Sunday, April 24, 2011

Kanker Servics

http://www.radioactivodj.com/web/index.php?limitstart=264
Pagi ini, (hari kamis, tanggal 21 April 2011) saya mendengarkan radio “Sonora FM” mulai dari jam 8 pagi sampai separoh acara. Ada acara yang membahas seputar seluk beluk kanker servics. Kebetulan hari ini adalah hari “Ibu Kita Kartini” jadi, ya... lumayan nyambunglah dengan materinya. Kan menguras seputar kesehatan reproduksi wanita. Hm hm hm... tapi dari tadi yang banyak tanya adalah kaum adam lhoooooo... Kaum hawanya pada kemana ni? Mana pertanyaan saya nggak dijawab-jawab sama moderatornya. Udah SMS 2x lhoooo (baca: kcian deh ane L). Hihihi, saya sebagai wanita agak illfeel, masa bapak-bapak yang sangat peduli. Ya, tapi saya juga tidak tahu, mungkin ibu-ibunya pada malu ya??? Hehehe, saya maklum kok, saya juga rada-rada malu (baca: kenapa tanya??? Hayoooo)...

http://kesundutkorekapi.blogspot.com/2010/04/kanker-serviks.html
Kanker servics itu harus segera diperiksa karena siapa tahu kita mempunyai gejala-gejala yang dapat memperparah kanker servics ini. Mungkin ada beberapa alasan menurut pernyataan dr. Sigit Pribadi, Sp.Og, yang dapat mempengaruhi timbulnya kanker servics:
  • 1.      Paradigma yang salah

Ini merupakan faktor yang paling utama yang dapat menimbulkan atau memperparah adanya kanker servics. Dokter sigit menyatakan bahwa, “terkadang para wanita sangat mengganggap remeh hal-hal yang sebenarnya itu merupakan gejala atau tanda-tanda adanya kanker servics”. Para wanita kebanyakan malah takut jika memeriksakan diri nya, kalau-kalau mereka terkena kanker servics. Mereka banyak memikirkan pertimbangan yang kurang penting. Jika diperiksa, mereka malah takut seandainya di fonis terkena kanker servics. Padahal, deteksi dini atau pencegahan lebih awal itu dapat mengurangi resiko terkena kanker servics. Salahnya paradigma inilah yang dapat memperparah adanya kanker servics.
  • 2.      Kekurangan informasi

Kanker servics dapat menyerang siapa saja, wanita maksud saya (baca: ngawur tenan iki). Wanita yang jarang mendapatkan informasi atau pengetahuan tentang kanker servics merupakan alasan yang paling sering di utarakan olah para kaum wanita di jagad raya ini. Saya juga tidak tau, apakah ini kelemahan para tim medis / tim kesehatan masyarakat untuk memberikan dan mempromosikan ilmu tentang kanker servics ini ataukah malah para masyarakat terutama para wanita yang malas dan tidak mau tau tentang faktor resiko kanker servics ini.
  • 3.      Pengecekan secara rutin

Kurangnya pengecekan atau inisiatif terhadap pencegahan kanker servics ini dapat mempengaruhi ada tidaknya kanker servics. Dengan pengecekan secara rutin, hal ini dapat mengurangi faktor resiko sekalian dengan mencari info-info seputar kanker servics dengan berkosultasi secara langsung ataupun tidak langsung. Pengecekan dapat dilakukan mulai umur 10 tahun hingga 55 tahun, agar dapat memastikan ada tidaknya kanker servics ini. Pada wanita yang telah berkaluarga, hal ikni sangatlah dianjurkan, karena faktor resiko terkena kanker servics pada wanita yang telah melakukan hubungan suami istri ini sangatlah besar sekali dan dengan hubungan intim inilah yang dapat memnularkan adanya virus penyebab kanker servics ini.

http://www.andriwiyasa.com/2011/02/penyebab-kanker-serviks-tanda-tanda.html

Ada beberapa pertanyaan yang masuk dan ditampung lewat via SMS hari itu, terdiri dari pertanyaan serta jawaban singkat dari dr. Sigit, yaitu:

  • 1.      Wanita yang menstruasi lancar tiap bulan dan berlangsung normal. Wanita yang haidnya lancar, apakah akan terkena kanker servics?

