Tuesday, March 29, 2011

Obesitas

google image
Menurut dr. Ekky M. Rahardja SpGk, Berjalan santai selama 20 menit ternyata hanya membakar gula tubuh. Lemak berlebihan penderita obesitas baru terbakar bila jalan kaki di atas 30 menit. Berjalan lebih cepat atau berlari pun sia-sia karena tubuh membakar protein. Lemak yang menumpuk pun tetap menempel di tubuh penderita obesitas.

Olahraga berat dalam waktu lama membakar lemak sekaligus otot. Akibatnya terbentuk rongga dalam otot seiring penurunan bobot badan. Saat tubuh mendapat asupan makanan berlebihan, maka rongga dalam otot terisi lemak. “Bobot tubuh mudah untuk naik karena pembentukan otot jauh lebih sulit ketimbang pembentukan lemak,” kata dr. Samuel Oetoro MS. SpGK, ahli gizi di Jakarta.


google image
Source: Majalah MY Healthy Life


Jadi, bagi yang BMI (body mass index) nya sudah menunjukkan overweight ato bahkan obes, olahraga sih boleh aja. Asalkan jangan diporsir, karena malah ngancurin protein yang ada dalam tubuh kita. Rugi deh. Padahal mustinya si lemak yang hancur, malah zat makromolekul yang lain yang kebuang.


Intinya, olahraga itu memang mudah, tapi yang susah itu "istiqomah" alias teraturnya. Biarlah sebentar/sedikit, asalkan rutin :D

Kinds of Cooking Oils

Minyak Sawit (Vegetable Oil)
Riset Hasyim MA dari Malaysian Palm Oil Board mengungkapkan minyak kelapa sawit mengandung karoten dan tokotrienol alias komponen vitamin E. Minyak kelapa sawit berwarna kuning tua dan dapat diolah menjadi margarin. Kadar karoten minyak kelapa sawit mencapai 550 µg/g merupakan senyawa antiradikal bebas dan mampu meningkatkan kekebalan tubuh. Sekitar 68% karoten adalah betakaroten yang mempengaruhi kesehatan mata. Sedangkan tokotrienol (468 ng/liter) bersifat antikanker terutama kanker kulit dan kanker payudara.


Minyak Zaitun (Olive Oil)
Riset Prof. Apostolos Kiritsakis dari Institut Thessanoliki, Yunani. Konsumsi dua potong roti plus satu sendok minyak zaitun setiap pagi mengurangi laju penumpukan LDL dan pencegah kanker. Minyak ini berwarna kuning dan hijau. Asam oleat dalam zaitun menghambat kerja gen HER-2/neu, biang kerok kanker. Itu ditemukan pada 30% penderita kanker payudara. Selain itu, minyak zaitun mengandung 2500-9250 mikrogram tokoferol atau provitamin E per gram atau 10 kali lipat ketimbang minyak lain. Itulah sebabnya konsumsi minyak zaitun memberikan efek umur lebih panjang.

Minyak Wijen (Sesame Oil)
Minyak wijen diolah dari buah wijen Sesamum Indicum yang berbentuk mirip kapsul mengandung 48,13% minyak, 14,05% karbohidrat, dan 22,50% albumin. Untuk mengetes mutun biji wijen, produsen mengambil sejumput lalu mengunyahnya. Jika terasa gurih berarti biji masih bagus da sebaliknya bila tengik atau pahit berarti biji busuk. Minyak tanaman anggota famili Pedaliaceae itu beraroma sangat harum dan gurih sehingga menambah citarasa dan kualitas masakan. Rasa berubah pahit jika penggunaannya berbelebihan. Minyak wijen ini berwarna kuning kecoklatan dengan aroma yang khas. Oleh karena itu, cukup gunakan beberapa tetes minyak wijen.

Minyak VCO (VCO Oil/Coconut Oil)
Karena berantai sedang, ketika VCO diserap tubuh tidak memerlukan energi yang tinggi. Asam kapriat  dalam VCO membantuk monocaprin pada tubuh manusia yang terbukti antivirus. Menurut guru besar Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof. Dr. Waluyo Soerdjodibroto minyak kelapa mengandung asam lemak jenuh lebih tinggi, 92%. Hasil proses pencernaan dan metabolismenya berupa energi tinggi.

Minyak Jagung (Corn Oil)
Dikenal sebagai minyak kesehatan, karena mengandung kadar kolesterol yang rendah. Dibuat dari biji jagung yang diproses menjadi minyak. Warnanya kuning tua dan bersifat kental serta dapat menggantikan minyak goreng.









Minyak Selada (Salad Oil)
Terbuat dari kacang-kacangan yang diproses menjadi minyak. Minyak selada digunakan dalam pembuatan mayonais atau campuran salad mempunyai warna bening dan tidak beraroma.

















Sumber:
http://arrastore.wordpress.com/2008/09/09/mengenal-ragam-minyak-dapur/
Majalah “My Healthy Life: Sehat dari Meja Makan”