Friday, December 30, 2011

My View on Difabel

Perhatian dan pengetian merupakan suatu kebutuhan manusia. Yah, saya sendiripun sangat membutuhkan 2 hal tersebut. Saya rasa, semua orang yang hidup memerlukannya. Bagaimanapun bentuk dan cara penyalurannya, yang namanya kebutuhan, harusnya atau mestinya dapat terpenuhi. Betuuuuul??? Begitu pula dengan para difabel.


Siapa yang tidak ingin hidupnya sempurna? Siapa yang tidak ingin diperhatikan? Nah, cerita ini bermula dari “perjalanan” saya. Setiap saya berjalan menyusuri jalan, melewati taman, melewati apa saja. Saya sangat terkesan dengan instansi atau tempat-tempat yang mempunyai inisiatif dan perhatian terhadap para difabel. 


Intinya, kita semua sebagai manusia ingin sekali diperlakukan sama dengan yang lainnya. Nah, ini juga merupakan salah satu unsur dari ‘hukum’. Sebagaimana yang telah kita ketahui, hak dan kewajiban manusia adalah sama di mata hukum. So, memang sudah seharusnya hukum pun mempunyai kewajiban untuk melindungi para difabel. Seperti foto yang saya ambil dibawah ini, ternyata sudah lumayan banyak fasilitas-fasilitas umum yang dapat juga digunakan oleh para difabel. Seperti kamar mandi, jalan masuk ke suatu bangunan, lift, halte bis kota, dan didalam bis itu sendiri.

There is no different, isn't???






Saya juga memperhatikan beberapa tempat yang sudah peduli dengan hal tersebut. Seperti di Ambarukmo Plaza di Yogyakarta, mulai dari jalan masuk kedalam mall, sudah terdapat jalan yang miring dan rata untuk para difabel yang menggunakan kursi roda. Disana juga disediakan kursi roda yang standby bisa dipakai untuk costumer atau pendatang yang masuk ke mall tersebut. Lalu lift yang juga disediakan untuk para difabel agar dapat memudahkan mereka untuk naik-turun antar lantai. Lalu kamar mandi pun juga telah disediakan yang di pintu masuk kamar mandinya terdapat penahan pintu dibagian atasnya supaya memudahkan mereka untuk masuk, serta didalamnya terdapat pegangan tangan yang bisa mereka pegang. 





Trans Jogja juga medesign haltenya supaya para difabel mudah menggunakan fasilitas kendaraan tersebut dengan jalan masuk haltte yang miring dan licin alias nggak pake tangga. Trus di dalam bis Trans Jogja juga disediakan tempat untuk kursi roda bagi yang menggunakan kursi roda.

Salah satu cerita yang saya tahu tentang difabel ini, yakni dari kakak saya yang melakukan studi banding di suatu tempat di sekitar UGM (Universitas Gajah Mada).  Kebetulan kakak saya jurusannya Sastra Inggris, studi banding tersebut di dapat dari mata kuliah etika. Kakak saya berhadapan dengan difabel yang  profesi mereka, dikagumi oleh kakak saya. Di tempat tersebut seperti markasnya sastrawan dan para penikmat sastra. Wuiiiiih, mantap banget kan? Saya aja penasaran banget sama tempat tersebut. 


Nah, ditempat tersebut (maap, kakak saya lupa apa nama tempatnya :D) lumayan banyak sastrawan dan penikmat sastra yang difabel. Mereka tetap bersemangat dan kelihatan sangat ceria dan memiliki impian yang tinggi, bahkan melebihi impian kita yang tidak menyandang difabel. Disana kakak saya sangat senang sekali melihat kehebatan mereka. Mereka tidak ada dibedakan sedikitpun antara yang satu dengan yang lainnya. Begitu pula antara yang difabel dengan yang tidak. Mereka di perlakukan sama. 


Nah, disinilah kakak saya dan saya (baca: yang hanya mendengar cerita kakak saya) sangat terkagum dengan para difabel yang bisa menyeimbangkan diri serta selalu mengembangkan diri mereka. Poin yang saya dapat disini adalah bahwa yang namanya difabel itu ternyata tidak manja dan semua bergantung pada orang lain. Mereka masih bisa berkarya dengan keterbatasan fisik yang mereka punya. Karena sebenarnya bukanlah fisik yang paling dipentingkan, yang sangat amat dipentingkan itu adalah bagaimana kita menyikapi kehidupan ini dengan pikiran yang terbuka dan selalu ingin maju dan bisa bermanfaat bagi orang lain.


Nah, lain cerita, ini bukan tentang cerita lagi tapi pendapat saya sendiri. Siapa yang tahu sinetron ‘Glee’??? Yah, bagi yang belum tahu, ‘Glee’ adalah salah satu sinetron yang berasala dari negara nan jauh disana, Amerika. Karena yang namanya sinetron, jadi ada banyak episode to? Nah, pada sinetron Glee episode 2, saat mereka menyanyi dan menari bersama diatas panggung. Yang saya tangkap adalah sudah seharusnya tidak ada sesuatu lagi yang bisa dipisahkan antara orang yang difabel dengan yang tidak. 


Di film singkat-bersambung ini, ada salah satu dari mereka yang difabel. Ia menggunakan kursi roda. Dia di letakkan di posisi tengah dan paling depan saat berkolaborasi dengan pemain-pemain yang lain. Nah, disinilah bisa terlihat jelas oleh para penonton maupun para kru film tersebut bahwa sudah adanya peningkatan kesadaran manusia terhadap para difabel yang memiliki keterbatasan mobilitas, seharusnya memang kita semua harus diperlakukan sama. 


Disini saya lagi dan lagi terkagum serta tersintak bahwa sebenarnya orang difabel itu punya sesuatu yang “wah”. Dalam artian, para difabel ternyata tidak selemah yang pernah kita lihat dengan mata telanjajng saja. Coba kita buka mata hati dan pikiran kita tentang difabel. Mereka sebenarnya tidak lemah dan mampu juga melakukan hal yang sama seperti kita yang tidak memiliki keterbatasan fisik sedikitpun.

Wah, sudah banyak banget ya cerita saya. Ntah nyasar kemana-mana, yang penting tersampaikan apa yang saya maksudkan. Semoga kita bisa selalu mengoreksi diri dan menyadari bahwa antara difabel dan yang tidak itu nggak punya perbedaan. Bedanya cuma tipis tok! Tipiiiiis banget, hanya di terbatas dan tidak nya mobilitas. So, mari kita hargai para difabel dengan menyediakan fasilitas yang layak pakai serta denga tidak membedakan status dan yang lainnya. Dan kita semangati diri kita masing-masing agar selalu berbenah diri untuk saling bahu-membahu karena kita semua adalah manusia yang penting, manusia yang dibutuhkan oleh negara kita, dan kita adalah satu. 

No comments:

Post a Comment