·         Tidak ada hubungannya dengan haid. infeksi HPP (maap ya? Saya kurang jelas saat mendengarkan apa kepanjangan dari virus HPP ini) dapat dilakukan pencegahan dengan vaksin. Tes papsmir (ini saya kurang tau tulisannya apa, maap ya?) dapat dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya kanker servics.
  • 2.       Bagaimana cara papsmir?

·         Suntik atau melihat servics dan diberi asam cuka (ini juga kurang jelas maksudnya apa) untuk memastikan nya.
  • 3.       Dimana tempat cek kanker servics?

·         Di semua tempat balai pengobatan, dapat ditanyakan.
  • 4.       Apakah kanker serviscs dapat menyerang wanita yang belum nikah?

·         Biasanya kanker servics terkena pada orang yang telah berhubungan seksual. Bagi yang belum melakukan hubungan seksual, tidak perlu melakukan cek, tapi hanya di anjurkan saja.
  • 5.       Apakah dapat sembuh total?

·         Stadium 0, dapat sembuh total. Stadium 1, dapat sembuh 80-90%. Jika besar lesi (kanker pada servics) < 2 cm, masih dapat hamil dan dapat diambil servicsnya sedikit (sekitar 1 cm servics). Jika telah diambil, 50% dapat sembuh dan 50% dapat timbul lagi.
  • 6.       Kapankah dilaksanakan vaksin servics?

·         10-55 tahun dapat melaksanakan vaksin, baik yang telah menikah ataupun belum.  untuk 3 x dalam 6 bulan dapat di vaksin untuk anak2 seperti imunisasi biasanya. Deteksi dini pada 1 tahun sekali.


  • 7.       Gejala kanker servics?
·         Dini: tidak ada gejala. Lanjut: banyak terdapat keputihan. Lebih lanjut: terasa sangat nyeri buang air besar dan air kecil.
  • 8.       Mengapa setelah diangkat servicsnya, ada yang sembuh total dan bisa menderita lagi?

·         Sel yang mati suri, inilah yang menyebabkan timbul kembali kanker serviks.
  • 9.      Dengan siapakah dapat dilakukan vaksin dan kalau belum terkena kanker servics dilakukan pencegahan separti apa?

·         Vaksin dapat dilakukan pada dokter umur. Sevics normal dapat di suntik dahulu untuk pencegahannya.
  • 10.   Bagaimana dengan keputihan sejak remaja?

·         Keputihan selama gadis itu nggak ada hubungannya. Sebab itu adalah normal dan dapat dideteksi dengan suntik vaksin atau kalau sudah nggak gadis lagi, dapat di berikan asam cuka yang dicairnya.

O, ya teman-teman, ada berita bagus nih... Pada tanggal 28 April 2011 dapat malekukan konsultasi dengan dokter ahlinya di IPKASI (g tau tulisannya) dengan website www.kankerserviks.com , dan dapat bergabung di semua profesi. G ada kantornya lhoooo, hanya lewat website ya? Makasih...

Wednesday, April 20, 2011

Obat = Bahan Kimia

Pernahkah kamu mengkonsumsi obat-obatan dari Rumah Sakit atau resep dokter? Barangkali hampir semua dari kita pernah mengkonsumsinya. Baik yag diresepkan oleh dokter, ataupun yang kita beli secara eceran sendiri. Tetapi, ada sebagian dari kita yang sangat skeptis terhadap obat-obatan itu, dengan alasan banyaknya terdapat bahan kimia. Kalimat ini sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari:

"Ah, buat apa berobat ke dokter? Toh ujung-ujungnya cuma buat dapat resep. Isi resepnya obat kimia pula. Saya kan anti banget sama obat-obatan seperti itu"

"Hati-hati lho kalo terlalu sering mengkonsumsi obat-obatan, baik yang diracik maupun yang sudah tersedia. Banyak bahan kimianya. Mending yang herbal aja... Aman"

"Lebih baik berobat di pengobatan tradisional, selain murah, obat-obatannya alami (herbal) semua, nggak pake bahan kimia"

Jadi, mari kita telusuri lagi. Benarkah obat-obatan herbal itu aman dan tanpa bahan kimia?

