagal, mencari pencerahan saat tersesat, membuat tersenyum dengan kelelahan yang dirasakan.

Semangat adek2ku... 
Ingat! Kita bisa seperti apa yang kita inginkan *bukan seperti orang lain*!!!

Kok Bisa Sih?

Banyak pertanyaan yang harus tak jawab dengan pertanyaan "Kok Bisa Sih?" Sampe2 kadang bingung mau jawabnya gimana :( 

Kisah ini dimulai sejak di bangku perkuliahan...

"Kok bisa sih, badan cici makin gemuk padahalkan anak kedokteran?"

-> Mereka menganggap kalo anak2 kedokteran itu pada kurus2 semua dan kutu buku semua. Hahaha, nggak semuanya gitu kok. Dimana2 biasanya bervariasi dan ada juga samanya, nggak mengenal jurusan (ato universitas). Kalo cici stress ato pusing mah, sering dibawa makan, biar sedikit mengurangi beban pikiran *halah! sok2an* ato kalo nggak tak bawa jalan... Mungkin nggak banyak orang seperti ini, ya nggak? Tapi emang banyak faktornya yah, mungkin ekstrinsik or intrinsiknya (padahal rata2 semua perkuliahan yang bisa bikin tubuh semakin seperti tak berisi, nggak kedokteran aja kok!)... So, just find what your own! It is so relative ;)

Dan "Kok bisa sih" yang lainnya... *buanyak, maap g bisa ditulisin*

Hingga yang satu ini...

"Kok bisa sih, cici aman2 aja didunia luar?"

-> Sebelumnya, kan cici tamatan ponpes ya, jadi dunia dalam itu asrama/ponpesnya dan dunia luar itu selebihnya... Nah, ada yang nanyain cici kayak gitu. Mau dijawab apa coba? Sebenarnya cici yang harus balik tanya, "Emang kamu tau berita ku disini? Bagaimana kehidupan ku?" Eh eh eh, tapi nggak sopan ya... Jadi tak jawab aja pake gurauan. Hehehe... Dalam hati berkata, mustinya kita yang harus menyamankan diri dengan lingkungan di luar (ponpes), karena kemungkinan besar tugas kita sangat amat banyak dalam bermasyarakat, mau nggak mau harus ada stressor, mau nggak mau harus ada masalah. Awal2nya sempat kaget dan minder gitu tapi lama2 menyesuaikan. Mungkin juga banyak yang mengira kalo cici aman2 saja disini? Yaaaaa, nggak juga, jarang nampak aja kali ya *padahal kenyataannya??? doeeeeng!* Banyak pusingnya malah wkwkwk...

Semoga kita selalu dijaga oleh Tuhan yang maha kuasa agar dimudahkan semua permasalahan dan dalam ujian yang ada. Semoga apa yang kita alami membuat kita semakin dewasa on thinking and dewasa to do something. Amin.

Tuesday, May 8, 2012

Menjaga Anak

Siang menuju sore ini ada tayangan di layar TV kesayangan ku "AXN". Ternyata jadwalnya "Caught On Camera". Seperti biasanya, "Caught On Camera" menampilkan rekaman2 kegiatan/ hal yang tidak disengaja di rekam. Biasanya hal yang mengerikan dan kejadian2 tidak disangka. Seperti yang pernah aku tonton dulu, rombongan skiboard -nggak tau tulisan yang benarnya gimana :(- yang berencana mengambil beberapa foto, mungkin untuk cover majalah jalan2 ato keperluan lain. Ternyata terjadi hal diluar skenario. Model yang melakukan skiboard tersebut tergelincir dari denah yang telah ditentukan sehingga tidak berhenti pada pemberhentian yang direncanakan. Lelaki tersebut tergelincir dengan berlimang darah di daerah bersalju berkilo2 dari yang semestinya, menimbulkan warna merah putih. Oh God, mengerikan sekali. Ia meninggal ditempat dengan mengalami fraktur (patah tulang) dan perdarahan yang hebat.

Lain halnya yang ku tonton siang ini...

"Survival" itulah yang harus dilakukan oleh binatang yang tinggal di padang rumput yang gersang. Sepertinya orang merekam kejadian ini sedang piknik ato berlibur di padang rumput yang kering kerontang itu. Menangkap video yang mengerikan tapi bermakna. Ada seekor anak sapi dimangsa oleh sekitar 6 ekor singa. Singa2 membuat anak sapi itu lemah dengan harapan bisa memakannya. Tapi terlambat, segerombolan sapi2 besar dan bertanduk mengerumbuni singa2 tersebut dan mengejar mereka satu per satu hingga anak sapi selamat.

Mungkin begitulah yang akan dilakukan orang tua kita pada anak2nya. Menjaga anak2 mereka agar selalu aman dan baik2 saja. Menjaga anak2 mereka supaya tidak menjadi anak yang nakal dan menjaga anak2 mereka dari segala macam kejahatan, seperti yang dilakukan para sapi2 tadi. Hanya terkadang kita sebagai anak acap kali membantah what they have said to us. Maapkan kami ayah dan ibu, sering membantah kalian, tapi insyaallah setidaknya kami sudah cukup dewasa untuk menentukan dan melakukan sesuatu yang berguna dan baik bagi diri kami. Walaupun begitu, We as your son/daughter always need your advise for reminding us. Terima kasih atas segala yang telah ayah dan ibu berikan pada kami. That was so important...