Pengertian bahan kimia, menurut kamus saya sendiri, adalah segala sesuatu yang mengandung unsur tertentu. Baik itu masih yang alami, maupun olahan. Disangkutpautkan dengan obat herbal dan jenerik tadi, benarkah kamu yakin herbal itu tidak mengandung bahan kimia? Kalau iya, kamu kurang tepat. Segala sesuatu di bumi ini terdiri dari unsur kimiawi, termasuk obat herbal tersebut. Nah, lantas apa dong bedanya obat herbal dan jenerik? Salah satunya adalah cara dan panjangnya proses pengolahan.

Kebanyakan obat herbal diolah dengan proses yang sederhana. Misalnya satu macam tumbuhan yang dipercayai bermanfaat, diambil intisari atau unsur intinya untuk selanjutnya diolah menjadi obat. Seperti yang sering kita jumpai di toko-toko Islam atau pasar ada kurma, kurma madu, habbatussauda, jintan hitam, zaitun, dll. Itu semua adalah obat herbal, aman dikonsumsi tanpa resep dokter, tapi tetap mangandung bahan kimia.

Selanjutnya obat jenerik yang sudah pasti juga mengandung bahan kimia. Tapi, benarkah seperti yang kebanyakan kita pikir bahwa itu tidak aman? Pendapat simpel saya, jika obat jenerik atau sebangsanya itu tidak aman dikonsumsi, bagaimana mungkin hampir semua dokter memberi resep obat tersebut. Jurusan farmasi atau profesi apoteker semakin mengembangkan penelitian terhadap suatu obat.

Jadi, sebenarnya obat-obatan atau apalah namanya, itu merupakan obat yang terbuat dari bahan kimia tapi yang membedakan adalah bahan kimia yang dipakai. Kalau bahannya memang merusak fungsi atau anatomis tubuh, ya itu artinya obat tersebut tidak aman digunakan. So, bukan berarti obat dari bahan-bahan herbal itu bebas dari bahan kimiawi. 

Sunday, April 3, 2011

:( Bingung dengan profesi sendiri :(

Apa rasa nya...
Kalo ci udah jadi dokter di nanti???
Banyak yang bilang kalo dokter itu banyak pendiam-pendiam, nggak komunikatif, nggak enak, nggak tanya secara dalam...
Itu pun aku yang merasakan nya sendiri, sewaktu ditangani oleh dokter...
Padahal sewaktu aku merasakan atau menjalani pembelajaran di kedokteran, semuanya telah di pelajari dan di ajarkan. Tapi kok real nya beda ya???
Kali ini saya ingin menyampaikan argumen saya tentang profesi yang sedang saya jalani... Sebenarnya inilah alasan saya ingin membuat blog, yaitu ingin berbagi pengalaman dan ilmu yang sudah saya alami dan saya dapatkan. Saya juga ingin menyampaikan realita-realita yang ada di sekitar kita semua (terutama yang pernah saya lihat). Tentang apapun...

Kakak saya yang baru beberapa hari yang lalu datang ke Jogja untuk membantu saya dalam menghadapi ujian blok 4 karena beberapa minggu terakhir ini saya sering mengalami pusing mendadak dan terkadang sampai muntah. Hahaha, maklumlah orang baru masuk kuliah, aneh-aneh aja penyakitnya. Hari itu (sekitar akhir maret), di saat masih pertengahan hari-hari ujian, gusi kakak saya sakit dan kami segera memeriksa di salah satu rumah sakit Jogja.

Nah, ini bukan yang pertama kali nya saya mengunjungi rumah sakit itu. Penampakan dan suasana yang terlihat sama saja di hari pertama saya berobat kesana sebelumnya. Ya... Tentu nya seperti suasana kebanyakan rumah sakit yang ada di daerah kita masing-masing. Di lingkungan sekitar rumah sakit umum itu biasanya sangat ramai, tidak seperti rumah sakit spesialis yang sangat tertata dengan rapi dan tidak seramai rumah sakit umum.

Sewaktu kakak mengisi data untuk pendaftaran, saya melihat di sekeliling halaman rumah sakit umum itu sangat padat dan saya tidak mengerti, kenapa banyak sekali motor dan mobil yang diparkirkan di depan nya (rumah sakit umum). Saya bertanya-tanya “apakah yang banyak ini pasien atau petugas di rumah sakit umum ini?”. Ntah lah, apapun dan siapapun itu sebenarnya tidak penting sekali dalam cerita saya kali ini.

Setelah kakak mengisi data dan mendaftarkan dirinya, dia menyerahkan kepada petugas yang menangani bagian pendaftaran. Petugas itu sangat lemas, lesu, dan letih serta terlihat agak garang (ggrrrrr). Tidak jelas apa yang ia katakan. Huft... Lagi-lagi ada sesuatu yang aneh di pandangan kami berdua, “ni petugas kenapa ya?”. “Ah... biarkan saja lah”, kami mengacuhkan mereka. Kami menunggu giliran untuk di panggil di tempat duduk antrian yang tidak terlalu jelas, itu tempat duduk ngantri atau tempat duduk di teras rumah sakit itu.

Kakak hanya diperiksa di ruang UGD dan saat nama kakak dipanggil, ia langsung duduk di depan meja dokter yang akan memeriksanya. Sewaktu itu, saya melihat dokter itu  hanya menanyakan sedikit pertanyaan (1-3 pertanyaan) dan langsung mengatakan, tolong diperiksa ke dokter gigi saja. Kakak diberikan obat anti nyeri dan anti radang untuk sementara waktu.

Saya sangat tidak puas dengan pelayanan dokter tersebut, ntah kenapa... Yang pastinya sudah banyak dokter-dokter yang saya datangi, kebanyakan dari mereka tidak menanyakan (anamnesis) secara detail dan rinci. Saya juga tidak tau, apakah kalau sudah menjadi dokter itu, semua dokter akan bersikap seperti itu?. Saya juga belum tau karena belum pengalaman. Tapi saya pernah berobat ke salah satu rumah sakit umum  yang ada di surabaya, disana saya ditanyakan (anamnesis) secara detail dan juga dilakukan pemeriksaan fisik serta dokter juga menyarankan dan antusias terhadap semua pasien yang ada. Jadi saya pun merasa puas dengan pelayanan yang ada.

Saya sebagai mahasiswa kedokteran yang masih pemula (awalan), masih bingung terhadap perlakuan yang diberikan oleh kebanyakan dokter yang berbeda-beda terhadap pasiennya. Saya bukan bermaksud untuk mengucilkan suatu rumah sakit atau sok-sok mengerti dengan itu semua. Tapi saya hanya ingin menyatakannya, karena sebagai mahasiswa kedokteran, kadang saya dapat belajar dari pengalaman-pengalaman yang saya alami secara langsung apalagi di rumah sakit umum karena, pastinya saya insyaallah akan mengalami hal yang serupa di kemudian hari. Jadi bagaimana jika kebanyakan mahasiswa kedokteran akan belajar dari dokter yang sangat sudah mahir dan berpengalaman kalau pelayanan dokter yang sudah paten ini sangat tidak memuaskan pasiennya.

Disini saya bukan menyalahkan profesi dokter, tapi bagaimana dengan yang dulu nya telah di pelajari semasa kuliah dan coas. Dari yang telah saya pelajari selama ini sangat berbeda realitanya sewaktu telah di rumah sakit atau tempat kerja masing-masing dokter. Oleh karena itu saya jadi bingung dan tidak tau mau bilang apa jika ditanyakan oleh teman-teman saya tentang “dokter tu emang seperti itu ya ci? Pelayanannya memang sperti itu ya? Dulu yang di pelajari juga seperti tu ya?”. Nah, kapok saya mau jawab apa. Karena pap yang telah saya pelajari dengan kenyataannya itu terdapat perbedaan yang signifikan. Tapi juga harus diingat lagi, tidak semua dokter yang bersikap seperti itu, hanya kebanyakan nya saja.

Kebanyakan yang saya lihat, dengar, dan saya alami ini juga dirasakan oleh kebanyakan keluarga dan teman-teman saya. Saya tidak menjelek-jelekkan profesi dokter dari tadi karena menjadi dokter dan jadi apapun itu menurut saya sangat mulia jika dapat menyelaraskan segala hal-hal yang membuat pekerjaan kita menjadi berguna dan bermanfaat bagi orang lain.

Jadi sebenarnya disini saya hanya sedikit (karena masih banyak lagi) memaparkan apa-apa yang saya alami, semoga jika kita telah bekerja sekarang atau nantinya, jadi apapun kita, kita (terutama bagi saya sendiri khususnya) dapat menjadi orang yang berguna bagi kehidupan di dunia ini. So, just keep our reputation with sportifity and honestly... Maap kalo saya banyak kesalahan dan mohon masukan serta kritik saran nya.

Saturday, April 2, 2011

Unpredictable Game

Once upon a time, in a far far away village. There is a couple of old man and ald woman named Ndut and Ndek. They live happily in a small house and they have one game. They play it everytime and everywhere. This is a very simple game. Can you guess what’s the game? ... it’s called “SHMILY”. Just like hide-and-seek game. They write “shmily” anywhere they want, of course in unpredictable spaces, like on their bathroom door, even on the frying pan’s bottom. They have been playing the game since the first of their marriage.



Once Ndut (old man) writes “shmily” on the mirror, when Ndek (old woman) finds it, she will smile and suddenly feels happy. They keep doing this game for years and years until one day, Ndek (old woman) passed away. She leaves Ndut (old man) alone. Before Ndek’s body is burried, Ndut writes “shmily” at her coffin. He writes his last “smily” for his wife and says “I will always love you”. Anyone knows why “shmily” is so important in this story? Anybody?...

Because “shmily” stands for “see how much I love you”. Yes!!! The word that keep them together for their whole life. 

I just wanna tell that there is undying love that the time can’t change. Like the old man’s love to his wife. It’s a simple love but it lasted a life time. I think we have someone or some people like our family, father, mother, brother, sister, etc who can give us support and love in our life. So, just keep that love although it is just a very simple love... 


Source: unknown
Translated by: my lovely sister

Friday, April 1, 2011

Telapak tangan = ? (Pertanyaan yang tak pernah terjawab)

Kali ini saya akan bercerita masalah keajaiban (baca: keanehan) yang ada pada telapak tangan saya. Mungkin sebagian orang tidak menganggap ini penting tapi bagi saya, ini merupakan sejarah yang tidak mengasyikkan. Pernahkan kita bertanya-tanya pada diri kita jika ada sesuatu yang aneh pada diri kita yang itu tidak ada pada diri orang sekitar kita??? Huft... sebenarnya bukan aneh sih ya (lebay)... tapi “berbeda” dengan kebanyakan orang. Nah, pasti kita akan banyak mencari tau apakah ini normal untuk manusia seperti kita? Ataukah ini memang mungkin suatu keajaiban yang ada pada kita? Hahahaha... Mungkin saya akan berbagi cerita tentang keajaiban/keanehan/perbedaan/kenormalan (what ever lah...) pada telapak tangan saya ini.

Tangan kiri saya
Saya mengetahui adanya perbedaan garis-garis pada telapak tangan saya ini sejak beberapa tahun yang lalu, kalau tidak salah sekitar saya duduk di kelas 1 DMP (Diniyyah Menengah Pertama) atau disetarakan dengan MTs (Madrasah Tsanawiyah) atau disetarakan juga dengan SMP (Sekolah Menengah Pertama). Saat itu saya tinggal di asrama pondok pesantren bersama dengan teman-teman dan guru-guru. Kebiasaan kami setelah shalat di mesjid asrama adalah bersalaman dengan teman, kakak kelas, adek kelas, dan guru yang ada disekitar kami.

Tangan kanan saya
 Waktu itu saya duduk di sekitar teman-teman saya, lalu kami bersalaman satu sama lain dan mengobrol sebentar. Di saat itu, saya melihat telapak tangan teman-teman saya yang sedang bercerita (entah apa, saya tidak dengar mereka) satu per satu. Nah, saya lihat telapak mereka antara teman saya yang satu dengan yang lainnya, sambil memotong pembicaraan mereka:
“Kok garis-garis ditangan kalian mirip-mirip ya? Bahkan sama...”
Saya kebingungan sendiri dan bertanya lagi pada mereka:
            “Lihat ni teman-teman! Garis di telapak tangan aku beda sendiri ya?”
Lalu beberapa teman menjawab sambil melihat telapak tangan saya:
            “Iya ya, kok telapak tangan mu beda ya garis-garis nya sama kami?”
Pertanyaan itu belum juga dapat terjawab saat itu juga. Kalau ada yang mengalami hal serupa seperti saya, pasti akan mencari tau, kenapa kok beda sendiri? Ya nggak?

        Hari itu adalah hari kami (anak ponpes modern Diniyyah Puteri) untuk pulkam (pulang kampung) ke rumah/daerah masing-masing. Saya membawa 1 PR tambahan selain dari PR yang diberikan oleh guru-guru di kelas dan di asrama, yaitu ingin bertanya kepada keluarga terutama orang tua saya. Siapa tau ini memang keturunan atau ada suatu kejadian yang membuat garis-garis ditangan saya (maklum orang awam yang mau tanya hal yang nggak penting banget, hahaha) berbeda dengan semua teman di asrama saya.

Telapak kiri yang banyak saya lihat
Telapak kanan yang banyak saya lihat
           Saya sempat melihat-lihat dan bertanya kepada kedua orang tua saya tentang garis telapak tangan saya ini. Sepertinya ini sangat tidak penting untuk dibahas, tapi alangkah penasarannya saya sewaktu itu. Saya lihat kedua telapak tangan orang tua saya pun juga sama dengan telapak tangan teman-teman saya. Saya berkata di dalam hati:
            “Aduuuuuh, gawat ni... Jangan-jangan saya ini bukan anak dari orang tua saya...”
Saya tanya pada ibuk dan ayah:
            “Yah, buk... Kok beda ya garis yang ada di telapak tangan kita ni?”
            “Ci anak ibuk dan ayah kan?”
            “Ci emang anak kandung ibuk sama ayah kan?”
Eh... Ayah sama ibuk Cuma tersenyum (mungkin lucu lihat saya tanyain itu). Jadi saya pun semakin ragu dengan status orang tua saya. Awalnya beda sama teman-teman, terus beda juga sama orang tua saya (binggung nggak sih?).

            Pertanyaan itu belum juga terjawab. Sewaktu saya pulang lagi ke pondok, awalnya pertama-tama masuk asrama dari liburan ada siraman rohani gitu (baca: ceramah). Saat itu disangkut lah masalah asmaul husna (nama-nama Allah) yang jumlah nya ada 99 nama baik Allah. Nah, ustadzah (guru perempuan dalam bahasa arab) saya juga mengakatakan:
“Anak-anak umi (ibu), sebenarnya tanda-tanda adanya asmaul husna (nama-nama Allah) itu juga ada di telapak tangan kita”
“Coba ananda lihat betapa Maha Besar Allah yang menciptakannya (telapak tangan)”
“Coba kalian baca angka yang ada pada garis telapak tangan kalian!”
“Adakah sesuatu yang menyangkut dengan pembicaraan kita hari ini?”
Salah satu dari murid pun menjawab:
            “Ada umi (ibu)... Dari garis yang ada di telapak tangan kita ini, dapat dibaca angka-angka. Angka arab yang ada di kedua telapak tangan itu terdiri dari ^l (baca: 81) dan l^ (baca: 18). Nah, kan kalo di jumlah kan jadi 99 (81+18=99), berarti itu lah salah satu tandanya...”

            Saya sebenarnya kurang setuju dengan pendapat umi tersebut yang sepertinya terlalu mengaitkan hal tersebut dengan Allah. Walaupun saya tidak tau maksud umi itu benar atau tidak, tapi saya bertanya lagi sama diri saya:
“Kalau seperti ini, lengkap lah penderitaan ku...”
“Berarti aku adalah orang yang nggak dikehendaki oleh Allah untuk dituliskan nama-nama Nya,,,”
“Huft... Tapi kan itu berdasarkan pendapat umi (ibu) nya aja (ada sedikit kelegaan) ”
“Pokoknya cici jangan bingung! Apa pun itu yang ada pada tubuh cici, itu adalah kehendak Allah (ya nggak?)”

Nah, menurut saya sih, saya (dan kita) seharusnya tidak boleh minder atau malu jika ada perbedaan dengan orang lain. Karena siapa yang tau kalau itu mungkin Allah ciptakan agar kita dapat mengoreksi diri kita masing-masing (terutama untuk saya sendiri). Dan mungkin saja itu merupakan kelebihan yang kita miliki. Intinya, marilah kita sama-sama memperbaiki semua pendapat kita (terutama saya) yang selalu menyalahkan Allah itu tidak adil dan sebagainya.

NB: Tapi sebenarnya saya masih sangat penasaran ni teman-teman... kalau teman-teman ada yang tau ini apa atau emang ada tipe-tipe telapak tangan yang beda, mohon masukan dan ilmu nya ya teman-teman...